Tag Archive for: Kesehatan Mulut

Lidah Berwarna Putih? Cari Tahu Penyebab dan Cara Mengatasinya

Lidah Berwarna Putih? Begini Penyebab dan Mengatasinya

Akurasi.id – Saat bercermin dan membuka mulut, kamu mendapati permukaan lidah berwarna putih. Kerap bikin khawatir, tetapi kondisi lidah putih ini umumnya tidak berbahaya.

Lidah berwarna putih merujuk pada penutup atau lapisan berwarna putih di permukaan lidah. Bisa di seluruh permukaan lidah maupun bercak-bercak di beberapa bagian lidah. Biasa ini tidak perlu dikhawatirkan. Namun, pada kasus yang jarang, gejala ini bisa menandakan adanya kondisi yang lebih serius, misalnya infeksi atau tahap awal kanker.

Yuk, kenali kondisi lidah putih ini mulai dari penyebab, gejala yang perlu diperhatikan, hingga cara mengatasinya! Dilansir dari laman idntimes.com, Rabu (15/09/2021).

  1. Apa itu lidah putih?

Lidah putih adalah gejala umum ketika lidah dilapisi lapisan putih tebal. Lapisan ini bisa menutupi seluruh permukaan lidah, terdapat di bagian belakang lidah, atau muncul seperti bercak di beberapa bagian lidah. Kamu juga mungkin bisa merasakan rasa tak enak di mulut, bau mulut, atau kemerahan, mengutip Cleveland Clinic.

Kondisi ini kadang terjadi bersamaan dengan gejala yang terkait dengan kondisi lidah berambut (hairy tongue). Namun, lapisan tebal mirip bulu yang terlihat bukan rambut, melainkan papila, yakni benjolan kecil berisi ribuan sel pengecap serupa saraf yang menghubungkan saraf di lidah dengan reseptor di otak.

Lidah putih bisa menumpuk dari waktu ke waktu, atau bisa juga muncul tiba-tiba bila lidah mengalami iritasi atau infeksi. Penyebabnya ada banyak, tetapi lidah putih biasanya hilang dalam beberapa minggu. Menghilangkannya bisa juga dengan menggunakan obat kumur antijamur. Namun, bila lidah putih tak kunjung hilang setelah beberapa minggu, atau muncul gejala lain seperti rasa sakit, masalah makan, atau sulit berbicara, sebaiknya temui dokter.

Lidah putih mungkin merupakan gejala tunggal, atau bisa juga muncul dengan berbagai gejala lainnya.

Mengingat papila terangkat, mereka menciptakan area permukaan yang luas untuk puing-puing dan mikroorganisme (makanan, plak, dan bakteri) terkumpul di dalam mulut. Penumpukan ini hampir pasti menyebabkan bau mulut dan meninggalkan rasa tak enak di mulut. Lidah putih juga bisa menyebabkan kesehatan gusi yang buruk, seperti penyakit gusi.

  1. Apa penyebab lidah putih?

Lidah putih umumnya berhubungan dengan kebersihan mulut. Permukaan lidah juga bisa memutih saat papila yang melapisinya membengkak dan meradang.

Bakteri, jamur, kotoran, makanan, dan sel-sel mati semuanya bisa terperangkap di antara papila yang membesar. Kotoran yang terkumpul inilah yang mengubah lidah menjadi putih.

Dilansir Healthline, inilah beberapa kondisi yang dapat menyebabkan lidah putih:

  • Jarang menyikat gigi dan membersihkan gigi dengan benang gigi
  • Mulut kering
  • Bernapas melalui mulut
  • Dehidrasi
  • Banyak makanan makanan lunak
  • Iritasi, misalnya karena kontak atau gesekan dengan ujung tajam pada gigi atau instrumen gigi
  • Demam
  • Merokok atau mengunyah tembakau
  • Konsumsi minuman beralkohol

Ada pula kondisi kesehatan atau penyakit yang berhubungan dengan lidah putih, seperti:

