Mau Sehat? Hindari 6 Jenis Minuman Populer Ini

Mau Sehat? Hindari 6 Jenis Minuman Populer Ini

Mau Sehat? Hindari 6 Jenis Minuman Populer Ini

Minuman berenergi salah satu jenis minuman populer yang perlu dihindari. (pexels.com/AndreaPiacquadio)

Akurasi.id – Saat haus, kadang kita merasa air putih saja tak cukup atau kurang puas. Beberapa pilihan minuman populer yang sekilas tampak sehat, seperti jus buah, diet soda, atau minuman lainnya yang berlabel “all natural” atau “rendah kalori dipilih karena rasanya yang segar. Namun, apakah minuman seperti ini sehat?

Dilansir dari idntimes.com, Senin (21/06/2021), dengan alasan kesehatan, ini beberapa minuman populer yang perlu dihindari.

  1. Jus buah kemasan

Jus buah itu, kan, dari buah, jadi bukannya ini adalah minuman sehat? Banyak orang yang yakin kalau jus buah mengandung banyak vitamin dan mineral. Namun, kandungan gula yang tinggi juga harus dipertimbangkan.

Dilansir Eat This Not That!, banyak jus buah kemasan yang dijual di pasaran bergantung pada konsentrat encer yang dicampur dengan air untuk membentuk minuman, dan mengandung gula sebanyak soda karena kandungan gula tambahan dan jumlah gula alami dari buah.

Menurut penjelasan di laman Mayo Clinic, anak-anak disarankan untuk membatasi asupan jus buah per harinya karena kandungan gulanya yang tinggi. Makan jeruk segar dengan air putih menawarkan lebih banyak nutrisi ketimbang jus jeruk kemasan walau ada bulir jeruk atau pulp-nya. Bila kamu ingin minum jus buah, apalagi dalam bentuk kemasan, pikirkan ulang dan baca kandungan gulanya di kemasan.

  1. Minuman berenergi

Banyak yang merasa lebih berenergi atau energi lebih cepat pulih setelah minum minuman berenergi. Akan tetapi, minuman mengombinasikan gula dan stimulan, yang mana ini bisa berdampak buruk bila sering dikonsumsi.

Mayo Clinic sendiri telah memperingatkan orang dewasa untuk menghindari minuman ini karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan menyebabkan lonjakan tekanan darah.

Kafein yang ada dalam minuman berenergi pun tidak memberi manfaat signifikan, bahkan punya potensi menyebabkan stres pada sistem saraf.

  1. Diet soda

Kamu mungkin tahu kalau minuman bersoda tinggi gula. Makanya, banyak yang memilih diet soda, karena menganggapnya lebih sehat apalagi melihat label kemasan yang menuliskan label rendah atau tanpa gula.

Walaupun beberapa ahli mengatakan bahwa jenis minuman bersoda ini tidak menyebabkan kanker atau membahayakan lewat kandungan pemanis buatannya, tetapi diet soda tak akan membantumu untuk mempertahankan diet sehat.

Para ahli telah menemukan bahwa seperti minuman manis lainnya, diet soda juga berpotensi menyebabkan obesitas dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, apalagi bila dikonsumsi terlalu banyak dan sering. Baiknya ganti minuman ini dengan air putih atau teh.

  1. Minuman olahraga

Minuman olahraga banyak dikonsumsi untuk menghidrasi dan memulihkan energi setelah berolahraga. Seperti halnya jus buah kemasan dan minuman berenergi, minuman olahraga juga mengandung banyak gula layaknya satu kaleng minuman bersoda, menjadikannya bukan pilihan tepat bila kamu sedang membatasi asupan karbohidrat.

Mengutip laman Harvard T.H. Chan School of Public Health, ada studi yang diikuti 4.100 perempuan dan 3.400 laki-laki selama 7 tahun sebagai bagian dari Growing Up Today Study II. Ditemukan bahwa semakin sering minuman olahraga dikonsumsi, semakin besar hubungannya dengan peningkatan indeks massa tubuh yang mengarah pada kelebihan berat badan atau obesitas, terutama pada anak atau remaja laki-laki.

Bukan berarti minuman olahraga lantas dijauhi. Mayo Clinic merekomendasikan beberapa jenis minuman olahraga ketimbang air putih, tetapi tidak semua minuman diciptakan sama. Sodium, gula, dan kalium punya peran penting dalam minuman ini. Pastikan untuk memilih minuman olahraga dengan kandungan yang tak lebih dari: 450 mg natrium, 30 gram gula, dan 225 mg kalium dalam botol 24 ons.

  1. Smoothie tinggi fruktosa

Smoothie memang bisa bermanfaat khususnya bila kamu ingin tambahan asupan nutrisi dalam pola makan sehari-hari. Meski demikian, tidak semua smoothie bisa membuatmu menjalani hidup yang lebih sehat.

Smoothie tinggi fruktosa mengandung lebih banyak gula daripada yang dibutuhkan karena banyaknya buah yang digunakan, yang mana ini bisa memberi tambahan gula yang tak perlu bila dibandingkan dengan smoothie yang berisi campuran buah dan sayur.

Smoothie tinggi fruktosa ini juga bisa menyebabkan kerusakan yang lebih banyak bila dikonsumsi untuk menggantikan makan besar, membuat asupan nutrisimu buruk dan tidak seimbang.

