Posts

Cara Alami Meredakan Batuk akibat COVID-19

Cara Alami Meredakan Batuk akibat COVID-19

Akurasi.id – Salah satu gejala umum dari COVID-19 adalah batuk terus-menerus. Batuk itu sendiri merupakan refleks tubuh untuk membersihkan debu, dahak, dan iritan lainnya dari paru-paru dan tenggorokan. Biasanya batuk akibat COVID-19 berupa batuk kering yang cukup parah, walaupun pada beberapa kasus batuk berdahak juga bisa terjadi. Karenanya perlu tahu cara meredakan batuk akibat covid-19.

Setelah pulih atau dinyatakan sembuh dari COVID-19 sekalipun, gejala batuk mungkin masih dirasakan oleh beberapa penyintas selama beberapa waktu dan tetap bertahan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

Sering kali batuk akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2 ini bisa bikin frustrasi karena tak kunjung berhenti. Nah, berikut ini ada beberapa cara alami yang bisa dilakukan untuk meredakan batuk akibat COVID-19 yang bisa kamu coba, dilansir dari laman idntimes.com, Kamis (19/08/2021).

  1. Melakukan teknik kontrol pernapasan

Cara pertama untuk meredakan batuk adalah dengan melatih pernapasan. Melakukan teknik kontrol pernapasan yang tepat baik untuk menormalkan pola pernapasan dan meningkatkan efisiensi otot-otot pernapasan, termasuk otot diafragma yang memiliki peran besar dalam pernapasan. Ini bertujuan agar pengeluaran energi saat bernapas menjadi lebih sedikit, iritasi pada jalan napas berkurang, mengurangi kelelahan, dan meredakan sesak napas.

Lebih spesifik, laporan berjudul “Management of post-acute covid-19 in primary care” dalam British Medical Journal menjelaskan bahwa orang yang bergejala batuk harus duduk dalam posisi tertopang dengan baik, serta menarik dan mengembuskan napas dengan perlahan.

Tarik napas melalui hidung, lalu embuskan lewat mulut. Lakukan teknik pernapasan ini dalam kondisi dada dan bahu relaks, serta biarkan perut mengembang. Teknik ini dapat dilakukan sepanjang hari dalam waktu 5-10 menit atau lebih lama.

Beberapa teknik pernapasan untuk meredakan batuk di antaranya pernapasan diafragma, menarik napas panjang dan lambat, pernapasan bibir mengerucut, dan teknik pernapasan dalam yoga.

  1. Meredakan batuk berdahak

Dahak merupakan cairan yang diproduksi sebagai bagian dari mekanisme pertahanan normal tubuh. Ini merupakan salah satu cara yang dilakukan paru-paru dan saluran udara agar tetap bersih. Meski telah sembuh dari COVID-19, tubuh mungkin masih memproduksi dahak, napas lebih berisik dari biasanya, dan mungkin sesekali masih merasakan sesak napas.

Menurut keterangan dari National Health Service (NHS), latihan pernapasan akan membantu membersihkan dahak secara efektif dan efisien guna mengatasi batuk berdahak. Ini cara melakukannya:

  1. Duduk tegak dan nyaman.
  2. Tarik napas dalam-dalam perlahan melalui hidung dan tahan di bagian atas selama 3 hitungan (jika bisa), kemudian lepaskan perlahan dari mulut. Ulangi langkah ini sebanyak 3-4 kali sebelum berlanjut ke langkah ketiga.
  3. Bernapas dengan lembut dan santai selama 20-30 detik (kontrol pernapasan).
  4. Ulangi langkah kedua dan ketiga sebanyak tiga kali.
  5. Tarik napas dalam-dalam perlahan melalui hidung, kemudian embuskan udara dengan cepat melalui mulut. Lakukan langkah ini sampai terdengar bunyi seperti “huff” saat mengembuskan napas.

Setelah sampai pada tahap kelima, ulangi kembali siklus pernapasan ini sebanyak 3-4 kali, sampai kamu merasa dahaknya telah berkurang atau hilang.

Kadang siklus ini bisa menyebabkan pusing. Bila kamu mengalaminya, berikan waktu yang cukup pada langkah ketiga, yakni saat mengontrol pernapasan menjadi lebih tenang. Kemudian, pada langkah kelima, melakukan “huff” harus dilakukan dengan embusan napas pendek atau tidak terlalu lama. Bila pusing berlanjut, berhenti melakukan siklus pernapasan ini.

  1. Menjaga tubuh tetap terhidrasi

Minum air yang cukup setiap harinya sangatlah penting untuk membantu meredakan batuk COVID-19 maupun batuk apa pun. Air dapat membuat tenggorokan menjadi lembap dan nyaman. Minumlah air sedikit demi sedikit sepanjang hari, jangan dilakukan sekaligus, untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

Bila sudah mulai batuk, minumlah sedikit cairan. Biasanya, hanya diperlukan beberapa teguk saja untuk menghilangkan batuk, tetapi kadang perlu minum lebih banyak untuk mengendalikannya.

Melansir NHS, bila tidak ada air di sekitar kamu, cobalah menelan ludah berulang kali jika sedang batuk. Sebab, menelan ludah dapat memiliki efek yang mirip dengan meneguk air.

  1. Minumlah minuman hangat

Minum minuman yang hangat dapat melegakan tenggorokan, membuat tubuh tetap terhidrasi, dan memecah lendir yang mungkin ada di tenggorokan atau saluran napas bagian atas. Minuman hangat yang baik adalah teh, kaldu, madu, atau lemon.