  • Leukoplakia: kondisi ini menyebabkan bercak putih terbentuk di bagian dalam pipi, sepanjang gusi, dan kadang di lidah. Kondisi ini bisa terjadi bila kamu merokok atau mengunyah tembakau, atau akibat penggunaan alkohol berlebih. Bercak yang muncul biasanya tidak berbahaya. Namun, pada kasus yang jarang leukoplakia bisa berkembang menjadi kanker mulut.
  • Lichen planus oral: masalah pada sistem imun menyebabkan bercak putih terbentuk di mulut dan lidah. Gusi pun bisa terasa sakit dan mungkin terdapat luka di sepanjang lapisan dalam mulut.
  • Kandidiasis mulut: merupakan infeksi mulut akibat jamur Candida. Kondisi ini lebih mungkin terjadi pada orang dengan diabetes, memiliki sistem kekebalan yang lemah (misalnya karena HIV atau AIDS), kekurangan zat besi atau vitamin B, atau pemakai gigi palsu.
  • Sifilis: penyakit menular seksual ini dapat menyebabkan luka di mulut. Jika sifilis tidak diobati, bercak putih yang disebut leukoplakia sifilis ini dapat terbentuk di lidah.

Kondisi lainnya yang dapat menyebabkan lidah putih meliputi:

  • Lidah geografis, yaitu munculnya area yang tidak teratur, halus, dan berwarna merah di lidah, yang bentuknya menyerupai peta.
  • Obat-obatan seperti antibiotik yang dapat menyebabkan infeksi ragi di mulut.
  • Kanker mulut atau lidah.
  1. Siapa saja yang berisiko mengalami lidah putih?

Beberapa masalah kesehatan, zat, dan kebiasaan tertentu bisa membuat seseorang berisiko lebih tinggi mengalami lidah putih atau kandidiasis mulut. Faktor risiko tersebut termasuk:

  • Memiliki diabetes
  • Berusia sangat muda atau sangat tua. Kandidiasis mulut paling umum terjadi pada bayi dan balita
  • Penggunaan antibiotik
  • Jarang makan sayur dan buah (zat besi atau vitamin B12)
  • Banyak mengonsumsi makanan lunak
  • Demam atau memiliki sistem imun yang lemah
  • Penggunaan gigi palsu atau kontak terus-menerus antara lidah dengan objek tajam
  • Kebersihan mulut yang buruk
  • Bernapas lewat mulut
  • Dehidrasi atau mengalami mulut kering akibat kondisi medis atau penggunaan obat tertentu seperti relaksan otot
  • Merokok atau mengunyah tembakau
  • Minum lebih dari satu minuman beralkohol dalam sehari
  • Menjalani terapi kanker
  • Memiliki hipotiroidisme
  1. Kapan harus ke dokter?

Bila lidah putih cuma satu-satunya gejala, kamu tak perlu langsung menemui dokter. Namun, bila gejala tak kunjung hilang dalam dua minggu, baiknya buat janji temu dengan dokter.

Selain itu, segeralah periksakan diri ke dokter bila mengalami gejala-gejala berikut:

  • Lidah terasa sakit atau ada sensasi terbakar di lidah
  • Ada luka terbuka di mulut
  • Sulit mengunyah, menelan, atau berbicara
  • Terdapat gejala lainnya seperti demam, penurunan berat badan, atau ruam kulit
  1. Pengobatan lidah putih

Dilansir Medical News Today, lidah putih yang disebabkan oleh gangguan kesehatan tertentu mungkin membutuhkan pengobatan medis yang spesifik.

Sebagai contoh, kandidiasis mulut bisa diobati dengan obat-obatan antijamur, sementara lichen planus oral bisa ditangani dengan kortikosteroid bila parah. Leukoplakia mungkin butuh dipantau oleh dokter untuk memastikannya tidak memburuk. Pada orang dengan sifilis, dokter akan memberikan antibiotik penisilin untuk membunuh bakteri yang menyebabkan penyakit.

Selain itu, mengurangi paparan iritan, seperti alkohol dan tembakau, dapat mengatasi lidah putih.