  1. Anggur merah

Sudah banyak penelitian yang membuktikan manfaat kesehatan anggur merah atau red wine. Akan tetapi, beralih ke minuman beralkohol untuk mendapatkan manfaat sehat bukanlah cara yang bijak, apalagi untuk kesehatan jangka panjang.

Penelitian telah menemukan hubungan antara konsumsi moderat red wine dan peningkatan kesehatan jantung. Namun, sebelum kamu buru-buru menuang red wine ke gelas, perlu diketahui bahwa kamu bisa mendapatkan manfaat yang sama dengan mengonsumsi buah anggur merah tanpa mendapat efek yang tak sehat dari alkohol, seperti mengembangkan masalah pada jantung atau peningkatan berat badan.

Sementara studi awal tampak menjanjikan, tapi perlu disadari apakah manfaat red wine lebih besar daripada risikonya untuk kesehatan? Sebaiknya pilih yang lebih aman. Mengganti red wine dengan buah anggur merah segar bisa membuatmu tetap mendapatkan asupan resveratrol yang menyehatkan tanpa efek tak diinginkan dari alkohol.

Itulah jenis minuman populer yang kerap dianggap sehat, tetapi sebaiknya kurangi, batasi, atau hindari konsumsinya. Minuman paling aman dan menyehatkan memang air putih, tapi kamu juga bisa menikmati minuman lainnya seperti teh dan kopi tanpa gula, air kelapa, dan masih banyak lagi. (*)

Editor: Yusva Alam

Yuk Ingat Lagi! Aturan Isolasi Mandiri Pasien COVID-19

Yuk Ingat Lagi! Aturan Isolasi Mandiri Pasien COVID-19

Yuk Ingat Lagi! Aturan Isolasi Mandiri Pasien COVID-19

Wabah covid-19 kembali meningkat. Mari ingat lagi aturan isolasi mandiri. (Pius Erlangga)

Akurasi.id – Kasus COVID-19 di Indonesia kini tengah meningkat pesat. Akibatnya, jumlah bed atau tempat tidur perawatan di rumah sakit tidak mampu menampung semua pasien.

Hal ini membuat sebagian pasien yang tidak bergejala memilih untuk melaksanakan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Tetapi, banyak yang masih khawatir dan bingung mengenai apa saja yang harus dilakukan selama isolasi.

Dilansir dari detik.com, Sabtu (19/06/2021), menurut Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), dr Erlang Samoedro, SpP (K), ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menjalani isolasi mandiri. Terutama tetap menggunakan masker.

“Kalau isolasi di rumah, kita harus jaga jarak dengan orang yang di rumah yang nggak sakit. Selalu menggunakan masker, kecuali kalau sedang di dalam kamar sendirian ya. Nggak kontak dengan keluarga yang tidak sakit di rumah,” kata dr Erlang saat dihubungi detikcom, Jumat (18/6/2021).

Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu dilakukan saat pasien COVID-19 menjalani isolasi mandiri di rumah seperti yang dikutip dari laman Kementerian Kesehatan. Berikut aturan isolasi mandiri yang harus dilakukan bagi pasien covid-19.

  1. Selalu memakai masker dan membuang masker bekas pakai di tempat yang ditentukan.

  2. Jika sakit (ada gejala demam, flu, dan batuk), maka tetap berada di rumah. Jangan pergi bekerja, sekolah, ke pasar, atau ke ruang publik untuk mencegah penularan masyarakat.



  3. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, dan jaga jarak dari anggota keluarga.

  4. Cek suhu gejala secara rutin, seperti mengecek suhu harian, batuk, dan sesak napas. Hindari juga pemakaian peralatan makan, alat mandi, dan tempat tidur dengan keluarga yang tidak sakit.

  5. Terapkan perilaku hidup sehat dan bersih, serta konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun, dan air yang mengalir serta lakukan etika batuk dan bersin.

  6. Jaga kebersihan dan kesehatan rumah dengan cairan desinfektan. Selalu berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi, kurang lebih selama 15-30 menit.

  7. Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit berlanjut, seperti sesak napas dan demam tinggi, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. (*)

Editor: Yusva Alam

Agar Maksimal, Ini Lama Waktu Terbaik untuk Berjemur

Agar Maksimal, Ini Lama Waktu Terbaik untuk Berjemur

 

Agar Maksimal, Ini Lama Waktu Terbaik untuk Berjemur

ilustrasi berjemur. (shutterstock)

Akurasi.id – Waktu terbaik untuk berjemur masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Pasalnya, memilih waktu berjemur yang tepat memang diperlukan agar sinar matahari justru tidak memberikan dampak buruk.

Menurut dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dr Adria Rusli, SpP(K), berjemur di pagi hari memang berdampak baik, beberapa di antaranya adalah untuk membunuh kuman dan memberikan vitamin D bagi tubuh.

“Berjemur itu kan sebenarnya, pertama mungkin bisa membunuh kuman-kuman yang ada di sekitar kita. Kedua membentuk pro vitamin E yang ada di tubuh kita menjadi vitamin D dengan bantuan sinar matahari,” jelas dr Adria, dilansir dari detik.com, Sabtu (19/06/2021)

Saat ingin berjemur, dr Adria menyarankan melakukannya di pagi hari antara pukul 07.00 atau 07.30 selama 30 menit hingga 1 jam saat matahari belum terlalu panas. Pasalnya, berjemur ketika matahari sudah panas berisiko merusak kulit dan membuat tubuh menjadi dehidrasi.

