Benar kah Viagra Bisa Cegah Alzheimer?

Benar kah Viagra Bisa Cegah Alzheimer?

Akurasi.id – Berbagai penelitian menemukan potensi viagra bisa cegah Alzheimer, bentuk demensia yang paling umum yang dapat menyebabkan penurunan memori dan kemampuan kognitif. Salah satunya adalah penelitian di Amerika Serikat yang diterbitkan baru-baru ini.

  1. Melibatkan 1.600 kandidat obat dan 7,23 data asuransi

Dipimpin oleh Cleveland Clinic, studi bertajuk “Endophenotype-based in silico network medicine discovery combined with insurance record data mining identifies sildenafil as a candidate drug for Alzheimer’s disease” yang dimuat dalam jurnal Nature Aging pada 6 Desember 2021 berfokus pada pengobatan untuk menghambat penyakit Alzheimer.

Selanjutnya, para peneliti menyaring lebih dari 1.600 obat yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan memiliki izin dari BPOM Amerika Serikat (FDA). Dari jumlah tersebut, para peneliti mendapatkan 66 obat yang berpotensi mengobati penyakit tersebut.

Dari hasil uji coba pada hewan dengan Alzheimer, sildenafil atau Viagra ditemukan paling menjanjikan. Setelahnya, para peneliti juga meneliti klaim asuransi obat dari 7,23 juta penduduk Amerika Serikat (AS). Terdapat potensi viagra bisa cegah Alzheimer.

“Ini adalah salah satu dari usaha-usaha kami yang mendorong pemakaian obat-obatan atau senyawa pengobatan lain yang berpotensi menjadi kandidat untuk uji klinis pengobatan penyakit Alzheimer,” ujar Jean Yuan, direktur program Translational Bioinformatics and Drug Development di bawah naungan National Institute on Aging (NIA) yang mendanai penelitian ini.

  1. Hasil: Viagra ampuh menurunkan risiko penyakit Alzheimer hingga 69 persen

Para peneliti AS menemukan bahwa mereka yang diresepkan “pil biru” memiliki risiko penyakit Alzheimer 69 persen lebih rendah. Hasil ini terlihat setelah para peneliti memantau partisipan selama 6 tahun dan tetap konsisten meski dipengaruhi oleh faktor risiko penyakit Alzheimer lainnya, seperti jenis kelamin, etnis, dan kondisi medis.

“Kami menemukan bahwa penggunaan sildenafil juga mengurangi risiko penyakit Alzheimer pada pasien penyakit arteri koroner, hipertensi, dan diabetes tipe 2, komorbiditas yang berhubungan erat dengan risiko penyakit tersebut,” kata pemimpin penelitian dari Cleveland Clinic, Feixiong Cheng, Ph.D.

Lalu, untuk membuktikan mekanisme sildenafil untuk penyakit Alzheimer, para peneliti menguji obat tersebut terhadap sel-sel saraf dari pasien. Ternyata, sildenafil memicu proyeksi saraf baru dan menurunkan akumulasi protein tau dalam sel.

  1. Masih sedikit obat untuk penyakit Alzheimer yang sudah memiliki izin edar

Penanda utama penyakit Alzheimer adalah pembentukan plak dari penumpukan protein bernama beta-amyloid dan tau. Oleh karena itu, memahami endofenotip dari penyakit Alzheimer dapat membuka wawasan mengenai mekanismenya dan membantu pembuatan obat yang sesuai.

Jumlah dan lokasi beta-amyloid dan tau pada otak dapat mencerminkan endofenotip Alzheimer. Akan tetapi, saat ini, belum ada obat anti-amyloid, anti-tau, atau obat Alzheimer yang mendapat izin FDA. Dalam satu dekade belakangan, berbagai uji klinis untuk obat tersebut gagal.

“Studi terbaru menunjukkan kombinasi amyloid dan tau adalah penyebab penyakit Alzheimer terbesar. Jadi, kami menduga bahwa obat yang menyasar endofenotip amyloid dan tau memiliki potensi keberhasilan terbesar,” ujar Feixiong lewat pernyataan resmi Cleveland Clinic.

  1. Belum bisa menjadi bukti kausalitas antara Viagra dan Alzheimer

Meskipun terdengar menjanjikan, tetapi para peneliti memperingatkan bahwa temuan studi tersebut bukan untuk menunjukkan kausalitas antara obat (terutama Viagra) dan risiko penyakit Alzheimer. Para peneliti menduga ada beberapa faktor lain yang bisa memengaruhi risiko penyakit Alzheimer dan penggunaan Viagra.

