Posts

Siapa pun Bisa Mengalami, Begini Penyebab Halusinasi!

Siapa pun Bisa Mengalami, Begini Penyebab Halusinasi!

Akurasi.id – Tahukah kamu jika halusinasi tidak hanya tentang melihat objek yang sebenarnya tidak ada? Halusinasi melibatkan pancaindra seseorang dan yang mengalaminya tidak selalu memiliki kondisi mental tertentu. Ada banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang mengalami halusinasi. Begini penyebab halusinasi!

Faktor apa saja yang bisa menyebabkan halusinasi? Jika kita mempunyai teman yang berhalusinasi tindakan apa yang harus dilakukan? Agar lebih jelas, simak uraiannya begini penyebab halusinasi di bawah ini! Dilansir dari idntimes.com, Rabu (13/10/2021).

  1. Apa itu halusinasi?

Dilansir Very Well Mind, halusinasi didefinisikan sebagai persepsi objek atau peristiwa yang tidak ada dan pengalaman sensorik yang tidak disebabkan stimulasi organ sensorik yang relevan. Halusinasi melibatkan pancaindra dan tidak perlu memiliki kondisi mental tertentu untuk mengalaminya.

Berdasarkan studi yang terbit pada jurnal Frontiers in Psychology tahun 2015, halusinasi adalah salah satu gejala yang paling relevan dalam psikiatri. Ini juga salah satu yang paling sulit didefinisikan dan dibatasi dari konsep psikopatologis lainnya.

  1. Kurang tidur salah satu penyebabnya

Mengutip Healthline, penyebab halusinasi tidak hanya dari kondisi mental tertentu. Seseorang dapat mengalami halusinasi ketika meminum banyak alkohol atau obat-obatan. Selain itu, seseorang yang tidak tidur atau tidak cukup tidur dalam jangka waktu yang lama juga rentan mengalami halusinasi.

Berdasarkan studi yang terbit pada jurnal Schizopherania Bulletin tahun 2016, halusinasi dikaitkan dengan berbagai kondisi medis. Kondisi yang menyebabkan gangguan atau kerusakan pada jalur sensorik perifer dapat menghasilkan halusinasi.

  1. Ada lima jenis halusinasi

Halusinasi melibatkan pancaindra, oleh karen itu ada lima jenis halusinasi. Pertama, halusinasi visual, yakni melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Kedua, halusinasi penciuman, seperti merasa mencium bau yang tidak sedap atau disukai. Ketiga, halusinasi gustatorik, melibatkan indra pengecap, rasa ini sering kali aneh atau tidak menyenangkan.

Keempat, halusinasi pendengaran, yaitu salah satu jenis halusinasi yang paling umum, seperti mendengar seseorang berbicara atau menyuruh melakukan tindakan tertentu. Kelima, halusinasi taktil, yakni halusinasi yang melibatkan perasaan sentuhan atau gerakan pada tubuh.

  1. Jangan jauhi orang yang berhalusinasi

Jika orang terdekatmu berhalusinasi, jangan tinggalkan mereka sendirian. Pada beberapa kasus, ketakutan atau paranoid yang dipicu halusinasi dapat menyebabkan tindakan berbahaya.

Tetap bersama dengannya dan ajak ia ke dokter untuk mendapatkan dukungan emosional. Kamu mungkin dapat membantu menjawab pertanyaan tentang gejala dan seberapa sering itu terjadi.

  1. Halusinasi bukan delusi

Dikutip Medical News Today, meskipun keduanya terkait erat, tetapi halusinasi bukanlah delusi. Delusi adalah keyakinan yang salah, sedangkan halusinasi lebih dari kesalahan persepsi. Orang yang mengalami halusinasi melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada dan tidak sesuai dengan pengalaman di sekitarnya.

Mereka yang mengalami halusinasi mungkin percaya pada realitas halusinasi atau melampirkan makna tertentu dan keyakinan palsu kepada mereka. Keyakinan palsu yang melekat ini adalah delusi.

Proses pemulihan halusinasi tergantung penyebabnya. Jika mengalami halusinasi karena tidak cukup tidur, maka mulailah dengan memperbaiki jam tidur. Namun, jika halusinasi disebabkan karena kondisi mental, segera konsultasikan kepada dokter atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

 

 

 

10 Gejala Bipolar Menurut Psikolog

10 Gejala Bipolar Menurut Psikolog

Akurasi.idMengutip dari National Institute of Mental Health, gangguan bipolar atau yang juga disebut depresi manik adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan tak biasa pada suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, dan kemampuan dalam melakukan tugas sehari-hari. Begini gejala bipolar menurut psikolog?