Sedikit madu yang dipadukan dengan teh juga dapat meredakan sakit tenggorokan. Namun, madu tidak disarankan untuk anak yang usianya di bawah 1 tahun.

  1. Menghirup uap

Menghirup uap dapat menambah kelembapan pada tenggorokan dan hidung. Uap akan menenangkan sakit tenggorokan dan membuka saluran udara, sehingga kita akan lebih mudah untuk bernapas.

Cara melakukannya juga cukup mudah. Kamu bisa menuangkan air panas ke dalam mangkuk atau baskom, kemudian posisikan kepala di atas mangkuk untuk menghirup uap yang dikeluarkan. Menutup kepala dan mangkuk dengan handuk juga bisa dilakukan agar lebih nyaman.

Menggunakan uap dari pancuran air panas, pelembap udara, alat penguap, atau alat lainnya juga dapat digunakan.

  1. Berkumur dengan air garam

Melansir University of Maryland Medical System, air garam mungkin dapat membantu meredakan sakit tenggorokan. Caranya adalah dengan mencampurkan satu sendok teh garam dan satu gelas air hangat, aduk, lalu gunakan larutan tersebut untuk berkumur. Ingat, jangan ditelan, ya! Setelahnya, jangan lupa untuk disinfeksi wastafel setelah selesai.

Walaupun cara ini belum terbukti secara ilmiah, tetapi banyak orang yang melaporkan kondisinya membaik setelah melakukannya.

  1. Berhenti merokok

Menurut British Lung Foundation (BLF), berhenti merokok adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi diri dari infeksi virus. Bahkan, manfaatnya bisa langsung terasa setelah berhenti merokok selama 24 jam!

BLF menyarankan, agar sukses berhenti merokok, carilah dukungan dari orang-orang terdekat. Kemudian, melakukan perawatan untuk berhenti merokok dengan bantuan dokter juga dapat meningkatkan peluang hingga tiga kali lipat untuk berhasil terlepas dari jerat rokok.

Penelitian dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menjelaskan bahwa merokok berhubungan atau berpengaruh terhadap peningkatan keparahan penyakit dan risiko kematian pada pasien COVID-19.

  1. Hindari hal-hal yang memicu batuk

Menurut NHS Inform, beberapa hal yang dapat memicu batuk adalah:

  • Lingkungan berasap
  • Penyegar udara
  • Lilin beraroma kuat
  • Parfum atau deodoran yang kuat

Batuk akibat COVID-19 mungkin bisa bikin frustrasi karena rasa tidak nyaman yang ditimbulkannya. Semoga dengan melakukan beberapa cara di atas bisa membantumu meredakan batuk akibat covid-19 tersebut.

Bila batuk tak kunjung membaik, atau makin parah, sebaiknya periksakan diri ke dokter agar bisa diperiksa secara menyeluruh dan mendapat penanganan yang tepat. (*)

Editor: Yusva Alam

Tips Aman Menggunakan Toilet Umum Saat Pandemik

Tips Aman Menggunakan Toilet Umum Saat Pandemik

Tips Aman Menggunakan Toilet Umum Saat Pandemik

Ilustrasi simbol toilet pria wanita (Pexels/Tim Mossholder)

Akurasi.id – Menggunakan toilet menjadi hal umum yang dilakukan semua orang dalam memuaskan ‘panggilan‘ alamnya. Hal ini jelas berbeda jika seseorang sedang berada di luar rumah, sehingga nembutuhkan toilet umum sebagai tempatnya. Tentunya menggunakan toilet umum di tengah pandemik seperti ini tidak bisa sembarangan dilakukan begitu saja.

Kamu harus ekstra waspada dalam melakukan beragam pencegahan agar menggunakan toilet umum secara mendesak dapat dilakukan dengan aman. Bila suatu saat nanti kamu harus ke toilet umum saat pandemik, jangan lupa untuk melakukan beberapa tips berikut ini. Dilansir dari idntimes.com, Jumat (23/07/2021)

1. Jangan lupa tetap kenakan masker

Di mana pun kamu berada saat sedang di luar rumah, masker menjadi hal wajib yang harus kamu jaga. Jangan lupa kenakan masker, bahkan saat kamu sedang di dalam bilik toilet sekalipun.

Penggunaan masker secara tepat dan bersih, dapat membantumu dalam meminimalisir risiko penularan. Kamu dapat melindungi dirimu dan juga melindungi orang lain.

2. Menjaga jarak saat mengantre

Menggunakan toilet umum tentunya sama dengan saling berbagi tempat dan giliran dengan orang lain. Tak heran bila kemudian kamu harus mengantre sebelum akhirnya dapat menggunakan toilet umum.

Dalam mengantre, jangan lupa untuk tetap menerapkan prokes berupa menjaga jarak satu sama lain dengan taat. Cara tersebut akan mampu meminimalisir risiko penularan karena tidak saling berdekatan dengan orang lain.

3. Menutup wc saat sedang flush

Flush merupakan tindakan saat kamu memencet tombol wc untuk menyiram secara otomatis. Hal seperti ini pun harus kamu perhatikan terlebih dahulu. Sebelum melakukan flush, pastikan dirimu sudah menutup wc terlebih dahulu dengan rapat. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan dari percikan air atau udara yang dapat berisiko terhirup atau terkena bagian tubuh.