Selain itu, para peneliti mencatat bahwa data asuransi tidak mencakup informasi genetik. Tak diketahui apakah para pelanggan asuransi memiliki apolipoprotein E (APOE), protein yang meningkatkan risiko penyakit Alzheimer dan memengaruhi respons tubuh pasien terhadap pengobatannya.

Terakhir, obat sildenafil umumnya diresepkan untuk laki-laki. Oleh karena itu, studi ini belum bisa menentukan potensi manfaat sildenafil untuk perempuan dengan risiko Alzheimer.

  1. Namun, bisa menjadi bahan uji klinis untuk obat kondisi neurodegeneratif di masa mendatang

Meski begitu, setidaknya fondasi asosiasi antara penyakit Alzheimer dan Viagra sudah terbentuk. Dengan hasil yang menjanjikan ini, maka Feixiong menekankan kalau misi selanjutnya adalah untuk mengetes kausalitas dan manfaat obat terhadap penyakit Alzheimer.

“… Kami sekarang berencana untuk melakukan uji coba mekanistik dan uji klinis acak fase 2 untuk menguji kausalitas dan membuktikan manfaat klinis sildenafil untuk pasien Alzheimer,” kata Feixiong.

Para peneliti Cleveland Clinic juga tak ingin berhenti pada penyakit Alzheimer. Dengan hasil ini, Feixiong juga melihat bahwa pendekatan sildenafil dapat digunakan untuk mempercepat peramuan obat penyakit neurodegeneratif lain, seperti penyakit Parkinson hingga amyotrophic lateral sclerosis (ALS). (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

7 Cara Menghentikan Kebiasaan Ngiler saat Tidur

7 Cara Menghentikan Kebiasaan Ngiler saat Tidur

Akurasi.id – Mengiler saat tidur terjadi karena produksi air liur berlebih tanpa adanya penelanan air liur yang diproduksi. Bagi bayi atau anak-anak, mengiler adalah hal yang biasa. Namun, bagi orang dewasa yang mungkin sedang tertidur di suatu tempat atau tidur di tengah teman-teman atau orang lain, mengiler bisa jadi suatu hal yang memalukan. Karenanya kita perlu mengetahui cara menghentikan kebiasaan ngiler saat tidur ini.

Seringkali mengiler dihubungkan dengan kondisi kelelahan. Dilansir Medical News Today, ngiler dapat juga terjadi karena posisi tidur yang tidak tepat, sinus, hingga ganggaun medis serius seperti epiglotitis dan gangguan neurologi. Berikut ini enam cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan kebiasaan ngiler pada saat tidur.

  1. Mengubah posisi tidur

Posisi tidur yang tidak tepat menjadi penyebab yang paling umum seseorang mengiler. Gravitasi saat tidur berpengaruh pada air liur yang dihasilkan.

Saat kamu tidur dengan posisi tengkurap atau miring, maka mulut menjadi lebih susah menelan air liur yang dihasilkan saat tidur. Akibatnya, air liur berlebih yang dihasilkan merembes keluar dari mulut. Sebaiknya, tidurlah dengan posisi yang benar, nyaman, dan jangan terlalu miring.

  1. Pengobatan sinus atau hidung yang tersumbat

Infeksi sinus dan hidung tersumbat berpengaruh pada produksi air liur. Saat sinus, air liur yang diproduksi menjadi meningkat hingga semakin memungkinkan penderita menjadi ileran saat tidur.

Kondisi sinus dan hidung tersumbat juga menjadikan penderita kesulitan bernapas secara normal dan beralih ke pernapasan mulut. Akibatnya, mulut lebih sering terbuka dan air liur rawan mengalir. Pengobatan sinus dapat dilakukan sebagai solusi meminimalkan kemungkinan mengiler saat tidur.

  1. Suntik botoks

Suntik botoks dapat dilakukan pada seorang dengan air liur yang berlebih akibat gangguan neurologis. Suntik ini juga dapat diberikan pada seorang yang hipersalivasi. Dilansir Healthline, botoks akan disuntikkan pada kelenjar ludah dengan tujuan untuk melumpuhkan otot-otot hingga air liur tidak diproduksi dengan berlebihan.

Suntikan ini dapat bertahan selama 6 bulan dan dapat diulangi kembali jika memang masih diperlukan. Kelenjar juga bisa berfungsi kembali seperti semula jika suntikan dihentikan setelah 6 bulan.