Pada satu waktu, orang dengan gangguan bipolar bisa merasa amat sedih dan tidak bersemangat (fase depresi), kemudian berubah menjadi sangat aktif dan gembira (fase mania) pada waktu lainnya. Tidak seperti perubahan mood biasa, setiap fase ini bisa berlangsung sampai beberapa minggu atau bahkan lebih lama.

Gangguan bipolar termasuk penyakit mental yang umum terjadi. Melansir NHS, 1 dari 100 orang mengalami gangguan bipolar di beberapa titik kehidupan mereka. Umumnya, kondisi ini terdiagnosis selama masa remaja akhir atau dewasa awal. Beberapa tokoh terkenal yang disinyalir pernah mengalami gangguan ini di antaranya adalah Vincent van Gogh, Carrie Fisher, Mariah Carey, Demi Lovato, Kurt Cobain, dan Winston Churchill.

Jika tidak segera diobati, gangguan bipolar bisa makin memburuk dan berdampak negatif pada kehidupan penderitanya. Maka dari itu, sangat penting untuk mendeteksinya sedini mungkin. Melansir laman Health, berikut beberapa tanda seseorang mengalami gejala bipolar menurut para psikolog. Dilansir dari idntimes.com, Senin (04/10/2021).

  1. Perubahan mood yang ekstrem

Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan mood yang drastis, dari mania ke depresi, atau sebaliknya. Pada fase mania atau yang juga disebut dengan fase naik, penderita akan merasa sangat senang, enerjik, dan punya rasa percaya diri yang tinggi, bahkan pada titik terparah, tidak bisa membedakan antara kenyataan dan imajinasi. Adapun hipomania, versi mania yang lebih ringan, penderitanya tetap mengalami kondisi yang penuh enerji, namun tidak sampai kehilangan pegangan pada kenyataan.

Sebaliknya pada fase depresi atau fase turun, penderita merasa sangat sedih, terpuruk, dan kehilangan minat pada aktivitasnya. Pada fase ini, seseorang bisa memiliki perasaan negatif yang berlebihan pada dirinya sendiri yang bisa berpotensi mengarah pada pikiran bunuh diri.

Antara peralihan fase tersebut, pengidap gangguan bipolar biasanya akan mengalami fase normal. Namun, pada beberapa kasus, ada juga yang tidak demikian. Sebagian lainnya dapat mengalami apa yang disebut dengan mania campuran, yaitu kondisi di mana mereka merasakan fase depresi dan mania secara bersamaan.

  1. Sulit konsentrasi

Pada fase mania, pengidap gangguan bipolar sebenarnya bisa menjadi sangat produktif jika ia dapat memanfaatkan energinya dengan benar. Namun, jika ia tidak pandai mengontrol diri, hal yang biasa terjadi adalah ia akan meloncat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya tanpa lebih dulu menyelesaikan apa yang telah dimulai. Hal ini terjadi lantaran pengidap gangguan bipolar sangat mudah terdistraksi dan suka merencanakan hal-hal besar yang terkadang tidak realistis.

Begitu juga pada fase depresi, seseorang akan sulit untuk berkonsentrasi. Stres, sedih, dan gangguan tidur yang biasa dialami pada fase ini bisa membuat pengidap bipolar kesulitan dalam berpikir dan membuat keputusan.

  1. Cepat marah

Orang dengan gangguan bipolar bisa menjadi sangat sensitif. Mereka dapat tersinggung dan marah meskipun tanpa alasan yang jelas. Hal ini sering terjadi saat mereka dalam fase mania. Banyaknya energi dan pikiran yang terus berpacu membuat mereka menjadi mudah frustrasi, lebih-lebih ketika orang lain tidak dapat menyamai keadaan seperti mereka. Frustrasi dan kekecewaan ini jika tidak terkendali akan berubah menjadi amarah.

Sifat mudah marah ini rentan terjadi pada pengidap bipolar yang tidak segera mendapatkan pengobatan atau mereka yang mengalami perubahan mood yang cepat. Dalam jurnal berjudul Anxiety, Irritability, and Agitation as Indicators of Bipolar Mania with Depressive Symptoms: A Post Hoc Analysis of Two Clinical Trials tahun 2017, peneliti menemukan bahwa sebelum mendapatkan pengobatan, 62.4% partisipan dengan bipolar I bisa mudah marah, 76.4% bahkan mengembangkan perilaku agitasi, dan 34% lainnya mengalami kecemasan, mudah marah, dan agitasi yang parah.