4. Rajin mencuci tangan

Sebelum masuk toilet dan sesudahnya, mencuci tangan merupakan hal yang wajib. Jangan sepelekan kewajiban penting yang satu ini saat menggunakan toilet umum.

Setelah rajin mencuci tangan, kamu pun juga harus ekstra berhati-hati untuk tidak menyentuh bagian muka ataupun bagian tubuh yang lainnya. Hal ini dapat mengurangi risiko penularan secara maksimal.

5. Gunakan tisu daripada mesin pengering otomatis

Dalam penggunaan toilet umum ataupun wastafel cuci tangan, biasanya selalu ada tisu dan mesin pengering otomatis yang tersedia. Pada umumnya orang lebih menyukai mesin pengering otomatis karena lebih praktis dan mudah.

Meski demikian, namun sebaiknya hindari penggunaan mesin pengering karena partikel udaranya dapat menaikkan risiko penularan. Lebih baik gunakan tisu kering yang masih baru agar tanganmu bisa kering dan tetap bersih.

Dengan menaati tips dan peraturan yang tepat pada saat menggunakan toilet umum, maka kamu pun dapat memastikan keamanan dan menjalankan protokol kesehatan dengan tepat. Jangan sepelekan tips di atas, ya! (*)

Editor: Yusva Alam

Begini Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen bagi Pasien COVID-19

Begini Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen bagi Pasien COVID-19

Begini Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen bagi Pasien COVID-19

Ilustrasi cek saturasi oksigen. (Stanley Ng from Pexels)

Akurasi.id – Saturasi adalah jumlah kadar oksigen yang ada dalam darah. Dalam keadaan normal atau sehat, angka batas minimal saturasi oksigen adalah 95 persen hingga 100 persen. Bagi pasien covid-19, apabila dalam kondisi tidak normal dibutuhkan pengetahuan cara meningkatkan saturasi oksigen.

Dilansir dari bola.com, Kamis (22/07/2021) Saturasi oksigen seseorang dapat diukur dengan alat yang bernama oximeter. Pengukurannya dilakukan dengan cara menjepitkan oximeter pada jari tangan. Jika saturasi oksigen dalam darah kurang dari 95 persen, seseorang bisa mengalami gangguan atau kesulitan bernapas. Karenanya perlu tahu cara meningkatkan saturasi oksigen.

Pasien COVID-19 biasanya memiliki tingkat oksigen di dalam darah yang rendah. Hal ini dikarenakan sirkulasi oksigen pada pasien terhambat akibat adanya infeksi virus pada paru-paru. Kondisi tersebut yang mengakibatkan penumpukan cairan yang menyulitkan oksigen masuk ke tubuh.

Namun, tak perlu khawatir jika saturasi oksigen turun di bawah 95 persen. Ada cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan saturasi oksigen agar kembali ke level normal. Berikut ini rangkuman tentang cara meningkatkan saturasi oksigen bagi pasien COVID-19, seperti dilansir dari Instagram Kementerian Kesehatan, Rabu (21/7/2021).

Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen

Melansir akun resmi Instagram Kementerian Kesehatan (Kemenkes), untuk tingkatkan saturasi dalam darah bisa dengan teknik proning. Proning merupakan cara meningkatkan oksigen pada pasien yang mengalami sesak napas secara efektif. Dalam dunia medis, dilakukan dengan posisi tengkurap.

Yap, untuk meningkatkan saturasi oksigen dilakukan dengan posisi tengkurap karena pada posisi tersebut oksigenasi disebut lebih mudah.

Berikut cara meningkatkan kadar oksigen dalam darah dengan teknik proning:

  • Pertama, berbaring tengkurap di atas alas. Pastikan menggunakan bantal di bawah leher, panggul, dan kaki. Lakukan posisi ini selama 30 menit.
  • Pada posisi kedua, berbaring menyamping. Pastikan alas dan bantal di bawah leher, panggul, dan dijepit di antara kedua kaki. Lakukan posisi ini selama 30 menit.
  • Selanjutnya, duduk dengan kaki selonjor lurus ke depan dan badan menempel dinding. Gunakan penyangga bantal dalam posisi duduk. Sama seperti dua posisi sebelumnya, lakukan ini selama 30 menit.

Catatan: selama melakukan teknik tersebut, upayakan berada di ruangan dengan sirkulasi udara yang baik.

Apabila teknik tersebut sudah sering dilakukan, tetapi belum bisa meningkatkan saturasi dalam tubuh, segera ke fasyankes terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. (*)

Editor: Yusva Alam

Kasus Covid-19 Melonjak Lagi, Dokter Sarankan Pakai Double Masker

Kasus Covid-19 Melonjak Lagi, Dokter Sarankan Pakai Double Masker

Kasus Covid-19 Melonjak Lagi, Dokter Sarankan Pakai Double Masker

Masker rangkap atau double mask memberikan proteksi maksimal hingga 85 persen dari ancaman paparan virus corona penyebab Covid-19. (iStockphoto/Kemal Yildirim)

Akurasi.id — Munculnya virus corona penyebab Covid-19 varian Delta membuat setiap orang ingin lebih terlindungi. Salah satu caranya adalah dengan pakai double masker.

Namun, benarkah penggunaan masker rangkap membuat seseorang lebih terlindungi?

Pada dasarnya, masker jadi salah satu cara untuk melindungi diri dari penularan Covid-19. Masker bisa menghalau droplet yang kemungkinan terkontaminasi virus SARS-CoV-2.