Beberapa pengobatan rumahan juga bisa membantu mengatasi lidah putih. Kamu bisa mencoba pengobatan ini:

  • Probiotik. Walaupun kebanyakan studi tentang probiotik fokus pada peningkatan kesehatan usus, tetapi probiotik mungkin juga bisa membantu untuk mulut dan lidah. Ulasan ilmiah dalam jurnal European Journal of Dentistry tahun 2010 menemukan bahwa bakteri probiotik dapat menempati mulut dan usus. Pada beberapa kasus, bakteri ini dapat membantu melawan infeksi ragi dan strain bakteri jahat lainnya. Walaupun bukti ilmiahnya belum konklusif, tetapi probiotik mungkin tetap dapat membantu menyeimbangkan lingkungan di mulut dan mencegah lidah putih.
  • Menggosok lidah dengan baking soda. Menambahkan baking soda food-grade ke sikat gigi dan menggosok lidah, gigi, dan gusi dapat membantu mengurangi bakteri penyebab lidah putih. Studi dalam jurnal Quintessence International tahun 2011 menemukan bahwa baking soda dapat membunuh bakteri dan jamur berbahaya yang biasanya menyebabkan infeksi di mulut, seperti Streptococcus dan Candida.
  • Rutin membersihkan lidah dengan tongue scraper. Gosok lidah dengan lembut dari belakang ke depan secara rutin juga bisa membantu mengurangi dan menghilangkan bakteri dan kotoran yang mengendap di sana. Bila tidak ada tongue scraper, kamu bisa menggunakan ujung sendok.
  1. Cara mencegah lidah putih

Meskipun kita tidak selalu bisa mencegah lidah putih, tetapi memperhatikan kebersihan mulut bisa membantu mencegah banyak kasus. Inilah yang bisa kamu lakukan:

  • Menggosok gigi dengan sikat gigi berbulu halus
  • Menggunakan pasta gigi yang mengandung fluorida
  • Menyikat gigi setidaknya dua kali sehari
  • Menggunakan obat kumur yang mengandung fluorida bila perlu
  • Membersihkan gigi dengan benang gigi (flossing) setidaknya sekali sehari

Tips lainnya untuk mencegah lidah putih termasuk:

  • Kontrol rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali untuk checkup dan pembersihan
  • Hindari produk tembakau dan kurangi asupan alkohol
  • Perbanyak konsumsi sayur dan buah dalam pola makan harian

Menjaga kebersihan mulut sangat penting. Jadi, lakukanlah pemeriksaan gigi dan mulut secara rutin sebagai langkah deteksi dini bila ada masalah.

Lidah putih umumnya tidak berbahaya, tetapi sebaiknya pastikan dengan menemui dokter gigi jika mengalami masalah pada lidah, apalagi bila terasa sakit. Dengan begitu, dokter dapat menemukan risiko kesehatan secara dini dan mengobatinya sebelum memburuk. (*)

Editor: Yusva Alam

 

 

 

Bibir Gelap dan Kusam? Walaupun Tidak Merokok? Ini Penyebabnya

Bibir Gelap dan Kusam? Walaupun Tidak Merokok? Ini Penyebabnya

Akurasi.id – Merasa resah dengan bibir gelap dan kusam, padahal tidak merokok? Dilansir dari idntimes.com, Senin (13/09/2021), penggelapan bibir bisa terjadi akibat hiperpigmentasi, yaitu ketika tubuh berlebihan dalam memproduksi melanin (pigmen pemberi warna pada kulit, rambut, dan mata).

Ingin tahu lebih detail penyebab bibir gelap dan kusam? Adakah cara untuk mengatasinya? Check this out!

  1. Terpapar sinar matahari

Sinar matahari yang mengenai kulit dan bibir bisa memicu tubuh untuk memproduksi lebih banyak melanin. Mengutip Medical News Today, melanin melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar ultraviolet (UV). Alhasil, kulit dan bibir menggelap dan kusam.

Memangnya, apa bahaya sinar UV? Menurut keterangan dari American Cancer Society, sinar UV menyebabkan kulit terbakar, penuaan dini, keriput, solar elastosis (kondisi degeneratif jaringan elastis di dermis akibat paparan sinar matahari berkepanjangan), actinic keratosis (kulit kasar, menebal, dan bersisik karena terpapar sinar matahari dalam waktu yang lama), bahkan kanker!

Untuk mencegah kerusakan pada kulit dan bibir, dianjurkan memakai tabir surya dan lip balm dengan sun protection factor (SPF) 30 atau lebih tinggi. Jangan lupa dioleskan ulang tiap beberapa jam sekali, ya.

