Tag Archive for: Hipertensi

Tekanan Darah Normal Berdasarkan Usia, Wajib Tahu Ya!

Tekanan Darah Normal Berdasarkan Usia, Wajib Tahu Ya!

Akurasi.idTekanan darah adalah salah satu tanda vital yang penting untuk terus dipantau, terutama untuk orang yang sudah berumur. Akan tetapi, untuk kamu yang masih muda, jangan lalai dan mengabaikannya, ya. Pasalnya, akhir-akhir ini kasus tekanan darah tinggi atau hipertensi semakin menjamur di kelompok usia muda. Jaga terus agar tekanan darah normal!

Untuk itu, kamu harus mengetahui berapa ukuran tekanan darah normal berdasarkan usia. Yuk, simak penjelasan berikut ini. Dilansir dari idntimes.com, Kamis (14/10/2021).

  1. Terdapat dua deretan angka pada tekanan darah

Saat mengukur tekanan darah, kamu akan mendapatkan dua angka. Misalnya 100/70. Angka “atas”, yaitu 100 menunjukkan sistole. Sedangkan angka “bawah”, yaitu 70 menunjukkan angka diastole.

Sistole adalah angka yang menunjukkan tekanan jantung ketika ia memompa darah ke seluruh tubuh. Sedangkan diastole menunjukkan tekanan ketika jantung sedang beristirahat. Proses tersebut terjadi ketika darah kembali lagi menuju jantung.

  1. Tekanan darah normal untuk bayi berusia 0 hingga 1 bulan

Pada umumnya tekanan darah selalu berubah sesuai dengan kondisi dan usia. Untuk bayi yang baru lahir hingga berusia satu bulan, ukuran normal untuk sistole berkisar antara 45 hingga 90 mmHg, sedangkan diastole normal berkisar antara 30-55 mmHg.

  1. Tekanan darah normal untuk bayi usia hingga 12 bulan

Untuk bayi berusia hingga 12 bulan, ukuran sistole normal berkisar antara 65 hingga 100 mmHg, sedangkan diastolenya terletak pada angka 35 hingga 65 mmHg.

  1. Tekanan darah normal untuk balita

Anak berusia satu hingga lima tahun memiliki ukuran tekanan darah normal yang berbeda lagi. Sistole normal berkisar antara 80 hingga 115 mmHg, sedangkan diastole berada antara 55 hingga 80 mmHg.

  1. Tekanan darah normal untuk anak berusia 6 hingga 13 tahun

Sistole normal untuk anak berusia 6 hingga 13 tahun berada di angka 80 hingga 120 mmHg, sementara diastole berkisar antara 45 hingga 80 mmHg.

  1. Tekanan darah normal untuk remaja 14 hingga 18 tahun

Sama seperti ukuran tekanan darah orang dewasa, remaja memiliki sistole normal yang berkisar antara 80 hingga 120 mmHg, sedangkan diastole berada di angka 50 hingga 80 mmHg.

  1. Tekanan darah normal untuk orang dewasa (19 hingga 60 tahun)

Tekanan darah normal untuk orang dewasa kurang lebih sama dengan remaja. Sistole berkisar antara 80 hingga 120 mmHg, sedangkan diastole berada pada angka 60 hingga 80 mmHg.

  1. Tekanan darah normal untuk lansia (61 tahun ke atas)

Untuk orang yang berusia 61 tahun ke atas, sistole normalnya adalah di bawah 140 mmHg, sedangkan diastole seharusnya berada di bawah 90 mmHg. Semakin tua usia, tekanan darah memang makin tinggi secara alami.

  1. Cara menormalkan tekanan darah yang terlalu tinggi

Jika ukuran tekanan darahmu tidak normal, kamu harus melakukan upaya untuk menormalkannya kembali.

Jika angka yang kamu dapatkan lebih tinggi, cobalah menerapkan pola makan sehat bergizi seimbang dengan memperbanyak sayuran dan buah, olahraga rutin, mengurangi konsumsi garam, kafein, dan tidak merokok.

  1. Cara menormalkan tekanan darah yang terlalu rendah

Bukan hanya tekanan darah tinggi saja yang membawa masalah. Tekanan darah yang terlalu rendah juga tidak baik dan berisiko terhadap hipotensi.

Untuk mengatasinya, kamu harus memperbanyak konsumsi garam, minum air putih, berolahraga, makan dalam porsi kecil tapi dengan frekuensi yang lebih sering, dan naikkan posisi kepala saat tidur di malam hari.

Itulah ulasan kesehatan mengenai tekanan darah normal berdasarkan usia dan wajib untuk kamu ketahui. Apakah kamu sudah mengecek tekanan darah secara berkala? Jika belum, segera lakukan, ya, agar terhindar dari ancaman hipertensi dan hipotensi. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

 

 

 

Waspada, 5 Penyakit 'Silent Killer' Mengintai Anda

Waspada, 5 Penyakit ‘Silent Killer’ Mengintai Anda

Waspada, 5 Penyakit 'Silent Killer' Mengintai Anda

‘Silent killer’ didefinisikan sebagai penyakit yang tak memicu gejala atau indikasi yang terlihat kentara. (iStockphoto/MIND_AND_I)

Akurasi.id, Bontang — Pada Senin (14/6) legenda bulutangkis Markis Kido meninggal saat bermain bulutangkis di Tangerang, Banten. Kematian mendadak seseorang kerap dikaitkan dengan silent killer disease atau penyakit yang membunuh dalam senyap.