“Biasanya paling bagus itu setengah jam sampai satu jam. Dengan catatan jangan terlalu panas juga, nanti kulit kering, jadi dehidrasi, atau merusak kulit. Normalnya jam setengah tujuh, jam tujuh sampai setengah delapan cukuplah,” lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan oleh dokter spesialis kulit dan staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNPAD/RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr R. M. Rendy Ariezal Effendi, SpDV, yang mengatakan berjemur bisa membantu tubuh mendapatkan vitamin D yang baik bagi daya tahan tubuh, tetapi juga bisa berdampak buruk.

dr Rendy menjelaskan dampak buruk berjemur berisiko dialami apabila sinar matahari sudah terlalu panas, seperti saat sudah memasuki pukul 10.00 WIB yang bisa mempengaruhi kesehatan kulit. Ini berlaku terutama jika berjemur dilakukan tanpa menggunakan tabir surya terlebih dahulu.

“Kalau tujuannya untuk mendapatkan vitamin D, anjuran berjemur di atas jam 10 bisa saja dilakukan. Tapi dari sisi kesehatan kulit, ada risikonya. Risikonya antara lain bisa flek atau tanning kalau tanpa pelindung seperti sunblock,” ujar dr Rendy kepada detikcom.

“Selain itu, paparan sinar UVB yang terus menerus dan berlebihan tanpa proteksi dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari,” tambahnya. (*)

Editor: Yusva Alam

 

Pola Hidup Sehat untuk Pengidap Mioma Uteri

Pola Hidup Sehat untuk Pengidap Mioma Uteri

Pola Hidup Sehat untuk Pengidap Mioma Uteri

Memiliki pola hidup sehat penting dilakukan untuk mencegah maupun mengelola mioma uteri. (istimewa)

Akurasi.id –  Tahukah Sobat Akurasi, bahwa memiliki hidup sehat penting dilakukan untuk mencegah maupun mengelola mioma uteri? Beberapa di antaranya seperti menjalani pola diet yang tepat, menjaga tekanan darah tetap normal, membatasi alkohol, serta mencukupi nutrisi dalam tubuh. Ini penjelasan selengkapnya, ya!

Mioma uteri adalah pertumbuhan abnormal di dalam rahim. Mioma uteri tidak bersifat kanker atau mengancam jiwa, tapi terkadang bisa menyebabkan komplikasi dan masalah kesehatan. Mioma uteri terbentuk di dalam dan di sekitar dinding rahim.

Pertumbuhan abnormal terbuat dari otot dan jaringan lain. Tampilannya mungkin sekecil biji atau tumbuh lebih besar dari bola tenis. Seseorang mungkin juga memiliki beberapa mioma uteri atau hanya satu. Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan mioma uteri. Namun, memiliki pola hidup sehat penting dilakukan untuk mencegah maupun mengelola mioma uteri.

Mengelola Mioma Uteri dengan Pola Hidup Sehat

Hanya sekitar 20 hingga 50 persen wanita pengidap mioma uteri yang memiliki gejala. Pada kebanyakan kasus, pengobatan tidak diperlukan. Umumnya dokter merekomendasikan untuk menunggu dan memantau apakah mioma uteri hilang dengan sendirinya.

Meskipun makanan sehat tertentu belum tentu bisa mengobati atau mencegah mioma uteri, pola hidup sehat harian berperan dalam mengurangi risiko dan mengelolanya. Pola makan sehat dan makanan tertentu bisa meringankan gejala mioma uteri.

Dilansir dari halodoc.com, sabtu (19/06/2021), ada sejumlah polah hidup sehat yang perlu dijalani pengidap mioma uteri, di antaranya:

  1. Jalani Diet Mediterania

Konsumsi banyak sayuran hijau segar dan matang, buah segar, kacang polong, dan ikan. Diet mediterania adalah salah satu cara untuk mengelola mioma uteri. Mengonsumsi makanan tersebut secara teratur mampu menurunkan risiko mioma uteri. Di sisi lain, konsumsi daging sapi, domba, dan daging merah lainnya justru meningkatkan risiko.

  1. Batasi Konsumsi Alkohol

Minum alkohol jenis apapun bisa meningkatkan risiko mioma uteri. Hal ini bisa terjadi karena alkohol meningkatkan kadar hormon yang dibutuhkan mioma uteri untuk tumbuh. Alkohol juga bisa memicu peradangan.

  1. Seimbangkan Estrogen

Estrogen adalah hormon yang penting untuk kesuburan yang sehat pada wanita maupun pria. Namun, terlalu banyak estrogen bisa meningkatkan risiko fibroid atau memperburuknya. Banyak perawatan mioma uteri bekerja dengan menurunkan kadar estrogen, yaitu:

  • Menurunkan berat badan berlebih.
  • Menghindari bahan kimia yang mengganggu keseimbangan hormon, seperti pupuk, pestisida, plastik, pewarna, cat, dan beberapa produk perawatan tubuh.
  1. Seimbangkan Tekanan Darah

Penelitian menunjukkan bahwa sejumlah besar wanita dengan mioma uteri parah juga memiliki tekanan darah tinggi. Menyeimbangkan tekanan darah sangat penting untuk kesehatan secara keseluruhan. Kiat-kiat agar tekanan darah seimbang, di antaranya:

  • Kurangi kandungan garam.
  • Batasi makanan olahan dan kemasan yang tinggi sodium.
  • Periksa tekanan darah setiap hari.
  • Olahraga secara teratur.
  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok.
  • Temui dokter untuk pemeriksaan rutin.
  1. Cukupi Asupan Vitamin D

Vitamin D bisa mengurangi risiko mioma uteri hingga hampir 32 persen. Tubuh membuat vitamin D secara alami ketika kulit terkena sinar matahari. Jika kamu memiliki kulit yang lebih gelap atau tinggal di iklim yang lebih dingin, maka kamu cenderung kekurangan vitamin D.