  1. Dehidrasi atau kekurangan cairan

Saat sedang sibuk, terkadang kita lupa untuk minum air. Padahal, dampak dehidrasi sangat banyak, salah satunya adalah bibir kering dan kusam, dikutip UPMC Health Beat.

“Dehidrasi terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup air dan elektrolit untuk menjalankan fungsi normalnya dan menjaga keseimbangan cairan,” ungkap Beth Ann Callihan Ricci, DO, dokter dari Erie, Pennsylvania.

Dilansir LECOM Health, berdasarkan tingkat keparahannya, dehidrasi dibagi menjadi tiga. Dehidrasi ringan menyebabkan haus, bibir kering dan kusam, mulut kering, kelelahan, sakit kepala, cepat marah, warna urine lebih gelap, penurunan jumlah urine, kulit memerah, hingga kelemahan otot.

Sementara itu, gejala dehidrasi sedang ialah mata cekung, kulit tidak kembali saat ditekan, kram, nyeri atau kaku sendi, sakit kepala berat, dan tidak mengeluarkan air mata saat menangis. Gejala dehidrasi berat ialah bibir biru, lesu, napas cepat, tekanan darah rendah, kebingungan, kencing sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali, demam tinggi, hingga pingsan.

Satu-satunya cara yang efektif untuk mengatasi dehidrasi adalah mengganti cairan yang hilang. Untuk pencegahan, pastikan untuk meminum cukup air. Dalam sehari, laki-laki dewasa membutuhkan sekitar 3,7 liter air dan perempuan 2,7 liter.

  1. Terlalu banyak mengonsumsi kafein

Berapa gelas kopi yang kamu minum dalam sehari? Jika terlalu banyak, bibir bisa menjadi lebih gelap dan kusam! Berdasarkan studi yang dikutip PureSmile, kafein bisa berdampak pada bibir dan menyebabkan gigi menguning.

Salah satu kebiasaan buruk yang dilakukan oleh sebagian orang adalah langsung minum kopi setelah bangun tidur. Saat tidur, kita tidak minum air sekitar 8 jam, sementara tubuh terus-menerus kehilangan air melalui kulit saat terlelap.

Langsung minum kopi ketika bangun justru menarik air dari tubuh, mengingat kopi bersifat diuretik ringan. Alih-alih membuat bibir lembut dan lembap, malah bikin pecah-pecah, kusam, dan bersisik!

  1. Akibat obat-obatan tertentu

Siapa sangka, beberapa jenis obat bisa menyebabkan hiperpigmentasi. Ini termasuk obat antimalaria dan minocycline (antibiotik oral), mengacu pada studi yang diterbitkan di Journal of Community Hospital Internal Medicine Perspectives tahun 2014.

Penelitian tersebut mengungkap bahwa pigmentasi paling sering terjadi di bibir, kulit, gigi, gingiva, konjungtiva, dan sklera. Ini paling sering terlihat pada pasien yang menerima obat dengan dosis 100-200 mg per hari selama setahun.

Sementara itu, menurut studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Dermatology tahun 2001, obat lain yang menyebabkan perubahan pigmentasi kulit adalah amiodaronechlorpromazine, dan agen kemoterapi seperti bleomycin.

Mengutip Medical News Today, kulit seharusnya kembali ke warna aslinya setelah pengobatan selesai. Namun, pada sebagian orang, hiperpigmentasi bisa bertahan dalam waktu yang lama!

  1. Imbas beberapa masalah medis

Ternyata, beberapa masalah medis bisa menyebabkan hiperpigmentasi. Salah satunya ialah penyakit Addison, kelainan kelenjar adrenal di mana tubuh tidak bisa memproduksi dua hormon penting, yaitu kortisol dan aldosteron, dikutip Cleveland Clinic.

Akibatnya, timbul bercak gelap pada kulit, bibir, dan gusi. Gejala lainnya adalah sakit perut, diare, pusing, mual, muntah, kelelahan ekstrem, kehilangan selera makan, penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan, kelemahan otot, tekanan darah dan glukosa rendah, hingga haid yang tidak teratur.

Kondisi medis lain yang bisa menyebabkan hiperpigmentasi pada bibir adalah anemia, angiokeratoma, melanoma mukosa, sindrom lentiginosis familial, sindrom Peutz-Jeghers, sindrom Laugier-Hunziker, hingga infeksi HIV, dilansir eMediHealth.

