Tag Archive for: minum obat

Ini Penyebab Kenapa Obat Tidak Boleh Diminum dengan Pisang

Ini Penyebab Kenapa Obat Tidak Boleh Diminum dengan Pisang

Akurasi.id – Saat mengonsumsi obat, beberapa orang biasa menggunakan pisang untuk mempermudah menelan obat. Faktanya, pisang tidak disarankan untuk dikonsumsi dengan obat-obatan, lo!

Mengapa demikian? Untuk tahu jawabannya, yuk, simak penjelasannya di bawah ini kenapa obat tidak boleh diminum dengan pisang!

  1. Mengonsumsi buah-buahan

Mengonsumsi buah menjadi salah satu pola hidup sehat yang baik untuk kesehatan. Namun, buah-buahan tertentu tidak disarankan digunakan bersamaan dengan beberapa obat-obatan.

Hal tersebut disebabkan adanya interaksi obat dan makanan yang dapat mengganggu kerja obat. Beberapa makanan harus dihindari ketika menggunakan obat karena menimbulkan interaksi obat, menurut laporan berjudul “Food and Drug Interactions” dalam Journal of Lifestyle Medicine tahun 2017.

Jadi, untuk mengetahui apakah obat yang kamu minum mengalami interaksi dengan beberapa makanan atau obat tertentu, jangan ragu untuk bertanya kepada apoteker.

  1. Pisang

Beberapa orang menggunakan pisang bersama dengan obat untuk memudahkan ketika menelan obat. Namun, penting untuk menghindari menggunakan pisang bersama obat-obatan karena pisang mengandung mineral yang dapat berinteraksi dengan obat.

Dijelaskan pada laman GoodRx, pisang merupakan buah yang tinggi potasium atau kalium. Potasium bermanfaat dalam menjalankan fungsi sel otot jantung dan menjaga jantung tetap berdetak. Selain itu, potasium juga berperan dalam menjalankan fungsi normal saraf dan menjaga kesehatan otot.

  1. Obat yang berinteraksi dengan pisang

Beberapa obat, seperti golongan angiotensin II receptor blockers (ARB) dan angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors, yang digunakan sebagai obat penurun tekanan darah meningkatkan kadar potasium dalam tubuh. Selain obat tersebut, ibuprofen dan naproxen juga diketahui dapat meningkatkan kadar potasium dalam tubuh.

Dilansir Cleveland Clinic, jika menggunakan obat golongan ACE inhibitor atau ARB, dokter biasanya akan melakukan pengecekan kadar potasium secara berkala. Selain itu, saat menggunakan obat tersebut juga disarankan menghindari makanan yang mengandung potasium, seperti pisang, jus jeruk, dan pengganti garam yang mengandung potasium.

  1. Interaksi obat dengan pisang

Beberapa obat tertentu mempunyai efek meningkatkan kadar potasium, jika digunakan bersama dengan pisang yang juga mengandung potasium, maka kadar potasium dalam tubuh akan makin tinggi.

Kadar potasium yang terlalu tinggi menyebabkan detak jantung menjadi tak beraturan, bahkan kemampuan jantung dalam berdetak menjadi menurun atau yang disebut dengan gagal jantung, seperti dijelaskan pada Journal of Lifestyle Medicine.

Jika mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada, detak jantung tak beraturan, bingung, atau kelemahan otot, segera konsultasikan ke dokter, mengutip WebMD.

Selain pisang, hindari juga mengonsumsi obat bersama buah dengan kandungan potasium tinggi lainnya seperti jeruk.

  1. Yang harus dilakukan

Penting untuk mengetahui obat dan makanan yang tidak boleh digunakan bersama dengan obat yang hendak diminum agar tidak berinteraksi. Untuk mencegah timbulnya interaksi obat, maka hindari penggunaan pisang bersamaan dengan obat.

Adanya senyawa yang terdapat dalam pisang dapat berinteraksi dengan obat yang diminum. Maka, konsumsi obat disarankan menggunakan segelas air putih agar efek obat optimal dan tidak membahayakan tubuh.

Beberapa obat seperti obat penurun tekanan darah, obat anti radang, dan lainnya dapat berinteraksi dengan pisang menyebabkan kadar potasium makin tinggi. Kadar potasium yang terlalu tinggi dalam tubuh akan menimbulkan aritmia jantung atau detak jantung yang tidak beraturan. Jika kamu biasa menelan obat dan diminum dengan pisang, yuk, mulai ubah, biasakan menggunakan air putih agar tidak terjadi interaksi obat. (*)

Sumber: Idntimes.com

Editor: Redaksi Akurasi.id

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

Banyak orang masih salah kaprah saat mengonsumsi antibiotik. (Istockphoto/ Ayo888)

Akurasi.id, Bontang — Bagi sebagian orang, antibiotik adalah obat mujarab yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Banyak orang masih salah kaprah saat mengonsumsi antibiotik.