  1. Hubungan seks terganggu

Kondisi emosional pengidap gangguan bipolar yang cukup rumit juga berimbas pada kehidupan seks. Pada fase mania, seseorang bisa mengalami hiperseksualitas atau peningkatan kebutuhan akan kepuasan seks. Hal ini bisa menjadi berbahaya ketika ia melakukan perilaku seksual yang berisiko dan tidak wajar demi memuaskan hasratnya yang tak terkendali, seperti masturbasi berlebihan, melakukan seks bebas dengan beberapa pasangan, terlibat dalam sadomasokis dan masokis (S&M), dan lain sebagainya.

Sebaliknya pada fase depresi, pengidap gangguan bipolar bisa mengalami hiposeksualitas, yaitu kondisi dimana seseorang memiliki gairah seksual yang rendah atau bahkan hampir tidak bergairah sama sekali. Kondisi ini dapat membuat orang tersebut merasa frustrasi dan tidak berharga, terutama pada pasangannya. Sebuah riset yang diterbitkan oleh The Journal of Sexual Medicine tahun 2018 juga menemukan bahwa laki-laki yang menderita gangguan bipolar lebih mungkin untuk mengalami gejala disfungsi ereksi dibandingkan mereka yang normal.

  1. Berbicara cepat

Pada fase mania, seseorang dapat berbicara lebih cepat dari biasanya, bahkan seperti tak ingin berhenti. Dalam kondisi yang penuh energi ini, mereka merasa amat perlu menyampaikan ide dan unek-uneknya kepada orang lain. Pengidap gangguan bipolar juga cenderung melompat dari satu topik ke topik lainnya dan hampir tidak mengizinkan orang lain untuk menyela pembicaraannya.

  1. Mengonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang

Mengutip Health, sekitar 50% orang dengan gangguan bipolar mempunyai masalah dalam penyalahgunaan alkohol dan zat terlarang. Pada fase mania, seseorang akan banyak minum untuk menenangkan dirinya dari efek mania. Sedangkan pada fase depresi, alkohol menjadi solusi untuk memperbaiki mood yang buruk. Meski bisa membantu, kebiasaan ini dapat memperparah gejala bipolar dan membuat ketergantungan secara jangka panjang.

Mengutip Mayo Clinic, gangguan bipolar dan masalah penyalahgunaan alkohol atau zat lainnya merupakan kombinasi yang berbahaya. Masing-masing dapat memperburuk gejala dan tingkat keparahan yang lainnya. Kedua kondisi ini dapat berpotensi meningkatkan risiko perubahan suasana hati, depresi, kekerasan, hingga bunuh diri.

  1. Perilaku impulsif 

Fase mania juga membuat seseorang memiliki tingkat kepercayaan diri yang berlebihan. Dalam kondisi ini, semua hal tampak benar dan bagus di matanya. Akibatnya, pengidap gangguan bipolar bisa berperilaku impulsif tanpa memikirkan konsekuensi dari apa yang dilakukannya, misalnya mengonsumsi obat-obatan terlarang, melakukan hubungan seks berisiko, berselingkuh, atau melakukan hal-hal lain yang merugikan diri sendiri dan juga orang sekitar.

Perilaku yang dilakukan semasa fase mania bisa berbanding terbalik saat seseorang berada dalam fase normal. Contohnya, pengidap gangguan bipolar yang berselingkuh tidak akan pernah berani melakukan hal tersebut jika ia tidak dalam fase mania.

  1. Delusi keagungan

Delusi keagungan (grandiose delusion) merupakan gejala yang umum dialami oleh pengidap gangguan bipolar saat berada dalam fase mania. Kondisi ini membuat orang tersebut merasa dirinya lebih hebat, pandai, dan unggul dibandingkan yang lain, meskipun hal itu tidak sesuai dengan kenyataan.

Orang normal sekalipun sebenarnya bisa saja memiliki konsep berlebihan mengenai dirinya sendiri. Namun, yang membedakannya adalah orang yang yang mengalami delusi keagungan merasa yakin bahwa delusinya itu benar dan tidak bisa terbantahkan.

  1. Gangguan tidur

Gangguan tidur merupakan tanda sekaligus masalah yang sering terjadi pada pengidap bipolar. Seseorang yang berada dalam fase mania bisa mengalami insomnia atau tidak cukup tidur selama berhari-hari, akan tetapi tetap merasa fit keesokan harinya. Adapun pada fase depresi, seseorang bisa mengalami hipersomnia, dimana ia akan banyak tidur, namun, tetap saja merasa lelah.

Melansir WebMD, meskipun pengidap bipolar yang mengalami insomnia tidak mempermasalahkan waktu tidurnya yang berkurang, hal ini tetap berdampak besar dalam aktivitasnya sehari-hari, mulai dari mood yang buruk, merasa lelah dan cemas, sulit berkonsentrasi, hingga berisiko mengalami kecelakaan.