Kini, di tengah lonjakan angka kasus, sejumlah pihak menyarankan penggunaan masker rangkap sebagai bentuk perlindungan yang lebih optimal.

Dokter spesialis penyakit dalam, Eric Daniel Tenda menyarankan pakai double masker. Dijelaskannya,  penggunaan double mask bisa memberikan perlindungan optimal dari virus corona.

Penggunaan masker medis memberikan perlindungan sebesar 50-60 persen dari risiko terpapar Covid-19. Jika ditambah dengan masker kain di lapisan luar, maka perlindungan yang diberikan akan semakin besar, yakni 85 persen menurunkan risiko terpapar Covid-19.

“Double mask sangat disarankan, terutama di saat pandemi sekarang di mana varian Delta sudah ada di populasi kita. Double mask dengan masker medis dan masker kain itu dapat meningkatkan proteksi. Efektif bisa sampai 85 persen menurunkan risiko terpapar virus Covid-19,” kata Eric dilansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (24/6/2021).

Masker medis harus digunakan secara benar. Masker harus menutupi hidung hingga dagu.

Selain itu, tali masker juga disarankan disilang (knot) agar tak ada celah virus masuk dari samping. Dengan menyilangkan tali masker, maka tak akan ada bagian longgar saat menggunakan masker. Menyilangkan tali masker juga meminimalisasi risiko virus masuk lewat samping tanpa tersaring masker.

“Pakai masker medis yang disimpul talinya supaya tidak ada celah terbuka. Kalau di kedokteran, kami pakai masker bedah yang disimpul supaya tidak terjadi kebocoran dari pinggir,” kata Eric.

Masker Kain Tiga Lapis Tak Disarankan

Eric juga tidak menyarankan penggunaan hanya masker kain tiga lapis saat kasus Covid-19 sedang melonjak. Masker kain memberikan perlindungan paling rendah dibanding masker lainnya.

Penggunaan masker kain dibolehkan jika dipakai untuk bagian luar masker medis. Masker kain juga harus dicuci setelah digunakan dan dijemur di bawah sinar matahari hingga kering.

Masker kain yang dibiarkan basah dalam jangka waktu lama memungkinkan risiko tumbuhnya jamur. Penggunaan yang terlalu lama justru berisiko terkena infeksi jamur.

Penggunaan dua masker ini juga tak disarankan dalam jangka waktu lama. Eric menyarankan penggunaan dua masker maksimal enam jam. Masker kain harus segera dicuci, sementara masker medis harus diganti baru.

“Masker harus diganti setiap enam jam. Apalagi kalau batuk, keringetan, maka masker jadi basah. Maka setidaknya diganti enam jam sekali,” tuturnya. (*)

Editor: Yusva Alam

Serba-serbi Vaksin AstraZeneca dan Sinopharm

Serba-serbi Vaksin AstraZeneca dan Sinopharm

Serba-serbi Vaksin AstraZeneca dan Sinopharm

Ilustrasi penyuntikan vaksin (ANTARA FOTO/Soeren Stache/Pool via REUTERS)

Akurasi.id – Indonesia sudah memulai program vaksinasi sejak Januari 2021 lalu. Setelah berjalan sekitar 5 bulan, program vaksinasi telah mencakup 22 persen dari target 181,5 juta jiwa. Sejauh ini, Indonesia telah menggunakan tiga vaksin utama yaitu CoronaVac dari Sinovac, COVID-19 dari PT Bio Farma, dan vaksin Vaxzevria dari AstraZeneca.

Sementara Indonesia sudah memulai vaksinasi tahap empat untuk warga berusia 18 tahun ke atas, AstraZeneca pun jadi bahan perbincangan. Dalam waktu dekat, vaksin BBIBP-CorV dari Sinopharm juga akan masuk Indonesia untuk digunakan dalam skema vaksin Gotong Royong.

Akan tetapi, belakangan, masyarakat sempat ragu dengan AstraZeneca karena dapat menyebabkan efek samping parah namun hal tersebut bisa disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Vaksin AstraZeneca dan Sinopharm. Dilansir idntimes.com, Selasa (22/06/2021), berikut apa saja yang perlu kita tahu tentang vaksin AstraZeneca dan Sinopharm?

  1. Kematian pada vaksinasi dengan AstraZeneca

Masyarakat sempat gempar dengan munculnya tiga kasus kematian pasca vaksinasi dengan AstraZeneca. Dijelaskan oleh ketua Komnas KIPI, Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, Sp. A(K), M. Trop Paed., 2 dari tiga kasus tersebut bukan karena vaksin, melainkan karena infeksi COVID-19 dan pneumonia.

Mengutip keterangan tertulis yang diterima IDN Times dari Prof. Zullies Ikawati, PhD. Apt., dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), satu kasus pada Mei 2021 lalu yang melibatkan seorang laki-laki berusia 22 tahun di Buaran, Jakarta Timur, memang tengah diinvestigasi hubungan kausalitasnya dengan AstraZeneca. Autopsi telah dilakukan pada 24 Mei.

Dikarenakan tiga kasus tersebut, masyarakat menjadi sangsi dengan vaksin AstraZeneca. Terlebih, beberapa sumber memberitakan AstraZeneca dapat menyebabkan pembekuan darah atau trombosis hingga berakibat fatal.