Padahal, penggunaan antibiotik harus ekstra hati-hati agar tak terjadi resistensi obat. Resistensi obat bisa menyebabkan penyakit semakin parah, bahkan sulit disembuhkan karena tak mempan dengan penggunaan antibiotik.

Maka dari itu, pemberian antibiotik tak bisa sembarangan dan harus sesuai dengan resep dokter. Minum antibiotik juga tak bisa sesuka hati.

Berikut beberapa kebiasaan salah minum antibiotik yang sebaiknya dihindari. Dilansir dari cnnindonesia.com, Rabu (16/06/2021)

  1. Tidak berkomunikasi dengan dokter

Banyak antibiotik yang bisa dengan mudah didapat di apotek tanpa resep dokter. Padahal, konsumsi antibiotik harus sesuai petunjuk dokter.

Antibiotik adalah obat yang ditujukan hanya untuk mengatasi atau mencegah infeksi penyakit akibat bakteri. Sementara penyakit bisa disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur.

Dibutuhkan perawatan medis dan diagnosis dokter untuk memastikan penyebab penyakit. Oleh sebab itu, antibiotik tak bisa diresepkan sendiri. Jika keliru, penyakit Anda mungkin tak bakal sembuh dan justru memburuk.

“Dalam penggunaan antibiotik ini perlu ada dengan resep dokter karena ini adalah wewenang seorang dokter,” kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi RSUD Dr. Soetomo, Erwin Astha Triyono dalam diskusi virtual bersama Pfizer, Kamis (10/6).

  1. Menyimpan sisa antibiotik

Biasanya antibiotik diresepkan untuk dikonsumsi selama 3-5 hari, bergantung pada keparahan dan jenis penyakit. Namun, terkadang seseorang sudah merasa sembuh dan sehat hanya dalam dua hari setelah minum antibiotik.

Alhasil, antibiotik tidak dihabiskan dan disimpan untuk ‘jaga-jaga’ kalau kembali terkena penyakit yang serupa.

Kebiasaan ini jelas salah karena antibiotik harus dihabiskan meski Anda sudah merasa lebih baik, atau bahkan sudah sembuh.

“Kalau dapat antibiotik dari dokter, maka dokter sudah ‘menghitung’ penyakit ini, dokter sudah meresepkan antibiotik dalam jumlah cukup sehingga bakterinya mati. Makanya harus diminum dalam jumlah tuntas, tidak boleh disimpan,” kata Medical Director Pfizer Indonesia, dokter Handoko Santoso.

  1. Mengobati sendiri

Handoko juga mengatakan, banyak orang Indonesia yang cenderung mengobati penyakitnya sendiri dengan antibiotik.

Terkadang, seseorang menyimpan nama merek antibiotik yang pernah diresepkan padanya ketika sakit berobat ke dokter. Kemudian, ketika sakit kembali dengan gejala serupa, ia mengonsumsi antibiotik yang sama dengan yang diresepkan.

“Jangan mengobati sendiri hanya karena gejala penyakitnya sama, terus pakai antibiotik yang sama. Kebiasaan seperti itu yang salah,” ucap Handoko.

  1. Minum antibiotik sembarang waktu

Obat antibiotik Anda mungkin diresepkan untuk diminum tiga kali sehari. Anda memang meminumnya tiga kali sehari, tapi tidak beraturan waktu. Kebiasaan keliru ini yang sering juga dijumpai di masyarakat.

Antibiotik idealnya diminum di waktu yang sama, tidak terlambat atau terlalu dini. Dokter biasanya meresepkan antibiotik diminum tiga kali sehari dengan selang waktu 6 jam.

Jika antibiotik diresepkan diminum setiap enam jam sekali, tiga kali sehari, maka atur jam minum obat Anda pada waktu yang sama setiap harinya. Misalnya minum pada pukul 9 pagi, 3 sore, dan pukul 9 malam. Ulang jadwal tersebut setiap harinya hingga antibiotik yang diresepkan habis.

Anda bisa memastikan pada dokter yang meresepkan antibiotik atau apoteker untuk memastikan selang waktu terbaik ketika minum obat.

  1. Diminum dengan susu

Ada beberapa antibiotik yang sebaiknya tidak diminum dengan susu. Kandungan dalam susu bisa jadi menghambat kerja antibiotik.

“Ada beberapa jenis antibiotik yang terhambat kerjanya kalau diminum dengan susu,” kata Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes, Imran Agus Nurali.

Imran mengatakan, beberapa makanan atau tindakan Anda bisa membantu kerja antibiotik agar maksimal. Misalnya, seperti minum antibiotik di saat perut kosong, atau di saat perut terisi. Minum langsung dengan air putih, atau dibuat bubuk dan dilarutkan.

Konsultasikan hal tersebut dengan dokter atau apoteker agar antibiotik bekerja optimal. (*)

Penulis/Editor: Yusva Alam