  1. Pengobatan rumahan dengan lemon

Penggunan irisan lemon diperkirakan dapat menjaga keseimbangan air liur yang dihasilkan oleh mulut. Menurut American Dental Association, air liur berperan sebagi pencegah infeksi. Oleh karena itu, keberadaannya perlu dijaga, tapi juga tidak boleh diproduksi berlebihan.

Menggigit irisan lemon dapat membantu air liur bertekstur lebih encer. Akibatnya, air liur mudah tertelan dan tidak menggenang jika dibandingan dengan air liur yang lebih kental.

  1. Mesin CPAP

Gangguan tidur sleep apnea memiliki gejala sering mengiler saat tidur. Jika memang benar sering mengiler disebabkan sleep apnea, maka salah satu perawatn yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan mesin CPAP (Continuous Positive Airway Pressure).

Penggunaan mesin ini memungkinkan penderita sleep apnea tidur dengan nyenyak. Pasien dapat bernapas dengan benar saat tidur sehingga dapat meminimalkan risiko mengiler saat tidur.

  1. Minum obat-obatan

Pada beberapa kondisi air liur berlebih, dokter dapat meresepkan obat-obatan seperti skopolamin. Obat tempel ini berbentuk seperti koyo dan diletakkan di belakang telinga. Namun, obat ini juga memunculkan beberapa efek samping seperti gatal pada mata, mulut kering, peningkatan denyut jantung, dan pusing.

Jika obat yang diberikan berbeda, efek samping yang dimunculkan juga berlainan. Misalnya obat glikopirolat yang menyebabkan sulit buang air kecil dan mudah marah.

  1. Pembedahan

Prosedur pembedahan adalah upaya terakhir yang disarankan oleh dokter. Tindakan ini hanya dilakukan jika kondisi mengiler atau gejala yang dimunculkan lebih serius.

Pembedahan dilakukan untuk menghilangkan kelenjar penghasil air liur. Prosedur ini dilakukan saat penderita sudah mencoba beberapa upaya lain dan tak kunjung ada perubahan.

Itulah tujuh upaya yang dilakukan untuk mengatasi air liur berlebih dan sering mengiler saat tidur. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika ingin mencoba tindakan-tindakan di atas. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

 

6 Kebiasaan Sederhana yang Bertentangan dengan Medis

6 Kebiasaan Sederhana yang Bertentangan dengan Medis

Akurasi.id – Beberapa kebiasaan sederhana yang lumrah dilaksanakan banyak masyarakat Indonesia berikut ini ternyata bertentangan dengan medis, lho! Tambah wawasan, langsung saja simak ulasannya di bawah ini, ya!

  1. Minum kopi langsung setelah bangun tidur

Banyak orang menikmati secangkir kopi sesaat setelah bangun tidur. Namun, dalam penelitian yang tertulis pada laman ncbi.nlm.nih.gov, dijelaskan bahwa minum kopi terlalu cepat setelah bangun akan mengurangi efek energi yang ditimbulkan. Hal ini dikarenakan hormon kortisol berada pada tingkat puncaknya saat bangun tidur.

Kortisol adalah hormon yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan fokus. Selain itu, hormon ini juga mengatur metabolisme, respons sistem kekebalan tubuh, hingga tekanan darah. Berdasarkan penelitian yang termuat dalam laman ncbi.nlm.nih.gov, minum kopi saat kadar kortisol mencapai puncaknya dapat meningkatkan kadar hormon tersebut secara signifikan yang kemudian dapat merusak sistem kekebalan tubuh kita.

  1. Tidak menggunakan tabir surya di dalam ruangan

Kebanyakan orang hanya menggunakan tabir surya ketika cuaca sedang panas atau saat pergi ke pantai. Padahal, baik di rumah, di kantor, maupun di jalanan, kulit kita selalu terpapar oleh sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker ini dapat menembus masuk ke ruangan melalui jendela-jendela kaca.

Sinar ultraviolet terdiri atas sinar UVA dan sinar UVB. Sinar UVA berpengaruh pada munculnya risiko kanker kulit. Oleh karena itu, justru sebenarnya kita dianjurkan untuk mengoleskan tabir surya atau SPF terutama jika kamu duduk di dekat jendela atau di dalam ruangan yang terpapar banyak sinar matahari.

  1. Tidak memakan telur dan daging bila ada luka di tubuh 

Para tetua sering memberikan nasihat kepada orang-orang muda agar menghindari telur dan daging saat luka karena takut luka tidak kunjung kering. Nyatanya, anjuran ini sangat berkebalikan dengan fakta medis, lho!

