Waspada, 5 Penyakit 'Silent Killer' Mengintai Anda

Waspada, 5 Penyakit ‘Silent Killer’ Mengintai Anda

Waspada, 5 Penyakit 'Silent Killer' Mengintai Anda

‘Silent killer’ didefinisikan sebagai penyakit yang tak memicu gejala atau indikasi yang terlihat kentara. (iStockphoto/MIND_AND_I)

Akurasi.id, Bontang — Pada Senin (14/6) legenda bulutangkis Markis Kido meninggal saat bermain bulutangkis di Tangerang, Banten. Kematian mendadak seseorang kerap dikaitkan dengan silent killer disease atau penyakit yang membunuh dalam senyap.

Apa itu ‘silent killer‘? Dan penyakit apa saja yang termasuk ‘silent killer‘?

Dalam Collins Dictionary, ‘silent killer‘ diartikan sebagai penyakit yang tidak memiliki gejala atau indikasi yang terlihat kentara.

Tanpa Anda ketahui, ada penyakit-penyakit yang diam-diam siap menggerogoti tubuh tanpa menimbulkan gejala berarti. Jika tidak diwaspadai, penyakit-penyakit ini bisa menimbulkan situasi serius bahkan fatal.

Berikut beberapa penyakit termasuk ke dalam ‘silent killer’. Dilansir dari cnnindonesia.com, Rabu (16/06/2021)

  1. Hipertensi

Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi jadi faktor risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A Damay menyebut, hipertensi berisiko mengakibatkan serangan jantung, aorta diseksi, dan stroke pendarahan. Semuanya menyebabkan kematian mendadak.

Berdasar data Riskesdas 2018, sekitar 34 persen orang Indonesia memiliki hipertensi. Dari sekian banyak penderita hipertensi, 32 persen tidak rutin minum obat. Padahal, obat berfungsi mengontrol tekanan darah.

“Lebih dari 50 persen penderita tidak minum obat dengan alasan mereka merasa sehat. Hal ini membuat hipertensi menjadi pembunuh senyap atau silent killer,” ujar Vito pada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (15/6)

  1. Kanker Kulit

Kanker bisa menyerang semua organ tubuh, termasuk kulit. Kanker kulit timbul saat terjadi pertumbuhan sel kulit secara tidak normal. Kebanyakan kasus kanker kulit terjadi akibat paparan sinar matahari berlebihan.

Mengutip laman Mayo Clinic, ada empat tipe kanker kulit, yakni karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, melanoma, dan kanker kulit non-melanoma.

Dari beberapa tipe kanker kulit, melanoma memiliki gejala yang kerap tidak disadari. Dalam beberapa kasus, melanoma timbul berawal dari tahi lalat. Karena dianggap sebagai tahi lalat biasa, tidak ada tindak lanjut sehingga semakin lama membesar dan merusak jaringan sekitarnya.

  1. Diabetes

Setahun terakhir, diabetes mendapat sorotan berkaitan dengan Covid-19. Penyakit ini jadi salah satu penyakit komorbid yang bisa memperparah kondisi orang yang terinfeksi virus corona.

“Diabetes ini penyakit progresif dan kronis. Kesadarannya harus tetap dikumandangkan. Saat ini, penderita diabetes bukan makin sedikit, tapi makin banyak,” ujar ahli penyakit dalam, dr Sidartawan Soegondo, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, yang perlu diperhatikan, diabetes juga jadi pintu masuk untuk penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, stroke, neuropati, juga ketoasidosis diabetik yang bisa mengancam nyawa.

  1. Fatty liver disease

Fatty liver disease atau perlemakan hati berarti penumpukan lemak di organ hati. Dalam dunia medis, perlemakan hati juga dikenal sebagai hepatic steatosis.

Biasanya, orang yang mengonsumsi alkohol berlebih dalam jangka panjang berisiko mengalami perlemakan hati. Namun, tidak menutup kemungkinan perlemakan hati juga terjadi pada mereka yang tidak banyak mengonsumsi alkohol.

Dalam beberapa kasus, orang merasa aman dari perlemakan hati karena tidak banyak bersentuhan dengan alkohol. Mengutip dari WebMD, perlemakan hati pada nonkonsumen alkohol kemungkinan bisa terjadi akibat faktor genetik, yang disertai faktor-faktor lain seperti obesitas, kadar kolesterol tinggi, usia lanjut, sleep apnea, hipotiroidisme, malnutrisi dan penurunan berat badan secara drastis.

Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, perlemakan hati akan menimbulkan komplikasi antara lain penumpukan cairan pada abdomen, pembengkakan pembuluh darah esofagus yang bisa pecah, kanker hati, dan gagal hati (liver failure).

  1. Osteoporosis

Tubuh ditopang oleh susunan tulang yang terus-menerus rusak tetapi ada tulang-tulang baru yang siap menggantikan. Namun, jika seseorang mengalami osteoporosis, tulang rusak lebih cepat daripada proses perbaikannya. Tulang jadi kurang padat dan mudah keropos.

Mengutip dari Healthline, osteoporosis membuat tulang rentan retak dan patah. Tanpa penanganan serius, mobilitas pasien bisa sangat terbatas, rasa sakit, depresi yang kemudian menurunkan kualitas hidup.(*)

Penulis/Editor: Yusva Alam

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.