Suplemen bisa membantu meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh, terutama jika dibarengi dengan makanan, seperti:

  • Kuning telur.
  • Susu yang diperkaya, keju, dan produk susu.
  • Sereal.
  • Jus jeruk.
  • Ikan berlemak seperti salmon dan tuna.
  • Minyak hati ikan kod.

Itulah yang perlu diketahui mengenai pola hidup sehat yang perlu dijalani pengidap mioma uteri. (*)

Editor: Yusva Alam

Ini yang Terjadi pada Tubuh Ketika Makan Kembang Kol

Ini yang Terjadi pada Tubuh Ketika Makan Kembang Kol

Ini yang Terjadi pada Tubuh Ketika Makan Kembang Kol

Walaupun kembang kol memiliki status nutrisi yang baik, tetapi tetap ada efek samping yang perlu diketahui dan diwaspada. (almanac.com)

Akurasi.id – Kembang kol adalah salah satu jenis sayuran yang populer karena kandungan nutrisinya dan dapat dengan mudah diolah menjadi berbagai makanan. Sayur ini bahkan bisa diolah jadi pengganti nasi, jadi pinggiran piza, dibuat sup, dan masih banyak lagi.

Walaupun kembang kol memiliki status nutrisi yang baik, tetapi tetap ada efek samping yang perlu diketahui dan diwaspadai. Umumnya kembang kol sangat baik untuk ditambahkan ke pola makan sehari-hari, tetapi ada detail yang perlu kamu tahu untuk mencegah efek yang berpotensi merugikan. Dilansir dari idntimes.com, Sabtu (19/06/2021), berikut ini adalah beberapa hal yang dialami tubuh ketika makan kembang kol.

  1. Tubuh kita mendapat asupan serat yang sehat

Satu cangkir kembang kol mengandung 2-3 gram serat. Tiga gram serat ini dapat memenuhi 10 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian serat (dengan rekomendasi 28 gram per harinya).

Serat punya peran penting dalam kesehatan tubuh secara keseluruhan, bahkan bisa membantu upaya kamu yang sedang menurunkan berat badan.

Tak cuma mendukung sistem pencernaan berjalan lancar, tetapi serat juga dibutuhkan untuk mengurangi inflamasi, menurut laporan dalam jurnal Acta Scientiarum Polonorum, Technologia Alimentaria tahun 2014.

Serat bahkan, berdasarkan studi dalam jurnal Advances in Nutrition tahun 2012, berkontribusi dalam menurunkan risiko kanker, diabetes, kondisi jantung, dan masih banyak lagi. Serat juga bisa membantumu merasa lebih kenyang (seperti protein), yang berarti ini dapat membantu mencegah kamu makan berlebihan.

  1. Tubuh lebih terhidrasi

Kembang kol terdiri dari 92 persen air. Ini berarti saat kamu memakannya, kamu tak cuma mendapatkan nutrisinya, tetapi juga cairan. Sebagai gambaran, untuk porsi 100 gram kembang kol kamu bisa mendapatkan 59 mililiter air, dilansir Healthline.

Konsumsi kembang kol dalam pola makan sehari-hari berarti tak cuma baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga membantu tubuh mencerna lebih baik karena kandungan airnya yang cukup banyak.

Tak cuma itu, kandungan air yang tinggi adalah aspek lain dari kembang kol yang ramah untuk penurunan berat badan. Faktanya, konsumsi banyak makanan padat air dan rendah kalori, seperti kembang kol, dikaitkan dengan penurunan berat badan, menurut studi dalam jurnal Nutrients tahun 2016.

  1. Hati-hati, kembang kol bisa memicu perut kembung

Kembang kol adalah jenis sayuran silangan atau cruciferous. Nutrisinya memang baik, tetapi jenis sayuran ini juga mengandung sumber karbohidrat yang struktur kimianya berantai pendek, yaitu fermentable oligosakarida, disakarida, monosakarida, serta poliol, alias FODMAP.

Jenis makanan tersebut akan berfermentasi di usus besar, yang tak cuma dapat menyebabkan perut kembung dan bergas, tetapi penelitian dalam Journal of Gastroenterology and Hepatolog tahun 2010 juga menghubungkan FODMAP dengan sindrom iritasi usus besar.

Untuk mencegah efek yang tak diinginkan, memasak kembang kol bisa membuatnya lebih mudah untuk dicerna. Proses pemasakan memecah beberapa karbohidrat tersebut, sehingga usus bisa memindahkannya dengan lebih mudah dan menyerap apa yang dibutuhkannya.