Tubuh kamu malah membutuhkan banyak protein untuk membantu membangun dan memperbaiki otot, kulit, dan jaringan tubuh lainnya. Protein juga sangat membantu untuk melawan infeksi, menyeimbangkan cairan tubuh, dan membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kamu pun sangat dianjurkan makan lebih banyak protein untuk membantu mempercepat proses penyembuhkan luka.

  1. Bila merasa angin duduk, maka harus dipijat atau dikerok

Apabila seseorang menderita angin duduk, jangan langsung dipijat atau dikerok, ya, guys! Banyak laporan yang menunjukkan bahwa penderita penyakit tersebut yang justru akan meninggal ketika dipijat.

Hal yang tepat dilakukan untuk mengatasi gangguan ini adalah pemberian oksigen dan obat. Selain itu, penanganan masaah ini juga memerlukan tindakan diagnostik khusus. Kamu perlu lebih hati-hati dan waspada, ya, karena salah penanganan dapat berakibat sangat fatal!

  1. Memakai selimut ketika demam

Demam biasanya dikaitkan dengan kondisi suhu tubuh yang tidak nyaman dan menggigil seperti orang kedinginan. Namun, tergantung pada usia, kondisi fisik, dan penyebab demam, kamu mungkin memerlukan perawatan medis yang berbeda-beda terhadap setiap kondisi demam. Banyak ahli yang menjelaskan bahwa demam adalah pertahanan alami tubuh terhadap suatu infeksi.

Ketika mengalami demam, jangan tutupi tubuh dengan selimut. Memakai pakaian tebal atau selimut justru dapat menaikkan panas tubuh secara signifikan. Bahkan, efek peningkatan suhu, terutama pada anak-anak, berpotensi menyebabkan kejang-kejang, lho. Cara menurunkan demam yang tepat adalah dengan memperbanyak minum air putih, mandi air hangat, istirahat cukup, dan memakai pakaian ringan sebagai penutup tubuh.

  1. Sering kerokan ketika masuk angin 

Tanda merah di punggung setelah kerokan ternyata bukan pertanda angin yang keluar, lho. Garis-garis merah yang biasa muncul setelah kerokan itu merupakan pecahnya pembuluh kapiler darah yang berada di kulit.

Tidak mengherankan jika beberapa waktu setelah kerokan, gejala-gejala masuk angin masih akan terjadi. Meski sebenarnya kerokan tidak apa-apa untuk dilakukan, melakukannya dalam frekuensi yang terlalu sering tentu bisa menganggu beberapa fungsi kinerja di dalam tubuh yang malah merugikan kesehatan.

Itulah enam kebiasaan sederhana yang sering dilakukan masyarakat Indonesisa tapi ternyata bertentangan dengan medis. Kini wawasan kamu telah bertambah, lebih berhati-hati lagi, ya, dalam menangani berbagai gejala penyakit umum agar tidak malah berakibat fatal! Semoga bermanfaat! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

9 Penyakit Paling Misterius dalam Sejarah Medis

9 Penyakit Paling Misterius dalam Sejarah Medis

Akurasi.id – Berbagai penyakit datang dan pergi dalam sejarah manusia. Namun, ada juga yang tetap ada hingga saat ini dan masih membuat manusia bertanya-tanya. Inilah daftar penyakit paling misterius dalam sejarah medis. Penasaran? Baca terus sampai habis!

  1. AIDS

Diketahui dunia pada 1981 lalu, acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) disebabkan oleh human immunodeficiency syndrome (HIV). HIV diduga pertama kali diketahui sebagai simian immunodeficiency virus (SIV) yang menjangkit primata non-manusia lalu berpindah ke inang manusia.

Seperti namanya, HIV/AIDS melumpuhkan sistem imun manusia sehingga tubuh jadi rentan terkena infeksi oportunistis. Sementara belum bisa disembuhkan secara permanen, pengobatan antiretroviral (ARV) bisa menjaga beban virus (viral load) rendah, sehingga mencegah komplikasi untuk para pasien HIV/AIDS.

  1. Penyakit Alzheimer

Sebagai salah satu bentuk paling umum dari demensia, penyakit Alzheimer adalah gangguan neurodegeneratif. Gejala yang paling umum adalah menurunnya kemampuan mengingat atau pikun yang kemudian berakhir pada penurunan fungsi tubuh secara keseluruhan serta kematian.