  1. Ide-ide beterbangan

Pengidap gangguan bipolar yang berada dalam fase mania memiliki banyak sekali ide di benaknya. Ide-ide yang beterbangan atau pikiran yang berlomba merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ini. Hal ini juga seringkali membuat mereka seringkali kewalahan dan sulit mengontrol pikiran mereka sendiri.

Gejala ini dapat terlihat saat pengidap bipolar mulai berbicara. Jika ia berbicara dengan cepat, penuh semangat, dan sering mengubah topik pembicaraan, hal ini menjadi pertanda bahwa pikirannya dipenuhi oleh ide-ide yang beterbangan.

Itulah 10 gejala bipolar menurut psikolog yang bisa kamu deteksi. Jika kamu atau orang-orang di sekelilingmu mengalami gejala tersebut, jangan sungkan untuk menemui dokter atau ahli profesional di bidang kesehatan mental. Perawatan mental sedari dini akan membantu mencegah gangguan bipolar jadi memburuk. (*)

Editor: Yusva Alam

 

 

 

Tips menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi COVID-19

Tips menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi COVID-19

Tips menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi COVID-19

Olahraga merupakan salahsatu tips menjaga kesehatan mental. (photo/pixabay/jeviniya)

Akurasi.id – Pandemi COVID-19 tak hanya berbahaya bagi fisik, namun juga berdampak negatif pada kesehatan mental. Karena itu perlunya kita mengetahui tips menjaga kesehatan mental

Pembatasan kegiatan dan situasi darurat yang terus-menerus terjadi, membuat sebagian besar masyarakat rentan stres. Agar tak berujung menjadi depresi, ada beberapa tips menjaga kesehatan mental di masa pandemi yang bisa diterapkan dengan mudah.

Cara Menjaga Kesehatan Mental

Berikut ini dilansir dari Indozone.id, Selasa (13/07/2021) kami bagikan tips dan cara menjaga kesehatan mental di masa pandemi COVID-19.

  1. Menulis

Menjaga kesehatan mental dengan menulis bisa jadi pilihan yang tepat. Menulis berperan penting untuk menuangkan emosi negatif yang sedang kamu rasakan. Gerakan tangan saat menulis juga dapat mengurangi stres dan membuat pikiran lebih rileks. Bukan itu saja, menulis pun bisa menstimulasi otak sehingga kreativitas meningkat.

  1. Meditasi

Cara menjaga kesehatan mental juga bisa dilakukan dengan meditasi. Meditasi bermanfaat untuk mengendalikan emosi, mengontrol rasa cemas, dan melawan depresi. Meditasi juga dapat menurunkan tekanan darah sehingga bisa meredakan stres dan membuat tidur lebih nyenyak. Cara meditasi pun mudah, cukup duduk dan atur pernapasan perlahan selama 10-30 menit, di waktu dan tempat yang tenang.

  1. Olahraga

Tips menjaga kesehatan mental berikutnya yaitu dengan rutin berolahraga. Olahraga mampu meningkatkan hormon endorfin yang dapat mengurangi rasa sakit dan meredakan stres. Beberapa olahraga yang bisa dilakukan di rumah yaitu yoga, squat, lompat tali, dan badminton. Aktivitas fisik lainnya yang juga bermanfaat seperti olahraga yakni memasak, berkebun, dan membersihkan rumah.

  1. Konsumsi makanan sehat

Kesehatan mental bisa dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang kamu konsumsi. Agar kesehatan mental tetap terjaga, konsumsilah makanan sehat seperti buah-buahan, sayuran, makanan laut, daging, kacang-kacangan, serta susu. Hindari makanan cepat saji, makanan tinggi lemak, makanan terlalu manis atau terlalu asin, dan minuman alkohol. Karena selain bisa mengganggu kesehatan mental, makanan yang tidak sehat juga dapat menurunkan imunitas sehingga tubuh mudah terinfeksi COVID-19.

  1. Menjalin komunikasi

Kesepian sangat berbahaya bagi kesehatan mental karena bisa menimbulkan rasa sakit fisik, gangguan tidur, bahkan kematian dini. Salah satu cara menjaga kesehatan mental di masa pandemi adalah dengan menjalin komunikasi dengan orang terdekat. Hubungilah keluarga, sahabat, teman, atau teman kerja melalui pesan singkat, telepon, atau video call. Kamu bisa saling berbagi cerita atau kekhawatiran untuk meringankan beban pikiran.