  1. Memang ada hubungan kuat antara vaksin AstraZeneca dan trombosis, tetapi kecil kemungkinannya

Hasil evaluasi dari Badan Pengawas Obat Eropa (EMA), memang ada hubungan kausalitas kuat antara kejadian trombosis dengan vaksin AstraZeneca. Namun, Prof. Ikawati menekankan bahwa frekuensinya sangat jarang.

Per tanggal 5 Mei 2021, setelah penggunaan sebanyak 30 juta dosis vaksin AstraZeneca, telah tercatat 262 laporan trombosis dari Eropa, dan dari angka tersebut, 51 dinyatakan meninggal dunia. Jika dihitung, persentasenya amat kecil.

Oleh karena itu, EMA menilai bahwa terlepas dari kemungkinan reaksi trombosis pada vaksin AstraZeneca, manfaatnya masih jauh lebih besar dibandingkan risikonya. Sempat terhenti produksi dan distribusinya, AstraZeneca pun tetap jalan terus.

  1. Kenapa vaksin AstraZeneca bisa bikin trombosis?

Penyebab pastinya masih diinvestigasi. Namun, ada dugaan bahwa reaksi trombosis tersebut dapat dikaitkan dengan platform vaksin AstraZeneca, viral vector dengan Adenovirus. Beberapa penelitian mengungkapkan Adenovirus menghasilkan reaksi aktivasi platelet yang menyebabkan trombosis.

Hal ini ditemukan pada vaksin dengan platform Adenovirus yang sama dengan AstraZeneca, yaitu Johnson&Johnson (J&J). Sebanyak 28 kasus trombosis serius dari 8,7 juta vaksin J&J terjadi per Mei 2021. Sempat dihentikan penggunaannya di AS, J&J sudah kembali digunakan setelah dievaluasi kembali.

Selain platform vaksin, laporan Prof. Ikawati menduga adanya reaksi imun berlebih terhadap vaksin Adenovirus. Ketika vaksin berikatan dengan platelet, terjadi serangkaian reaksi imun sehingga terjadi trombosis.

Reaksi ini pada dasarnya bisa membaik dengan sendirinya. Namun, reaksi ini juga dapat berakibat fatal. Reaksi imun berlebih ini mirip dengan reaksi heparin-induced thrombocytopenia and thrombosis (HITT or HIT tipe 2) pada pasien terhadap obat antikoagulan heparin. Bukannya mencairkan darah, malah menyebabkan trombosis.

Selain HITT/HIT tipe 2, kejadian ini mirip dengan reaksi syok anafilaksis setelah pemberian antibiotik golongan penisilin. Kejadian ini jarang terjadi dan tidak selalu bisa diprediksi.

  1. Gejala trombosis yang harus diwaspadai

Trombosis akibat vaksin AstraZeneca yang dominan adalah cerebral-venous sinus thrombosis (CVST), terjadi pada pembuluh darah di sekitar kepala. Gejala-gejala umumnya adalah:

  • Sakit kepala hebat
  • Gangguan penglihatan
  • Mual dan muntah
  • Gangguan berbicara
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Pembengkakan pada kaki
  • Nyeri perut
  • Lebam di bawah kulit.

Jika terdapat gejala-gejala demikian, segera cari bantuan medis. Di Eropa, reaksi ini umumnya terjadi 3 – 14 hari setelah vaksinasi.

Kasus trombosis di Eropa sebagian besar terjadi pada penerima di bawah usia 40 tahun, dan kebanyakan adalah perempuan. Tetapi, jika pada suntikan pertama tak ada reaksi yang fatal, maka AstraZeneca tetap direkomendasikan untuk tetap komplet.

  1. Kenapa AstraZeneca sempat di-suspend?

Sekali lagi, perlu dicatat kalau kejadian fatal yang berhubungan dengan vaksin AstraZeneca amat jarang. Oleh karena itu, tindakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang menahan batch AstraZeneca CTMA457 adalah upaya investigasi agar jawaban transparan. Batch ini pun sudah kembali digunakan.

Kenapa hanya batch CTMA457 yang ditarik, bukan seluruh persediaan AstraZeneca? Analoginya, jika terjadi kecelakaan pesawat, maka yang ditinjau adalah pesawat yang mengalami kecelakaan, bukan menghentikan semua penerbangan sementara masih banyak orang yang membutuhkan.

Hasil investigasi BPOM RI menunjukkan kalau vaksin AstraZeneca dengan batch CTMA457 tidak bermasalah keamanannya, sehingga dapat digunakan lagi. Maka, kejadian KIPI hingga berakibat kematian tersebut bisa dikatakan bukan karena vaksin, melainkan karena faktor respons penerima terhadap vaksin.

  1. Apakah mereka dengan riwayat trombosis boleh menerima vaksin AstraZeneca?

Belum ada penelitian yang mengatakan kalau mereka dengan riwayat penyakit trombosis seperti deep vein thrombosis, stroke, hingga iskemia dapat mengalami trombosis akibat vaksin. Penerima vaksin dengan riwayat HITT/HIT tipe 2 dapat lebih berisiko. Akan tetapi, perlu dicatat kalau kejadian ini sangat jarang!

Namun, untuk lebih berhati-hati, Prof. Ikawati menyarankan mereka dengan riwayat penyakit trombosis atau HITT/HIT tipe 2 untuk mencoba vaksin selain AstraZeneca atau berkonsultasi dengan dokter sebelum menerima vaksinasi.