Penyebab lainnya adalah reaksi alergi terhadap bahan kimia dalam kosmetik (seperti lipstik) atau pasta gigi, seperti cheilitis yang bisa menyebabkan penggelapan bibir. Bisa juga karena perubahan kadar hormon selama kehamilan yang bisa menyebabkan melasma, pemicu bercak gelap di bibir.

Nah, itulah beberapa penyebab bibir gelap dan kusam padahal tidak merokok. Semoga membantu, ya! (*)

Editor: Yusva Alam

 

 

Ilustrasi perawatan oleh dokter gigi (pexels.com/ Evelina Zhu)

Apakah Karang Gigi Berbahaya Bagi Kesehatan?

Akurasi.id – Laporan dalam jurnal Oceana Biomedicina tahun 2019 menyebut bahwa prevalensi masyarakat Indonesia yang memiliki jaringan periodontal tidak sehat masih sangat tinggi, yaitu sekitar 95 persen, dan 70 persennya terjadi pada kelompok usia di atas 30 tahun atau kelompok usia dewasa. Apakah karang gigi berbahaya?

Salah satu penyebab penyakit periodontal adalah adanya karang gigi. Karang gigi ini menjadi faktor pendukung plak dalam menginfeksi dan menyebabkan jaringan periodontal mengalami peradangan. Jadi, apakah sebenarnya karang gigi itu dan apakah karang gigi berbahaya? Ini penjelasannya dilansir dari laman idntimes.com, Senin (30/08/2021).

  1. Pengertian karang gigi

Karang gigi atau yang dikenal dalam bidang kedokteran gigi sebagai dental calculus atau dental tartar merupakan akumulasi plak gigi yang terkalsifikasi dan mengeras.

Plak gigi sendiri merupakan lapisan tipis dan lunak yang terbentuk dari sisa-sisa makanan dan bakteri yang melekat pada gigi. Sementara itu, karang gigi cenderung keras, padat, melekat kuat pada gigi, berwarna kuning kecokelatan hingga cokelat gelap, serta sulit untuk dihilangkan dengan sikat gigi.

Karang gigi dapat terakumulasi pada supragingiva dan subgingiva. Karang gigi supragingiva berada menutupi gusi dan gigi, sehingga mudah terlihat pada rongga mulut. Sementara itu, karang gigi subgingiva berada di dalam antara gigi dan gusi sehingga tidak terlihat dan diperlukan alat untuk mendeteksinya.

  1. Penyebab terbentuknya karang gigi

Penyebab utama terbentuknya karang gigi adalah kurang rutinnya menyikat gigi dan menjaga kebersihan rongga mulut, sehingga akan terjadi akumulasi plak.

Ketika seseorang jarang menyikat gigi, plak akan bertahan lama pada gigi karena sifatnya yang lengket. Kemudian, seiring berjalannya waktu, mineral yang berasal dari saliva atau air liur secara kimiawi akan berikatan dengan plak dan terkalsifikasi membentuk karang gigi.

  1. Akibat yang ditimbulkan dari karang gigi

Karang gigi yang terbentuk dan menumpuk pada gigi dapat menimbulkan peradangan gusi atau gingivitis. Peradangan ini jika berlangsung lama akan berlanjut menjadi peradangan jaringan periodontal atau periodontitis.

Peradangan jaringan periodontal tersebut akan memengaruhi kegoyangan gigi bahkan lepasnya gigi dari soketnya. Selain itu, terjadinya penyakit periodontal yang disebabkan karang gigi juga dapat mengakibatkan penyakit lain seperti penyakit jantung dan gangguan kehamilan. Dampaknya serius, bukan?

Peradangan yang terjadi pada gusi maupun jaringan periodontal muncul akibat kontur karang gigi yang kasar dan menyebabkan bakteri dan plak mudah menempel, sehingga menginfeksi jaringan periodontal.

Selain itu, adanya penumpukan karang gigi juga menekan gusi, sehingga batas gusi akan turun dan bakteri akan mudah masuk ke dalam jaringan periodontal.