  1. Bisa berinteraksi dengan obat

Kembang kol kaya akan vitamin K, yang mana ini bisa berpotensi menimbulkan masalah bila kamu sedang dalam pengobatan tertentu, khususnya obat pengencer darah.

Dilansir University of Michigan Health, obat pengencer darah dapat berinteraksi dengan vitamin K, sehingga bila kamu sedang mengonsumsi obat-obatan ini akan sering diingatkan dokter untuk memantau asupan vitamin K.

Vitamin K membantu pembekuan darah, jadi penting untuk menjaga kadarnya tetap konsisten saat mengonsumsi pengencer darah sehingga darah tetap seimbang.

Mengutip Eat This Not That!, vitamin K dan obat pengencer darah sebenarnya adalah musuh, bekerja melawan satu sama lain. Bila kamu sedang menjalani pengobatan dengan pengencer darah, hati-hatilah dengan jumlah kembang kol yang kamu makan. Satu cangkir kembang kol mengandung sekitar 20 persen dari AKG vitamin K harian yang direkomendasikan, jadi perhatikan konsumsinya.

  1. Sumber baik antioksidan

Kembang kol adalah sumber antioksidan yang sangat baik, yang mana ini dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas berbahaya dan peradangan atau inflamasi.

Mirip sayuran cruciferous lainnya, kembang kol mengandung glukosinolat dan isothiocyanate yang tinggi, dua kelompok antioksidan yang telah terbukti dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker, dilansir Healthline.

Dalam penelitian tabung reaksi yang dipublikasikan di jurnal Pharmacological Research tahun 2007, glukosinolat dan isothiocyanate telah terbukti sangat protektif terhadap kanker usus besar, paru-paru, payudara, dan prostat.

Beberapa studi pun telah membuktikan bahwa kembang kol mengandung antioksidan karotenoid dan flavonoid, yang memiliki efek antikanker dan dapat mengurangi risiko beberapa penyakit lain, termasuk penyakit jantung.

Terlebih lagi, kembang kol mengandung vitamin C dalam jumlah tinggi, yang bertindak sebagai antioksidan. Vitamin C terkenal dengan efek antiinflamasinya yang dapat meningkatkan kesehatan kekebalan tubuh dan mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker.

Itulah beberapa hal yang dialami tubuh saat mengonsumsi kembang kol. Memang sayuran ini menyehatkan karena bernutrisi. Akan tetapi, kamu yang sensitif terhadap kandungan FODMAP dan sedang dalam terapi pengobatan dengan pengencer darah, baiknya konsultasi ke dokter mengenai pola makan yang tepat, sehat, dan aman.(*)

Editor: Yusva Alam

Gara-Gara Ronaldo, Kenali Bahaya Kebanyakan Minum Soda

Gara-Gara Ronaldo, Kenali Bahaya Kebanyakan Minum Soda

Gara-Gara Ronaldo, Kenali Bahaya Kebanyakan Minum Soda

Kita harus mengucapkan terima kasih kepada Ronaldo karena semakin tersadar bahayanya kebanyakan soda. (istockphoto/rapid eye)

Akurasi.id – Aksi Cristiano Ronaldo menuai kehebohan di media sosial. Saat konferensi pers jelang pertandingan Portugal vs Hungaria di Euro 2020, ia ‘menggocek’ botol Coca Cola sehingga tidak tampak di kamera. Sebagai gantinya, ia mengangkat botol air mineral sembari memberikan pesan kesehatan buat pendukungnya.

“Minumlah air, bukan Coke [Coca-cola],” ujar Ronaldo dikutip dari Doentes por Futebol.

Pemain berjuluk CR7 ini memang dikenal menerapkan diet sehat dengan memerangi gula, lemak, dan gorengan.

Tapi benarkah pesan Ronaldo itu? Apa bahaya kebanyakan minum soda berlebihan? Dilansir dari cnnindonesia.com, Kamis (17/06/2021) berikut bahaya kebanyakan minum soda.

1.Obesitas

Elemen yang membuat soda berbahaya adalah kandungan gulanya. Melina Jampolis, dokter spesialis gizi yang berbasis di California, mengatakan minum soda bisa menyumbang lebih banyak kalori yang masuk tubuh. Ini pun jadi kontributor penambahan berat badan hingga obesitas.

“Kalori yang dikonsumsi dalam bentuk cair tidak memuaskan rasa lapar seefektif kalori yang dikonsumsi dalam bentuk makanan padat, sehingga orang sering mengonsumsi lebih banyak kalori total, yang dapat mengakibatkan penambahan berat badan,” jelas Jampolis seperti dikutip dari CNN.

2.Meningkatkan risiko diabetes

Bicara soal kandungan gula, Anda tidak mungkin melupakan diabetes. Minuman berpemanis termasuk soda akan meningkatkan risiko diabetes.

Seperti dilansir dari Medical News Today, sebuah riset pada 2010 menemukan orang yang mengonsumsi satu atau lebih minuman manis setiap hari memiliki risiko 26 persen lebih tinggi terkena diabetes daripada yang tidak.

Saat konsumsi gula berlebih terus-menerus, sel-sel tubuh menjadi terbiasa dengan kelebihan gula dalam darah. Insulin tidak responsif dan penyerapan gula oleh tubuh tidak efektif. Tidak hanya diabetes, saat kadar gula dalam darah tinggi maka timbul inflamasi yang mengarah pada sejumlah penyakit seperti stroke, penyakit jantung juga kanker.