  1. Efikasi Sinopharm tergolong tinggi

BBIBP-CorV adalah vaksin Sinopharm yang datang dari Tiongkok. Telah menjalani uji klinis tahap ke-3 di berbagai negara, Sinopharm masuk ke dalam daftar Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Vaksin Sinopharm menggunakan platform yang sama dengan Sinovac, yaitu virus yang dimatikan atau inactivated. Saat diujikan di Uni Emirat Arab, efikasi vaksin Sinopharm mencapai 79 persen, dan dapat digunakan mulai dari 18 tahun hingga lansia. Dua dosis vaksin Sinopharm dapat diberikan dalam jeda waktu 21 hari.

  1. Efek samping ringan pada vaksin Sinopharm

Oleh karena memiliki platform yang sama dengan Sinovac, maka profil efek sampingnya pun juga mirip. Prof. Ikawati mencatat frekuensi KIPI vaksin Sinopharm tergolong amat jarang, yaitu 0,01 persen.

Efek samping yang umum dijumpai saat uji klinis pun juga tergolong lokal dan ringan yaitu nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan. Efek samping sistemik yang dapat terjadi berupa sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, diare, dan patuk.

Perlu dicatat, efek-efek samping ini dapat segera membaik dan tidak membutuhkan pengobatan.

  1. Siapa yang bisa mendapatkan vaksin Sinopharm

Untuk sementara, WHO merekomendasikan vaksin Sinopharm untuk ibu hamil karena manfaatnya lebih besar dibandingkan risikonya. Ibu hamil disarankan untuk berkonsultasi sebelum mendapatkan vaksin Sinopharm. Hal ini dikarenakan data vaksin dengan ibu hamil masih terbatas.

Untuk ibu menyusui, efektivitas vaksin Sinopharm juga diharapkan serupa seperti halnya pada orang dewasa lainnya. Para ibu tidak harus berhenti menyusui setelah vaksin.

Mereka yang pernah terkena COVID-19 juga disarankan untuk mendapatkan vaksin. Setelah 6 bulan, para penyintas COVID-19 dapat mendapatkan vaksin Sinopharm tanpa harus khawatir kambuhnya gejala. Tetapi, mereka diharapkan menjalani tes PCR terlebih dahulu sebagai konfirmasi.

Mereka yang menderita infeksi human immunodeficiency virus (HIV) lebih berisiko terkena COVID-19. Karena vaksin Sinopharm bersifat non-replikasi, pasien HIV disarankan untuk dapat divaksinasi. Namun, sebelum mendapatkan vaksin, alangkah lebih baiknya mereka berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter.

Individu dengan riwayat anafilaksis terhadap komponen vaksin tidak disarankan untuk menerima vaksin Sinopharm. Selain itu, individu dengan suhu tubuh 38,5 derajat Celcius juga disarankan untuk menunda vaksinasi sampai suhu tubuh kembali normal.

Itulah beberapa penjelasan tentang Vaksin AstraZeneca dan Sinopharm, (*)

Editor: Yusva Alam

Yuk Ingat Lagi! Aturan Isolasi Mandiri Pasien COVID-19

Yuk Ingat Lagi! Aturan Isolasi Mandiri Pasien COVID-19

Yuk Ingat Lagi! Aturan Isolasi Mandiri Pasien COVID-19

Wabah covid-19 kembali meningkat. Mari ingat lagi aturan isolasi mandiri. (Pius Erlangga)

Akurasi.id – Kasus COVID-19 di Indonesia kini tengah meningkat pesat. Akibatnya, jumlah bed atau tempat tidur perawatan di rumah sakit tidak mampu menampung semua pasien.

Hal ini membuat sebagian pasien yang tidak bergejala memilih untuk melaksanakan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Tetapi, banyak yang masih khawatir dan bingung mengenai apa saja yang harus dilakukan selama isolasi.

Dilansir dari detik.com, Sabtu (19/06/2021), menurut Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), dr Erlang Samoedro, SpP (K), ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menjalani isolasi mandiri. Terutama tetap menggunakan masker.

“Kalau isolasi di rumah, kita harus jaga jarak dengan orang yang di rumah yang nggak sakit. Selalu menggunakan masker, kecuali kalau sedang di dalam kamar sendirian ya. Nggak kontak dengan keluarga yang tidak sakit di rumah,” kata dr Erlang saat dihubungi detikcom, Jumat (18/6/2021).

Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu dilakukan saat pasien COVID-19 menjalani isolasi mandiri di rumah seperti yang dikutip dari laman Kementerian Kesehatan. Berikut aturan isolasi mandiri yang harus dilakukan bagi pasien covid-19.

  1. Selalu memakai masker dan membuang masker bekas pakai di tempat yang ditentukan.

  2. Jika sakit (ada gejala demam, flu, dan batuk), maka tetap berada di rumah. Jangan pergi bekerja, sekolah, ke pasar, atau ke ruang publik untuk mencegah penularan masyarakat.



  3. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, dan jaga jarak dari anggota keluarga.

  4. Cek suhu gejala secara rutin, seperti mengecek suhu harian, batuk, dan sesak napas. Hindari juga pemakaian peralatan makan, alat mandi, dan tempat tidur dengan keluarga yang tidak sakit.

  5. Terapkan perilaku hidup sehat dan bersih, serta konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun, dan air yang mengalir serta lakukan etika batuk dan bersin.

  6. Jaga kebersihan dan kesehatan rumah dengan cairan desinfektan. Selalu berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi, kurang lebih selama 15-30 menit.

