Benar kah Terlalu Banyak Tidur Bisa Sebabkan Depresi?

Benar kah Terlalu Banyak Tidur Bisa Sebabkan Depresi?

Benar kah Terlalu Banyak Tidur Bisa Sebabkan Depresi?

Kebanyakan orang dengan depresi sering kali mengalami masalah dalam rutinitas tidur. (freepik.com/jcomp)

Akurasi.idTidur berkualitas adalah faktor penting untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental. Menurut keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), durasi tidur ideal per hari untuk orang dewasa adalah 7-9 jam dan 8-10 jam untuk remaja.

Kita tahu bahwa kurang tidur bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Lantas, bagaimana bila waktu tidur melebihi rekomendasi di atas? Ternyata, terlalu banyak tidur juga telah dikaitkan dengan sejumlah masalah, seperti risiko penyakit diabetes, jantung, serta bisa memicu depresi pada beberapa orang.

Menurut Sleep Foundation, kebanyakan orang dengan depresi sering kali mengalami masalah dalam rutinitas tidur. Mereka mungkin kesulitan untuk tidur dengan nyenyak, mengantuk pada siang hari, atau bisa juga terlalu banyak tidur.

Dilansir dari idntimes.com, Senin, (21/06/2021), berikut ini penjelasan tentang hubungan antara tidur berlebihan dengan depresi yang menarik untuk diketahui.

  1. Mengapa seseorang bisa tidur berlebihan?

Bagi penderita hipersomnia dan sleep apnea obstruktif, tidur berlebihan merupakan bentuk gangguan tidur yang cenderung mengganggu siklus tidur normal. Studi  yang dimuat dalam jurnal Dialogues in Clinical Neuroscience tahun 2008 memaparkan, kecenderungan tidur berlebihan rentan terjadi pada perempuan atau seseorang berusia di bawah 30 tahun yang mengalami depresi.

Penelitian dalam jurnal Current Sleep Medicine Reports tahun 2015 menjelaskan, oversleeping atau tidur berlebihan merupakan salah satu gejala dari depresi, bukan penyebab utama depresi itu terjadi.

Temuan tersebut diperkuat lewat penelitian dalam Journal of Affective Disorders tahun 2017 menyatakan, kebanyakan orang dengan depresi berat memiliki beberapa jenis gangguan tidur, salah satunya hipersomnia atau rasa kantuk berlebihan di siang hari (lebih sering dikaitkan dengan depresi atipikal).

  1. Tidur berlebihan dapat memperburuk gejala depresi

Gangguan tidur dapat berkembang jauh sebelum depresi itu hadir. Kendati demikian, para ahli belum bisa memastikan hubungan antara gangguan tidur dengan peningkatan risiko depresi.

Melalui penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One tahun 2014, didapat temuan bahwa orang yang tidur lebih dari 8 jam per hari kemungkinan lebih banyak mengalami gejala depresi dibanding orang yang tidur selama atau kurang dari 8 jam per hari.

  1. Tidur berlebihan dapat mengganggu siklus tidur

Tidur terlalu sedikit maupun berlebihan, keduanya sama-sama memengaruhi ritme sirkadian (siklus alami tidur-bangun) tubuh. Hal ini dapat menyebabkan sel-sel tubuh kebingungan mengirimkan sinyal sehingga membuat tubuh kesulitan menanggapinya.

Ketika ritme sirkadian terganggu, seseorang bisa terbangun dari tidurnya dengan kondisi lelah atau merasa siap tidur hanya beberapa jam setelah bangun. Seiring waktu, jadwal tidur-bangun yang tidak konsisten dapat berimbas pada kebutuhan ideal waktu tidur yang terganggu.

  1. Tidur berlebihan merusak rencana esok hari

Ketika rencana esok hari telah disusun dengan matang, tapi karena insiden terlambat bangun tidur membuat semuanya menjadi kacau. Daftar tugas yang perlu diselesaikan hari itu menjadi terbengkalai hingga berimbas pada kemerosotan suasana hati. Merasa menyia-nyiakan waktu, orang yang bersangkutan mungkin merasa kesal hingga berujung pada frustrasi karena to-do list tidak selesai dengan baik.

Terlalu banyak tidur juga dapat membuat seseorang terpaksa membatalkan janji pertemuan atau menunda melakukan hal-hal yang disukainya. Kondisi ini tidak jarang menciptakan perasaan bersalah dan kecewa terhadap dirinya sendiri.

Bila ini tidak ditangani dengan bijak, orang tersebut mungkin akan berhenti menyusun rencana untuk esok hari, yang lama-lama bisa memicu rasa kesepian. Kemudian, pada titik tertentu, ini bisa berujung pada depresi.

  1. Strategi untuk mengatasi kebiasaan tidur berlebihan

Bagi sebagian orang, durasi tidur yang lama mungkin sudah jadi kebiasaan yang sulit untuk diubah. Namun, mengingat risiko kesehatan akibat tidur berlebih juga tak boleh dipandang sebelah mata, banyak orang mulai beralih ke penerapan pola hidup yang lebih sehat.

Dilansir Healthline, strategi sederhana berikut ini dapat kamu terapkan untuk membantu mengatasi kebiasaan tidur berlebihan:

  • Jangan melewatkan sarapan: sarapan ringan kaya akan protein dapat memberi dorongan energi untuk menjalani aktivitas di hari tersebut. Sarapan bergizi yang bisa kamu coba di antaranya adalah oatmeal dengan tambahan buah atau yoghurt, pisang atau apel dengan selai kacang, dan roti gandum bersama alpukat atau telur. Pastikan kebutuhan air putih terpenuhi untuk menghindari dehidrasi ringan.
  • Olahraga di pagi hari: menurut penelitian dalam British Journal of Sports Medicine tahun 2020olahraga pagi secara singkat dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan memori pada siang hari. Selain itu, olahraga juga dapat meningkatkan energi serta memperbaiki suasana hati. Kamu bisa melakukan yoga, jalan-jalan di area sekitar rumah, atau bernyanyi dan menari lagu favorit.
  • Berjemur di bawah sinar matahari: cahaya alami dari matahari pagi dapat membantu tubuh lebih berenergi. Jika suasana pagi hari tidak mendukung untuk berjemur, kamu dapat menyalakan lampu sebagai alternatif lainnya.

Tidur berlebihan akan berpengaruh pada kualitas hidup. Jika saat ini kamu tengah berjuang melawan kebiasaan tidur berlebihan dengan indikasi masalah kesehatan, maka berkonsultasi dengan ahlinya, dokter maupun ahli kesehatan mental, bisa dilakukan. Mereka bisa membantu proses diagnosis dan menetapkan perawatan yang tepat untuk mengelola kondisi tersebut. (*)

Editor: Yusva Alam

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.