3.Memicu GERD

Minum soda juga berkaitan dengan penyakit gastro-esophageal reflux (GERD). GERD merupakan penyakit yang membuat cairan atau asam lambung naik hingga ke kerongkongan sehingga menimbulkan sensasi seperti terbakar. Minum soda akan meningkatkan frekuensi gejala kenaikan asam lambung pada orang dengan GERD.

4.Menimbulkan adiksi

Saat sudah terbiasa minum soda, rasanya ada yang kurang jika sehari saja Anda absen minum soda. Tanpa sadar, soda membuat Anda mengalami adiksi alias candu. Menurut Gary Wenk, direktur program sarjana ilmu saraf di Ohio State University, minuman soda sudah didesain sedemikian rupa sehingga membuat Anda candu. Kandungan pemanis, kafein dan karbonasi membuat Anda ingin minum lagi dan lagi.

Sebanyak 354 mililiter salah satu merek minuman soda mengandung 39 gram gula atau setara 10 sendok makan gula. Ini akan memicu kenaikan gula darah dengan cepat sekaligus pelepasan dopamin oleh otak. Namun efek dopamin tidak berlangsung lama sehingga Anda akan mencari si pemicu dopamin lagi. Artinya, Anda akan minum soda lagi untuk memperoleh efek yang sama.

“Semakin banyak soda yang Anda minum, semakin besar ‘reward’ dan dibarengi dengan hal-hal yang menyenangkan, kita mengembangkan afinitas dan menginginkan lebih banyak lagi,” kata ahli gizi Cordialis Msora-Kasago.

Msora-Kasago menambahkan meski Anda mengganti soda biasa dengan soda diet yang diklaim rendah gula, efek adiksi tetap saja ada.

5.Kerusakan gigi

Minum soda akan merusak kesehatan gigi. Gula pada soda akan berinteraksi dengan bakteri mulut lalu terbentuk asam. Baik soda biasa atau soda diet, keduanya sama-sama punya efek merusak. Satu tegukan soda akan memicu kerusakan gigi 20 menit kemudian.

Melansir dari Healthline, ada dua jenis kerusakan gigi yang dipicu soda yakni erosi gigi dan gigi berlubang. Erosi terjadi saat email gigi atau lapisan terluar gigi rusak.

Berawal dari erosi, kerusakan gigi akan semakin parah dengan kemunculan lubang (cavities). Setelah lapisan email gigi rusak, kemudian kerusakan terjadi pada lapisan dentin. Lubang akan berkembang saat minum soda dibarengi dengan kebersihan gigi yang buruk.

Sampai saat ini ada berbagai macam jenis minuman soda yang beredar di seluruh dunia. Beberapa contohnya adalah Coca Cola, Fanta, Sprite, Root Beer, Pepsi, dan lainnya. (*)

Editor: Yusva Alam

Bisa Dicoba, Madu Hitam Penyembuh Luka

Bisa Dicoba, Madu Hitam Penyembuh Luka

Bisa Dicoba, Madu Hitam Penyembuh Luka

Madu Hitam mampu memperkuat imun tubuh sehingga percepat penyembuhan luka.
(ilustrasi/Pexels/valeria boltneva)

Akurasi.id – Madu hitam merupakan jenis madu yang didapat dari lebah yang menyerap sari bunga mahoni sehingga memiliki warna cokelat tua dan rasanya agak pahit. Warna dan rasa tersebut dipengaruhi oleh senyawa alkaloid dari pohon mahoni.

Madu hitam juga mengandung beberapa zat lainnya seperti saponin dan flavonoid yang baik untuk kesehatan. Salah satunya ialah menjaga sistem imun tubuh dan madu hitam penyembuh luka.

Dilansir dari tempo.co, Kamis (17/06/2021), potensi madu hitam percepat penyembuhan luka yang terinfeksi bakteri Staphylococcus Aureus ini dikemukakan oleh Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Willy Sandhika. Menurut dia, madu hitam yang memiliki rasa pahit memiliki manfaat lebih banyak dari pada madu biasanya.

Efektifitas madu hitam dalam penyembuhan luka ini dibuktikan oleh Willy bersama rekan-rekannya lewat penelitian pada 24 ekor tikus putih galur wistar yang digunakan sebagai model percobaan yang dibuat luka sayat pada kulit punggung tikus dan dibagi menjadi 4 kelompok.

Pada percobaan yang dilakukan selama 5 hari itu terbukti pemberian madu hitam yang dioleskan pada luka infeksi selama 5 hari terbukti menurunkan derajat keradangan pada area luka yang diakibatkan oleh infeksi kuman Staphylococcus.

Ternyata madu hitam juga kaya akan kandungan flavonoid dan senyawa phenol terbukti memiliki efek anti inflamasi. Meningkatnya inflamasi karena infeksi kuman nantinya dapat memperlambat proses penyembuhan luka.