  7. Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit berlanjut, seperti sesak napas dan demam tinggi, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. (*)

Editor: Yusva Alam

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Kepala LPB Eijkman Amin Soebandrio menyebut tak ada bedanya antara gejala virus corona varian delta dari India dengan varian sebelumnya. (iStockphoto/Ovidiu Dugulan)

Akurasi.id, Bontang –Virus corona varian delta dari India disebut-sebut memiliki beberapa gejala yang berbeda dengan varian lainnya. Beberapa gejala yang disebut sebagai gejala covid-19 akibat virus corona varian delta adalah gangguan pendengaran dan juga gangrene (pembekuan darah).

Bagaimana dengan Covid-19 varian delta yang sudah masuk ke Indonesia?

Kepala LPB Eijkman Amin Soebandrio mengatakan saat ini belum ada laporan mendasar terkait gejala gangguan pendengaran karena virus corona varian delta dari di Indonesia.

“Laporannya masih terbatas, jadi belum bisa diambil kesimpulan apakah terkait [gangguan pendengaran] atau tidak,” katanya.

Ia menyamakan temuan itu layaknya beberapa gejala klinis dari virus Corona yang dikabarkan menyerang syaraf pusat. Laporan tersebut juga belum dibuktikan secara ilmiah.

Amin mengungkapkan bahwa gejala virus corona varian delta dari India ini sulit dibedakan dari varian lainnya. Yang membedakan adalah gejalanya lebih berat atau lebih cepat meninggal.

“Tidak ada pembeda, yang membedakan mungkin nanti apakah [gejalanya] lebih berat atau lebih cepat meninggal,” ujar Amin dilansir dari CNNIndonesia.com, Rabu (16/6/2021).


“Tapi saat ini di Indonesia belum terlihat perbedaannya (varian delta dengan varian lainnya).”

Sebelumnya, mengutip berbagai sumber, para ilmuwan berpendapat varian delta tampaknya menyebabkan gejala yang sangat parah.

Beberapa gejala corona varian delta yang muncul berupa sakit perut, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan nyeri sendi. Namun beberapa gejala yang muncul dan terlihat di India, pasien corona varian delta mengalami masalah gangguan pendengaran, sampai gangrene. (*)

Penulis/Editor: yusva alam

Panduan Merayakan Lebaran Sehat di Tengah Pandemi Corona

Panduan Merayakan Lebaran Sehat di Tengah Pandemi Corona

Panduan merayakan lebaran di tengah kondisi seperti saat ini memang perlu dipelajari oleh setiap orang. Sebaiknya tetap disiplin dan mematuhi protokol kesehatan sesuai dengan arahan pemerintah. Mulai dari menahan diri untuk tidak mudik hingga tindakan konsumtif di tengah keramaian.

Intip Panduan Merayakan Lebaran dengan Aman

Merayakan lebaran di tengah pandemi memang menjadi sebuah tantangan. Banyak hal atau keinginan yang harus ditahan karena keadaan ini. Seperti halnya ritual mudik atau pulang kampung yang biasa dilakukan setiap tahun ketika lebaran.

Lalu menahan diri untuk tidak berbelanja di lokasi ramai sehingga menimbulkan keramaian. Berikut ini beberapa panduan atau tips untuk merayakan hari raya di tengah pandemi.

Menghindari Malam Takbir

Maksud dari menghindari di sini adalah tidak mendatangi kerumunan untuk merayakan kemenangan dengan takbir. Akan tetapi, lebih baik merayakan takbir di rumah bersama dengan keluarga. Masjid di sekitar rumah tentunya menggemakan takbir lewat pengeras suara. Sehingga tetap bisa bertakbir meskipun hanya di rumah.

Menjaga Jarak Saat Shalat Idul Fitri

Panduan merayakan lebaran selanjutnya adalah menjaga jarak. Seperti hari raya sebelum-sebelumnya. Shalat Idul Fitri biasa dilakukan secara berjamaah, baik itu di masjid maupun tanah lapang. Sebelum mengikuti shalat Idul Fitri, sebaiknya tetap menerapkan protokol kesehatan.

Seperti berwudhu dari rumah, sehingga tidak menimbulkan kerumunan di lokasi. Gunakan masker sesuai dengan standar. Jaga jarak dengan jamaah lain serta gunakan alat ibadah pribadi.

Tidak Berjabat Tangan Langsung

Salah satu media penularan Covid-19 adalah dengan berjabat tangan. Oleh sebab itu, hindari untuk melakukan jabat tangan dengan orang lain. Jabat tangan bisa diganti dengan senyuman dan salam yang berjarak.

Jangan mengobrol terlalu lama yang bisa menyebabkan kerumunan. Selain menjaga diri dan keluarga, mempelajari panduan merayakan lebaran dengan menjaga jarak juga menjadi pemutus penyebaran Covid-19.

Silaturahmi Melalui Media Sosial

Ketika tradisi mudik dilarang, bersilaturahmi dengan keluarga yang jauh atau di kampung halaman bisa memanfaatkan teknologi yang ada saat ini. Salah satunya adalah smartphone.

Manfaatkan aplikasi yang bisa menghubungkan dengan keluarga melalui video call. Sehingga meskipun tidak pulang kampung tetap bisa bersilaturahmi dengan keluarga jauh. Sesuai dengan aturan pemerintah tentang panduan merayakan lebaran.

