Pro Kontra Vitamin D Mampu Usir Covid-19, Ini Fakta!

Pro Kontra Vitamin D Mampu Usir Covid-19, Ini Fakta!

Pro Kontra Vitamin D Mampu Usir Covid-19, Ini Fakta!

Vitamin D diketahui dapat membantu mempertahankan bahkan meningkatkan imunitas. (Multivitamin. – Bloomberg)

Akurasi.id – Vitamin D diketahui dapat membantu mempertahankan bahkan meningkatkan imunitas. Tidak heran jika suplemen vitamin ini banyak dicari masyarakat di masa pandemi Covid-19. Namun begitu masih terjadi pro kontra vitamin D di tengah-tengah masyarakat.

Belakangan beberapa penelitian mengklaim vitamin D berperan penting dalam proses pencegahan dan pengobatan Covid-19. Semua kemungkinan terbuka dari penelitian-penelitian yang dilakukan, namun belum ada cukup bukti untuk memastikannya.

Untuk wilayah dengan sinar matahari yang cukup sepanjang tahun seperti di Indonesia, biasanya masyarakat tidak akan kekurangan vitamin D. Sebaliknya, untuk wilayah yang kurang mendapatkan sinar matahari seperti di Inggris, masyarakatnya biasanya disarankan untuk mengonsumsi suplemen vitamin D.

Jelang musim dingin, warga Inggris disarankan untuk mengonsumsi vitamin D. Bahkan, khusus musim dingin 2020, pemerintah Inggris memberikan suplemen vitamin D secara gratis untuk warganya yang berisiko tinggi terhadap Covid-19. Lalu, apakah berarti vitamin D dapat mencegah infeksi Covid-19? Ini yang masih menjadi pro kontra vitamin D.

Dilansir dari tempo.co, Rabu (14/07/2021), Tim peneliti Universitas Northwestern pernah menemukan hubungan antara kekurangan vitamin D dengan infeksi virus corona. Mereka juga menyatakan pasien dari negara-negara dengan tingkat kematian Covid-19 yang tinggi diketahui memiliki kadar vitamin D yang rendah. Tetapi, para peneliti memberikan catatan terhadap hasil penelitian tersebut. Mereka mengaku butuh penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan hubungan antara tingkat infeksi virus dan vitamin D dari satu negara dengan negara lain.

Penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan sebab ada perbedaan kualitas perawatan kesehatan, tingkat tes, usia populasi, atau jenis virus yang berbeda di setiap negara.

“Intinya, belum cukup data untuk bisa mengatakan vitamin D dapat mencegah seseorang terinfeksi Covid-19,” jelas Profesor Zubairi Djoerban melalui laman Instagramnya.

Penelitian di India beberapa waktu belakangan menjadi topik hangat. Salah satunya National Herald India dengan judul “Vitamin D shows promising results in Covid-19 treatment: PGI doctors”. Dalam penelitian tersebut, tim dokter India menyatakan studi mereka membuktikan pemberian vitamin D mungkin sekali bermanfaat sebagai bagian dari Covid-19. Namun, mereka juga menyampaikan pemberian vitamin D sebelum diagnosis tidak mempengaruhi hasil pengobatan pasien.

“Artinya, vitamin D yang dikonsumsi sebelum pasien terdiagnosis Covid-19 dibanding dengan yang tidak mengonsumsi ternyata sama saja hasilnya,” jelas Zubairi.

Penelitian juga memuat apabila dosis vitamin D terlalu banyak akan ditemukan keracunan sebagai efek samping. Meski pemberian tambahan vitamin D sebesar 10-25 mikrogram setiap hari dapat memproteksi pasien terhadap infeksi akut saluran pernapasan, menurutnya belum ada cukup bukti untuk mencegah Covid-19.

“Dari poin-poin tadi, saya memandang belum ada cukup bukti vitamin D mencegah seseorang terinfeksi Covid-19. Begitu juga untuk pengobatannya,” jelasnya.

Bahkan, Food Drug Administration (FDA) Amerika Serikat tidak mengeluarkan izin untuk vitamin D sebagai bagian dari pengobatan Covid-19. Zubairi menegaskan satu-satunya cara paling efektif untuk mencegah Covid-19 saat ini adalah dengan menerapkan protokol kesehatan. Saat ini, masih sulit mengetahui apakah vitamin D bisa mencegah dan mengobati Covid-19.

“Hasil beberapa penelitian belum konsisten. Asupan vitamin D tetap penting namun bukan dalam rangka mengobati Covid-19,” tuturnya. (*)

 

Editor: Yusva Alam

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.