Beberapa penelitian mengemukakan bahwa penyebab utama Alzheimer, dari penumpukan plak amiloid di otak, cedera otak, depresi, hingga faktor gaya hidup. Namun, hingga saat ini, penyebab pasti dari penyakit yang dikaitkan dengan usia lanjut ini masih tidak diketahui secara pasti.

  1. Batuk pilek

Batuk pilek atau selesma adalah penyakit yang paling umum ditemukan pada manusia. Seperti namanya, gejala utama penyakit ini adalah batuk dan pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan, malaise, dan demam. Bila imun sedang lemah, batuk pilek dapat menyebabkan komplikasi seperti pneumonia.

Tercatat lebih dari 200 virus penyebab selesma, termasuk coronavirusrhinovirus, hingga adenovirus. Selain tidak ada vaksinnya, batuk pilek juga sebenarnya tidak ada obatnya. Sementara menjaga jarak dari pasien yang menunjukkan gejala batuk pilek dan menjaga kebersihan bisa mencegahnya, tetapi berbagai pengobatan hanya bisa meredakan gejala yang mengganggu.

  1. Pika

Pica atau pika adalah sebuah gangguan makan yang membuat seseorang makan sesuatu yang tidak lumrah. Misalnya tanah liat, abu rokok, serpihan tembok, dan lain-lain. Sementara pika sering dikaitkan dengan gangguan psikologis lain, beberapa ahli mengaitkannya dengan malnutrisi hingga anemia.

Jika dibiarkan, pika bisa berbahaya karena mengonsumsi benda-benda yang tidak lazim sangat berisiko untuk pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan. Hingga kini, penyebab pasti seseorang mengalami pika belum diketahui secara pasti.

  1. Autoimun

Gangguan-gangguan tubuh seperti, artritis reumatoid, multiple sclerosis, hingga lupus dimasukkan ke dalam kelompok gangguan autoimun. Kondisi autoimun adalah saat sistem imun tubuh yang seharusnya melindungi tubuh malah menyerang balik sehingga menyebabkan berbagai komplikasi fatal.

Sementara bentuk autoimun ada berbagai macam, satu hal yang pasti: autoimun tidak disembuhkan secara komplet. Berbagai pengobatan yang ada hanya dapat meredakan gejala.

Selain itu, penyebab pasti kondisi autoimun juga tidak diketahui. Namun, berbagai faktor risiko seperti paparan kimiawi hingga genetik diketahui dapat meningkatkan risikonya.

  1. Skizofrenia

Selain pika, skizofrenia adalah salah satu gangguan psikis yang tidak dapat dijelaskan. Skizofrenia umumnya ditandai dengan ketidakmampuan membedakan kenyataan dan fantasi, isolasi sosial, hingga menurunnya fungsi sosial pasien secara signifikan.

Hingga saat ini, skizofrenia sama sekali tidak diketahui penyebab pastinya. Akan tetapi, kombinasi faktor lingkungan, gaya hidup, dan genetik bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkannya. Pengobatan skizofrenia adalah dengan gabungan terapi obat antipsikotik, konseling, dan rehabilitasi sosial.

  1. Penyakit Creutzfeldt-Jakob

Penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD) adalah gangguan neurodegeneratif langka yang tidak dapat disembuhkan. Pada sapi, penyakit ini disebut sebagai “sapi gila” atau bovine spongiform encephalopathy (BSE) dan berakibat fatal. Dari gangguan memori, pasien CJD dapat mengalami koma hingga kematian dalam waktu setahun saja.

CJD sendiri disebabkan oleh sejenis protein bernama prion. Sebagian besar kasus CJD tidak diketahui penyebabnya dan tidak ada obat yang spesifik mengobatinya. Masalahnya, CJD tidak dapat dicegah. Jadi, jika seseorang memiliki riwayat CJD, lebih baik segera berkonsultasi dengan ahlinya.

  1. Sindrom kelelahan kronis (CFS)

Sindrom kelelahan kronis atau chronic fatigue syndrome (CFS) masuk ke dalam daftar penyakit paling misterius. Gejala CFS yang paling umum adalah rasa lelah sepanjang waktu. Saking parahnya, sindrom ini dapat membuat pengidapnya mengalami malaise dan tak mampu bangun dari tempat tidur.

Penyebab CFS tidak diketahui dan diagnosisnya hanya dengan mengeliminasi berbagai kemungkinan lainnya. Beberapa faktor seperti psikis, kelemahan imun, hingga kanker dapat memengaruhi risiko CFS. Tak ada pengobatan pasti untuk mengobati kondisi ini, hanya berfokus pada mengurangi gejala.