Namun karena madu hitam memiliki anti inflamasi, maka pemberian madu hitam pada luka tentu saja dapat menurunkan inflamasi sehingga penyembuhan luka bisa berlangsung lebih cepat. (*)

 

Editor: Yusva Alam

Daun Sirsak Obat Kanker, Ini Manfaat lainnya untuk Kesehatan

Daun Sirsak Obat Kanker, Ini Manfaat lainnya untuk Kesehatan

Daun Sirsak Obat Kanker, Ini Manfaat lainnya untuk Kesehatan

Rupanya tak hanya buah sirsak yang yang bermanfaat, daunnya pun baik untuk kesehatan. (komunika online)

Akurasi.id – Pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan dalam dunia pengobatan tradisional sudah sangat populer bagi kalangan masyarakat, salah satunya pemanfaatan daun sirsak sebagai kesehatan tubuh.

Daun yang bernama ilmiah Annona muricata disebut sebagai tanaman ajaib yang dapat menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit mulai dari penyakit yang ringan seperti sariawan. Selain itu, untuk penyakit berbahaya, daun sirsak juga obat kanker.

Hal tersebut dikarenakan banyaknya kandungan vitamin yang terdapat dalam daun sirsak seperti kandungan vitamin C yang sangat tinggi serta kandungan asam folat atau vitamin B9 yang sangat penting untuk tubuh mulai dari sintesis nukleotid ke remetilasi homosistein serta sangat penting untuk periode pembelahan dan pertumbuhan sel.

Selain itu, daun sirsak juga kaya akan senyawa mineral seperti kalium, magnesium, tembaga, dan zat besi yang membuat daun sirsak layak dikonsumsi khususnya bagi kesehatan tubuh dan termasuk sumber nutrisi yang ideal.

Dilansir dari Tempo.co, Kamis (17/06/2021), berikut ini beberapa jenis penyakit yang dapat disembuhkan dari ekstrak daun sirsak:

  1. Sebagai obat kanker

Salah satu manfaat dari daun sirsak ialah sebagai obat penyakit kanker yang sangat berbahaya bagi tubuh. Hal tersebut dikarenakan daun sirsak mengandung senyawa acetogenin yang dipercaya dapat mengobati penyakit kanker. Sebab di dalam senyawa acetogenin terdiri dari kumpulan senyawa aktif yang memiliki aktivitas sitotoksik di dalam tubuh dengan cara menghambat pertumbuhan sel kanker. untuk cara mengkonsumsinya, daun sirsak cukup direbus dengan air. Kemudian minum setiap hari agar dapat merasakan manfaatnya.

  1. Obat kolesterol

Meskipun kolesterol sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, baik untuk membentuk sel-sel sehat, menghasilkan vitamin D, serta memproduksi hormon, namun siapa sangka ternyata kolesterol juga sangat berbahaya jika kadarnya melebihi batas atau terlalu tinggi sehingga dapat menimbulkan penyakit stroke bahkan penyakit jantung. Akan tetapi untuk mengatasinya pemanfaatan daun sirsak dapat dilakukan sebab memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi sehingga dapat mencegah dan menurunkan kadar kolesterol.

  1. Obat asam urat

Penyakit asam urat merupakan penyakit yang menimbulkan rasa nyeri pada salah satu bagian tubuh seperti jempol kaki atau lain sebagainya, namun penggunaan obat herbal seperti daun sirsak dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Cukup dengan mengkonsumsi air rebusan dari daun sirsak secara rutin.

  1. Obat sariawan

Kandungan daun sirsak yang kaya akan vitamin dipercaya dapat menyembuhkan penyakitnya sariawan. Cukup dengan mengkonsumsi rebusan daun sirsak setiap harinya. (*)

Editor: Yusva Alam

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

Banyak orang masih salah kaprah saat mengonsumsi antibiotik. (Istockphoto/ Ayo888)

Akurasi.id, Bontang — Bagi sebagian orang, antibiotik adalah obat mujarab yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Banyak orang masih salah kaprah saat mengonsumsi antibiotik.

Padahal, penggunaan antibiotik harus ekstra hati-hati agar tak terjadi resistensi obat. Resistensi obat bisa menyebabkan penyakit semakin parah, bahkan sulit disembuhkan karena tak mempan dengan penggunaan antibiotik.

Maka dari itu, pemberian antibiotik tak bisa sembarangan dan harus sesuai dengan resep dokter. Minum antibiotik juga tak bisa sesuka hati.

Berikut beberapa kebiasaan salah minum antibiotik yang sebaiknya dihindari. Dilansir dari cnnindonesia.com, Rabu (16/06/2021)

  1. Tidak berkomunikasi dengan dokter

Banyak antibiotik yang bisa dengan mudah didapat di apotek tanpa resep dokter. Padahal, konsumsi antibiotik harus sesuai petunjuk dokter.

Antibiotik adalah obat yang ditujukan hanya untuk mengatasi atau mencegah infeksi penyakit akibat bakteri. Sementara penyakit bisa disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur.

Dibutuhkan perawatan medis dan diagnosis dokter untuk memastikan penyebab penyakit. Oleh sebab itu, antibiotik tak bisa diresepkan sendiri. Jika keliru, penyakit Anda mungkin tak bakal sembuh dan justru memburuk.

“Dalam penggunaan antibiotik ini perlu ada dengan resep dokter karena ini adalah wewenang seorang dokter,” kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi RSUD Dr. Soetomo, Erwin Astha Triyono dalam diskusi virtual bersama Pfizer, Kamis (10/6).