  1. Penanganan karang gigi

Dilansir Healthline, satu-satunya cara untuk menghilangkan karang gigi adalah dengan scaling. Biasanya tindakan scaling ini juga dilanjutkan dengan tindakan root planing. Tindakan scaling-root planing ini hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi karena membutuhkan keahlian dan peralatan khusus.

Tindakan scaling bertujuan untuk menghilangkan segala deposit pada gigi, termasuk kalkulus, sehingga peradangan pada gusi dapat berkurang dan sembuh. Sementara itu, root planing sendiri bertujuan untuk menghaluskan permukaan akar gigi dari sisa-sisa kalkulus. Scaling-root planing biasanya membutuhkan beberapa kali kunjungan ke dokter gigi, tergantung keparahan peradangan yang dialami.

  1. Cara mencegah terbentuknya karang gigi

Jalan terbaik dan termudah untuk menghindari terbentuknya karang gigi adalah dengan rutin menyikat gigi. Menyikat gigi minimal dua kali sehari setelah makan dan sebelum tidur akan sangat berdampak besar dalam mengurangi plak gigi, yang merupakan faktor awal terbentuknya karang gigi dan peradangan gusi serta jaringan periodontal.

Selain itu, kegiatan menjaga oral hygiene seperti menggunakan dental floss dan obat kumur juga dapat mencegah terbentuknya karang gigi.

Menjaga kesehatan gigi dan mulut secara rutin dapat mencegah terjadinya berbagai penyakit di rongga mulut kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai membangun kebiasaan menyikat gigi dan juga rutin mengunjungi dokter gigi minimal setiap 6 bulan sekali sedini mungkin. (*)

Editor: Yusva Alam

Jangan Sepelekan! Ini 5 Fakta Abses Gigi

Jangan Sepelekan! Ini 5 Fakta Abses Gigi

Akurasi.id – Abses gigi atau dental abcess adalah masalah kesehatan mulut yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini tidak boleh disepelekan karena abses gigi tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Berikut fakta abses gigi.

Dilansir Healthline, ada beberapa jenis abses, yaitu:

  • Abses periapikal (periapical abscess): abses di ujung akar gigi
  • Abses periodontal (periodontal abscess): abses yang terjadi pada gusi di samping akar gigi
  • Abses gingiva (gingival abscess): abses di gusi

Menurut laporan “Global Prevalence of Periodontal Disease and Lack of Its Surveillance” dalam The Scientific World Journal tahun 2020, penyakit pada gusi atau penyakit periodontal menempati urutan ke-11 sebagai penyakit yang paling umum ditemukan di dunia. Angka kejadian penyakit pada gusi dilaporkan mencapai sekitar 20 persen hingga 50 persen di seluruh dunia.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 melaporkan proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak/berlubang/sakit (45,3 persen), sedangkan masalah kesehatan mulut yang mayoritas dialami penduduk Indonesia adalah gusi bengkak dan/atau keluar bisul atau abses, yaitu sebesar 14 persen.

Tak boleh disepelekan, berikut ini fakta abses gigi yang perlu kamu ketahui, dilansir dari idntimes.com, Sabtu (07/08/2021).

  1. Abses gigi harus segera diobati

Abses gigi adalah kumpulan nanah yang dapat terbentuk di berbagai tempat seperti di dalam gigi, di tulang yang menahan gigi, atau di gusi. Keberadaan abses gigi biasanya dapat menimbulkan rasa sakit, meskipun tidak selalu terjadi

Yang jelas, abses gigi memerlukan penanganan medis dengan segera, sebab abses tidak dapat hilang dengan sendirinya. Bahkan, abses dapat menyebar ke bagian tubuh lain.

Dilansir Mayo Clinic, dokter gigi bisa mengobatinya dengan mengeringkan dan menghilangkan infeksinya. Akan tetapi, gigi penderitanya tak selalu bisa diselamatkan. Dalam beberapa kasus, gigi yang terdampak mesti dicabut.

Abses gigi yang tidak diobati bisa menyebabkan komplikasi serius hingga dapat membahayakan nyawa.