Apa itu ‘silent killer‘? Dan penyakit apa saja yang termasuk ‘silent killer‘?

Dalam Collins Dictionary, ‘silent killer‘ diartikan sebagai penyakit yang tidak memiliki gejala atau indikasi yang terlihat kentara.

Tanpa Anda ketahui, ada penyakit-penyakit yang diam-diam siap menggerogoti tubuh tanpa menimbulkan gejala berarti. Jika tidak diwaspadai, penyakit-penyakit ini bisa menimbulkan situasi serius bahkan fatal.

Berikut beberapa penyakit termasuk ke dalam ‘silent killer’. Dilansir dari cnnindonesia.com, Rabu (16/06/2021)

  1. Hipertensi

Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi jadi faktor risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A Damay menyebut, hipertensi berisiko mengakibatkan serangan jantung, aorta diseksi, dan stroke pendarahan. Semuanya menyebabkan kematian mendadak.

Berdasar data Riskesdas 2018, sekitar 34 persen orang Indonesia memiliki hipertensi. Dari sekian banyak penderita hipertensi, 32 persen tidak rutin minum obat. Padahal, obat berfungsi mengontrol tekanan darah.

“Lebih dari 50 persen penderita tidak minum obat dengan alasan mereka merasa sehat. Hal ini membuat hipertensi menjadi pembunuh senyap atau silent killer,” ujar Vito pada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (15/6)

  1. Kanker Kulit

Kanker bisa menyerang semua organ tubuh, termasuk kulit. Kanker kulit timbul saat terjadi pertumbuhan sel kulit secara tidak normal. Kebanyakan kasus kanker kulit terjadi akibat paparan sinar matahari berlebihan.

Mengutip laman Mayo Clinic, ada empat tipe kanker kulit, yakni karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, melanoma, dan kanker kulit non-melanoma.

Dari beberapa tipe kanker kulit, melanoma memiliki gejala yang kerap tidak disadari. Dalam beberapa kasus, melanoma timbul berawal dari tahi lalat. Karena dianggap sebagai tahi lalat biasa, tidak ada tindak lanjut sehingga semakin lama membesar dan merusak jaringan sekitarnya.

  1. Diabetes

Setahun terakhir, diabetes mendapat sorotan berkaitan dengan Covid-19. Penyakit ini jadi salah satu penyakit komorbid yang bisa memperparah kondisi orang yang terinfeksi virus corona.

“Diabetes ini penyakit progresif dan kronis. Kesadarannya harus tetap dikumandangkan. Saat ini, penderita diabetes bukan makin sedikit, tapi makin banyak,” ujar ahli penyakit dalam, dr Sidartawan Soegondo, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, yang perlu diperhatikan, diabetes juga jadi pintu masuk untuk penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, stroke, neuropati, juga ketoasidosis diabetik yang bisa mengancam nyawa.

  1. Fatty liver disease

Fatty liver disease atau perlemakan hati berarti penumpukan lemak di organ hati. Dalam dunia medis, perlemakan hati juga dikenal sebagai hepatic steatosis.

Biasanya, orang yang mengonsumsi alkohol berlebih dalam jangka panjang berisiko mengalami perlemakan hati. Namun, tidak menutup kemungkinan perlemakan hati juga terjadi pada mereka yang tidak banyak mengonsumsi alkohol.

Dalam beberapa kasus, orang merasa aman dari perlemakan hati karena tidak banyak bersentuhan dengan alkohol. Mengutip dari WebMD, perlemakan hati pada nonkonsumen alkohol kemungkinan bisa terjadi akibat faktor genetik, yang disertai faktor-faktor lain seperti obesitas, kadar kolesterol tinggi, usia lanjut, sleep apnea, hipotiroidisme, malnutrisi dan penurunan berat badan secara drastis.

Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, perlemakan hati akan menimbulkan komplikasi antara lain penumpukan cairan pada abdomen, pembengkakan pembuluh darah esofagus yang bisa pecah, kanker hati, dan gagal hati (liver failure).

  1. Osteoporosis

Tubuh ditopang oleh susunan tulang yang terus-menerus rusak tetapi ada tulang-tulang baru yang siap menggantikan. Namun, jika seseorang mengalami osteoporosis, tulang rusak lebih cepat daripada proses perbaikannya. Tulang jadi kurang padat dan mudah keropos.

Mengutip dari Healthline, osteoporosis membuat tulang rentan retak dan patah. Tanpa penanganan serius, mobilitas pasien bisa sangat terbatas, rasa sakit, depresi yang kemudian menurunkan kualitas hidup.(*)

Penulis/Editor: Yusva Alam