Tips Ngabuburit Puasa Ramadan Saat Pandemi Covid-19

Tips Ngabuburit Puasa Ramadan Saat Pandemi Covid-19

Ada banyak sekali tips ngabuburit puasa Ramadan yang bisa anda lakukan meskipun pandemi Covid-19 masih menyerang. Selain itu, kita juga bisa menjalankan tips puasa dengan benar supaya selalu berkah.

Nah, bagi anda yang bingung bagaimana cara ngabuburit yang tepat, mulai sekarang jangan khawatir lagi. Karena ada banyak cara yang bisa anda lakukan meskipun hanya dari rumah saja.

Tips Ngabuburit Puasa Ramadan yang Seru dan Mengasyikan

Bulan Ramadan 2021 seperti sekarang ini memang cukup berbeda jauh dari tahun 2019 lalu. Karena info Ramadan saat ini ada pandemi yang masih belum hilang.

Sehingga membuat banyak orang harus menjaga jarak masing-masing. Bahkan pemerintah melarang kita untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan.

Jika anda merasa bosan di rumah saja selama Ramadan, banyak cara untuk ngabuburit yang bisa anda lakukan. Bahkan cukup seru dan mengasyikan.

Memasak Makanan Favorit

Tips ngabuburit puasa Ramadan yang pertama adalah memasak menjelang berbuka puasa. Kegiatan ini memang cukup anda lakukan dari rumah saja.

Anda bisa berbagi tugas bersama anggota keluarga untuk memulai memasak. Tentunya cara seperti ini cukup mengasyikkan dan seru.

Menonton Film Religi

Gunakan waktu luang anda bersama keluarga untuk bersantai di ruang makan sambil menunggu berbuka. Caranya dengan menonton berbagai macam film religi.

Tips seperti ini selain hanya menghibur anda juga bisa menambah ilmu tentang agama. Jadi, gunakan waktu sebaik mungkin untuk menghibur diri anda.

Video Call

Sebelum menjelang berbuka puasa, anda bisa melakukan video call bersama teman atau saudara yang berbeda tempat. Gunakan waktu tersebut walau hanya sekedar bercanda gurau.

Atau mungkin biasa dengan menceritakan bagaimana puasa hari ini dan menu berbuka apa. Sambil menunggu buka puasa anda bisa berbincang sambil tersenyum bahagia.

Bermain Game

Anda bisa memanfaatkan berbagai macam game di smartphone sembari menunggu berbuka puasa. Anda juga bisa bermain bersama keluarga supaya lebih seru lagi.

Tips ngabuburit puasa Ramadan seperti ini memang cukup efektif daripada harus keluar rumah. Karena kita harus selalu menjaga jarak dari kerumunan orang.

Aktivitas Lansia Cegah Osteoporosis Saat Pandemi, Dijamin Tetap Bugar

Aktivitas Lansia Cegah Osteoporosis Saat Pandemi, Dijamin Tetap Bugar

Tahukah anda, pandemi Covid-19 mempengaruhi kesehatan tubuh kita. Aktivitas lansia untuk cegah osteoporosis selama pandemi pun perlu kita edukasikan.

Dengan adanya pembatasan aktivitas, semua akan kembali kegiatan tubuh yang terbatas. Hanya melakukan dengan lingkup rumah dan serba terbatas.

Hal ini bahkan akan sangat berpengaruh pada usia lanjut. Nah, bagaimana tips tetap bugar untuk para lansia pada masa pandemi Covid-19, simak ulasan di bawah ini.

Inilah Aktivitas Lansia Untuk Cegah Osteoporosis

Berikut ini dapat anda coba secara mudah. Bisa anda lakukan dari rumah dan mematuhi protokoler Covid-19.

Berjemur

Salah satu cara ini dapat anda lakukan di lingkungan rumah. Cukup pada pagi hari sekitar 10-15 menit sudah cukup, asal anda lakukan pada pagi hari. Karena matahari pagi memang baik untuk tubuh, juga akan berpengaruh pada osteoporosis bagi lansia.

Konsumsi Makanan Sehat

Aktivitas lansia cegah osteoporosis yang utama adalah menjaga konsumsi makanan. Hal ini sangat berpengaruh pada tubuh anda.

Jangan lupakan bahwa tubuh anda perlu memenuhi nutrisi, misalnya vitamin D. Karena tulang akan lebih sehat dengan asupan tersebut.

Olahraga Ringan

Dalam menjaga kesehatan tulang anda ini, sebaiknya anda perhatikan dengan baik sejak dini. Tidak harus menunggu lansia untuk sadar akan kesehatan tulang dan tubuh.

Nah, untuk para lansia akan lebih baik jika melakukan peregangan ringan. Jadikan kebiasaan secara rutin, namun jangan memaksa tubuh.

Lakukan pada pagi hari atau sore hari sebentar saja. Namun yang paling penting adalah rutin dalam melaksanakan kebiasaan tersebut.

Hindari Rokok

Aktivitas cegah osteoporosis yang satu ini harus anda pertimbangan. Rokok memang tidak dianjurkan, bahkan untuk anak muda. Kandungan yang ada di dalamnya tidak baik untuk tubuh. Jadi, sebaiknya anda mengurangi kebiasaan yang satu ini.

Dengan menjaga kesehatan tubuh dan tulang, akan membuat hidup lebih nyaman. Kesehatan jadi nomor satu, nikmat yang sangat disyukuri.

Aktivitas lansia untuk cegah osteoporosis yang dapat anda biasakan ini akan mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Hal ini merupakan tabungan masa lansia anda.