  1. Menyimpan sisa antibiotik

Biasanya antibiotik diresepkan untuk dikonsumsi selama 3-5 hari, bergantung pada keparahan dan jenis penyakit. Namun, terkadang seseorang sudah merasa sembuh dan sehat hanya dalam dua hari setelah minum antibiotik.

Alhasil, antibiotik tidak dihabiskan dan disimpan untuk ‘jaga-jaga’ kalau kembali terkena penyakit yang serupa.

Kebiasaan ini jelas salah karena antibiotik harus dihabiskan meski Anda sudah merasa lebih baik, atau bahkan sudah sembuh.

“Kalau dapat antibiotik dari dokter, maka dokter sudah ‘menghitung’ penyakit ini, dokter sudah meresepkan antibiotik dalam jumlah cukup sehingga bakterinya mati. Makanya harus diminum dalam jumlah tuntas, tidak boleh disimpan,” kata Medical Director Pfizer Indonesia, dokter Handoko Santoso.

  1. Mengobati sendiri

Handoko juga mengatakan, banyak orang Indonesia yang cenderung mengobati penyakitnya sendiri dengan antibiotik.

Terkadang, seseorang menyimpan nama merek antibiotik yang pernah diresepkan padanya ketika sakit berobat ke dokter. Kemudian, ketika sakit kembali dengan gejala serupa, ia mengonsumsi antibiotik yang sama dengan yang diresepkan.

“Jangan mengobati sendiri hanya karena gejala penyakitnya sama, terus pakai antibiotik yang sama. Kebiasaan seperti itu yang salah,” ucap Handoko.

  1. Minum antibiotik sembarang waktu

Obat antibiotik Anda mungkin diresepkan untuk diminum tiga kali sehari. Anda memang meminumnya tiga kali sehari, tapi tidak beraturan waktu. Kebiasaan keliru ini yang sering juga dijumpai di masyarakat.

Antibiotik idealnya diminum di waktu yang sama, tidak terlambat atau terlalu dini. Dokter biasanya meresepkan antibiotik diminum tiga kali sehari dengan selang waktu 6 jam.

Jika antibiotik diresepkan diminum setiap enam jam sekali, tiga kali sehari, maka atur jam minum obat Anda pada waktu yang sama setiap harinya. Misalnya minum pada pukul 9 pagi, 3 sore, dan pukul 9 malam. Ulang jadwal tersebut setiap harinya hingga antibiotik yang diresepkan habis.

Anda bisa memastikan pada dokter yang meresepkan antibiotik atau apoteker untuk memastikan selang waktu terbaik ketika minum obat.

  1. Diminum dengan susu

Ada beberapa antibiotik yang sebaiknya tidak diminum dengan susu. Kandungan dalam susu bisa jadi menghambat kerja antibiotik.

“Ada beberapa jenis antibiotik yang terhambat kerjanya kalau diminum dengan susu,” kata Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes, Imran Agus Nurali.

Imran mengatakan, beberapa makanan atau tindakan Anda bisa membantu kerja antibiotik agar maksimal. Misalnya, seperti minum antibiotik di saat perut kosong, atau di saat perut terisi. Minum langsung dengan air putih, atau dibuat bubuk dan dilarutkan.

Konsultasikan hal tersebut dengan dokter atau apoteker agar antibiotik bekerja optimal. (*)

Penulis/Editor: Yusva Alam

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Kepala LPB Eijkman Amin Soebandrio menyebut tak ada bedanya antara gejala virus corona varian delta dari India dengan varian sebelumnya. (iStockphoto/Ovidiu Dugulan)

Akurasi.id, Bontang –Virus corona varian delta dari India disebut-sebut memiliki beberapa gejala yang berbeda dengan varian lainnya. Beberapa gejala yang disebut sebagai gejala covid-19 akibat virus corona varian delta adalah gangguan pendengaran dan juga gangrene (pembekuan darah).

Bagaimana dengan Covid-19 varian delta yang sudah masuk ke Indonesia?

Kepala LPB Eijkman Amin Soebandrio mengatakan saat ini belum ada laporan mendasar terkait gejala gangguan pendengaran karena virus corona varian delta dari di Indonesia.

“Laporannya masih terbatas, jadi belum bisa diambil kesimpulan apakah terkait [gangguan pendengaran] atau tidak,” katanya.

Ia menyamakan temuan itu layaknya beberapa gejala klinis dari virus Corona yang dikabarkan menyerang syaraf pusat. Laporan tersebut juga belum dibuktikan secara ilmiah.

Amin mengungkapkan bahwa gejala virus corona varian delta dari India ini sulit dibedakan dari varian lainnya. Yang membedakan adalah gejalanya lebih berat atau lebih cepat meninggal.

“Tidak ada pembeda, yang membedakan mungkin nanti apakah [gejalanya] lebih berat atau lebih cepat meninggal,” ujar Amin dilansir dari CNNIndonesia.com, Rabu (16/6/2021).


“Tapi saat ini di Indonesia belum terlihat perbedaannya (varian delta dengan varian lainnya).”

Sebelumnya, mengutip berbagai sumber, para ilmuwan berpendapat varian delta tampaknya menyebabkan gejala yang sangat parah.

Beberapa gejala corona varian delta yang muncul berupa sakit perut, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan nyeri sendi. Namun beberapa gejala yang muncul dan terlihat di India, pasien corona varian delta mengalami masalah gangguan pendengaran, sampai gangrene. (*)

Penulis/Editor: yusva alam