  1. Gejala-gejala abses gigi

Gejala umum abses gigi adalah nyeri pada area yang terdampak. Beberapa gejala lain yang bisa dialami meliputi:

  • Sakit pada gigi yang dapat menjalar ke telinga, rahang, atau leher.
  • Gigi menjadi sensitif terhadap suhu panas dan dingin.
  • Sakit saat berbaring.
  • Sakit saat mengunyah dan menggigit.
  • Demam.
  • Pembengkakan di area pipi.
  • Bau mulut seperti bau busuk.
  • Gigi berubah warna dan goyang.
  • Kelenjar getah bening mengalami bengkak di leher atau di bawah rahang.
  • Jika abses pecah, akan ada cairan asin yang berbau busuk dan tidak enak di mulut karena nanah yang keluar. Namun, abses yang pecah akan menghilangkan rasa sakit.
  1. Penyebab abses gigi berdasarkan jenisnya

Bakteri merupakan penyebab dari abses gigi ini. Bakteri yang menumpuk di mulut akan membentuk lapisan gigi yang disebut dengan plak. Apabila plak tidak dibersihkan, maka asam yang dihasilkan bakteri dalam plak dapat merusak gigi dan gusi dan menyebabkan berbagai penyakit gigi dan gusi seperti abses gigi.

Abses periapikal disebabkan karena bakteri memasuki pulpa di dalam gigi melalui rongga gigi. Sementara itu, abses periodontal biasanya disebabkan oleh penyakit gusi lain atau cedera. Adapun abses gingiva dapat disebabkan oleh adanya benda asing seperti sisa makanan atau benda lain yang menempel di gusi untuk waktu yang lama.

  1. Pengobatan abses gigi

Fokus dari pengobatan abses gigi adalah untuk membersihkan infeksi, mengeluarkan nanah, dan menghilangkan rasa sakitnya. Karena ada beberapa jenis abses tergantung tempatnya, pengobatan abses gigi berbeda tergantung jenisnya.

Pengobatan abses gigi antara lain:

  • Menguras abses: sayatan kecil akan dibuat pada abses untuk mengeluarkan nanah. Selanjutnya, area gigi dibersihkan dengan larutan garam.
  • Prosedur saluran akar: proses mengeringkan abses dan menghilangkan pulpa yang terinfeksi. Kemudian, ruang pulpa akan kembali diisi dan ditutup.
  • Mencabut gigi (ekstraksi): tindakan ini diperlukan bila gigi sudah terlalu rusak dan tidak bisa diselamatkan.
  • Antibiotik: dapat digunakan jika infeksi telah menyebar ke luar abses atau ketika penderitanya memiliki sistem kekebalan yang lemah.
  • Pengangkatan benda asing: bila abses terjadi di gusi karena adanya benda asing, maka akan dilakukan pengangkatan benda asing disusul dengan pembersihan area yang terkena dengan larutan garam.
  1. Pencegahan abses gigi dan masalah kesehatan gigi dan mulut lainnya

Mencegah abses gigi dapat dilakukan dengan selalu menjaga kesehatan mulut, gigi, dan gusi. Beberapa cara untuk merawat gigi agar terhindar dari abses gigi dan masalah kesehatan lain adalah:

  • Menyikat gigi setidaknya dua kali sehari dengan pasta gigi berfluorida. Sikat gigi selama setidaknya 2 menit.
  • Ganti sikat gigi setiap tiga atau empat bulan atau ketika bulu sikat sudah berjumbai.
  • Menggunakan benang gigi atau sikat interdental setidaknya sekali sehari untuk membersihkan sela-sela gigi.
  • Mengurangi makanan serta minuman manis serta camilan di antara waktu makan atau sebelum tidur dan mulai makan makanan sehat.
  • Mengunjungi dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan dan pembersihan rutin.
  • Menggunakan obat kumur antiseptik atau fluorida untuk menambah lapisan perlindungan tambahan pada gigi.

Nah, semoga fakta medis mengenai abses gigi di atas dapat menambah wawasan kamu mengenai penyakit gigi dan mulut cukup banyak ditemukan di Indonesia dan dunia. Jaga selalu kesehatan mulut, gigi, dan gusi. Apabila kamu memiliki gejala-gejalanya, segera periksa ke dokter. Ingat, abses gigi tidak bisa sembuh sendiri dan dapat menimbulkan masalah yang lebih serius bila dibiarkan. (*)

Editor: Yusva Alam