Itulah beberapa car menjaga kesehatan mental di masa pandemi COVID-19 agar tidak mudah stres dan depresi. Semoga bermanfaat! (*)

Editor: Yusva Alam

Dampak Buruk Sering Prank ke Anak, Jangan Dilakukan Lagi!

Dampak Buruk Sering Prank ke Anak, Jangan Dilakukan Lagi!

Dampak Buruk Sering Prank ke Anak, Jangan Dilakukan Lagi!

Ilustrasi prank kepada anak. (klikdokter.com)

Akurasi.id, Bontang – Prank adalah kejahilan yang dilakukan untuk sebuah bentuk kesenangan. Perilaku tersebut semakin booming di internet. Parahnya, prank bukan cuma dilakukan oleh kalangan remaja. Tak sedikit orangtua yang dengan sengaja melakukan prank kepada anaknya. Apakah Anda termasuk salah satunya? Jika ya, sebaiknya jangan dilakukan lagi.

Faktanya, melakukan prank kepada anak malah bisa membuatnya mengalami banyak kerugian, khususnya dari segi kesehatan mental. Berikut beberapa dampak buruk sering prank pada anak.

  1. Merasa Tidak Aman

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, anak yang dijahili terus-menerus oleh orangtuanya dapat mengembangkan perasaan tidak aman ketika di rumah. Hal ini khususnya terjadi jika prank dilakukan pada anak berusia 6 hingga 12 tahun.

Menurut Gracia, pada usia early childhood, rasa aman sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembang. Apabila rasa aman tersebut tidak dirasakan Anak, bukan tidak mungkin tumbuh kembangnya akan terhambat.

“Misalnya, prank seakan-akan anak dalam situasi yang sangat tidak aman, entah ditinggal sendirian, dimarah-marahi, diberikan hal yang tidak disukai. Hal itu dapat membuat mereka merasa tidak aman ketika ada di dekat orangtuanya,” ucap Gracia.

  1. Berpengaruh Buruk Terhadap Perkembangan Emosi

Melansir dari psychology today, menjadikan anak sendiri sebagai bahan lelucon dapat diartikan sebagai ekspresi permusuhan terselubung. Terkadang, hal ini sangat terasa menyakitkan, bahkan hingga mempengaruhi harga diri anak.

Cepat atau lambat, anak yang sering dikerjai oleh orangtuanya sendiri akan memiliki rasa percaya diri yang rendah. Bukan tidak mungkin, hal ini akan membuat kondisi mentalnya tidak stabil.

  1. Mengikis Kepercayaan Anak kepada Orangtua

Anak-anak belajar mempercayai keamanan lingkungan tempat tinggalnya dari orang-orang yang paling dekat dengannya.

Oleh karena itu, jika anak selalu dijahili atau dijadikan target prank, hal tersebut dapat menurunkan rasa percaya anak terhadap orangtua dan lingkungan sekitarnya.

“Rasa ketidakpercayaan bisa terjadi karena pola asuh yang seharusnya diterapkan secara konsisten, hangat, memberikan rasa aman tidak terpenuhi,” ucap Gracia.

“Namun, hal tersebut sebenarnya sangat tergantung banyak faktor dan konteks seberapa sering prank pada anak dilakukan,” sambungnya.

  1. Mudah Merasa Cemas

Menurut Gracia, sebelum melakukan prank kepada anak, orangtua sebaiknya mempertimbangkan terlebih dahulu dampak yang mungkin ditimbulkan.

Jika si kecil tampak menikmati humor semacam itu, sesekali melakukan prank kepadanya mungkin tidak mengapa.

Namun, untuk anak yang tidak suka dijahili, menjadikannya sebagai target prank malah bisa menumbuhkan perasaan cemas dalam dirinya. Bukan tidak mungkin, mereka pun akan mengalami depresi lantaran terlalu sering dijahili.

  1. Trauma

Perasaan cemas, takut, dan tidak aman yang anak rasakan akibat sering dijadikan target prank dapat menimbulkan trauma. Kondisi ini bahkan bisa dibawanya hingga dewasa kelak.

Demikianlah beberapa dampak negatif prank kepada anak. Setelah mengetahuinya, Anda diharapkan berpikir dua kali lebih dulu sebelum melakukan prank kepada anak.

“Jika anak usia early childhood yang tipenya pemberani dan bisa membedakan mana yang bercanda dan serius, (sesekali melakukan prank) mungkin tidak akan berdampak signifikan pada perkembangannya,” tutur Gracia.

Akan tetapi, daripada menimbulkan dampak buruk sering prank pada anak, lebih baik pilih aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan dapat membantu mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Anda ingin si kecil tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mentak, bukan?

Penulis: Yusva Alam