  1. Penyakit Morgellons

Penyakit paling misterius terakhir adalah Morgellons. Nama tersebut dicetuskan pada 2002 oleh Mary Leitao yang menolak diagnosis delusi parasitosis (delusi bahwa seseorang terinfeksi parasit) pada anaknya. Morgellons ditandai dengan kondisi kulit yang mirip luka dan pasien berpikir kalau serat pada luka tersebut mengandung parasit.

Akhirnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melakukan riset terhadap Morgellons pada tahun 2012. Hasilnya, tak ada parasit dan dari sampel luka. Serat pada luka tersebut adalah kapas yang menempel.

Itulah sembilan penyakit paling misterius di dunia medis. Percaya atau tidak percaya, dunia masih mencari jawaban dari sebagian besar penyakit dalam daftar ini. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

Kenapa Minum Obat Flu Sebabkan Jantung Berdebar?

Kenapa Minum Obat Flu Sebabkan Jantung Berdebar?

Akurasi.id – Mungkin kamu pernah mengeluhkan gejala jantung berdebar setelah minum obat flu atau obat batuk. Keluhan ini dirasa tidak nyaman buat beberapa orang. Menurut keterangan di laman Badan POM RI (BPOM), obat flu pada umumnya mengandung dekongestan, antihistamin, dan analgesik-antipiretik. Beberapa perusahaan farmasi juga ada yang menambahkan antitusif atau ekspektoran untuk keluhan batuk. Keluhan jantung berdebar ini disebabkan oleh salah satu komponen obat yang terkandung pada obat flu.

Penasaran kenapa minum obat flu bisa menyebabkan jantung berdebar? Ketahui jawabannya dalam penjelasan berikut ini, ya!

  1. Kandungan obat flu

Dalam satu sediaan obat flu mengandung beberapa komponen obat. Pada umumnya, komposisi yang terkandung dalam obat flu yaitu dekongestan, antihistamin, dan analgesik-antipiretik.

Menurut keterangan di laman BPOM, dekongestan adalah obat yang berfungsi untuk mengurangi keluhan hidung tersumbat, sementara antihistamin fungsinya adalah untuk mengurangi keluhan bersin-bersin dan pilek. Sementara itu, kandungan analgesik-antipiretik digunakan sebagai agen antinyeri dan penurun demam.

Nah, dekongestan inilah yang bisa memicu keluhan jantung berdebar pada beberapa orang setelah minum obat flu.

  1. Dekongestan 

Dekongestan merupakan salah satu kandungan yang umum pada obat flu. Cara kerjanya adalah dengan mempersempit pembuluh darah sehingga saluran napas menjadi lega, mengutip Medical News Today. Namun, efek mempersempit pembuluh darah juga terjadi pada semua pembuluh darah di tubuh.

Penyempitan pembuluh darah mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan darah dan detak jantung. Inilah yang menyebabkan pada beberapa orang akan mengalami gejala jantung berdebar setelah menggunakan obat flu yang mengandung dekongestan.

Contoh dekongestan yang dijadikan kombinasi pada obat flu adalah pseudoefedrin, fenilefrin, fenilpropanolamin, dan lainnya.

  1. Efek samping dekongestan 

Dekongestan memiliki efek samping meningkatkan tekanan darah dan detak jantung. Namun, perlu diingat bahwa efek samping ini tidak selalu muncul pada setiap orang, tergantung kondisi masing-masing.

Secara umum, peningkatan tekanan darah yang terjadi sifatnya minimal pada orang dengan tekanan darah yang normal, seperti dilansir Harvard Health Publishing.

Karena efek samping inilah, orang-orang yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan penyakit jantung harus berhati-hati dan menghindari obat flu yang mengandung dekongestan.

Seperti dijelaskan di laman Pharmacy Times, pada sebuah penelitian metaanalisis, ditemukan bahwa pseudoefedrin meningkatkan tekanan darah sistol dan detak jantung. Peningkatan tekanan darah dan detak jantung ini berkorelasi dengan makin meningkatnya dosis dan dalam bentuk formulasi immediate release.

  1. Kontraindikasi dekongestan

Mengutip Medscape, pseudoefedrin kontraindikasi pada penderita hipertensi berat. Hal itu disebabkan adanya peningkatan tekanan darah saat menggunakan dekongestan, sehingga dikhawatirkan tekanan darah akan makin meningkat.

Selain itu, penggunaan pseudoefedrin pada penderita hipertensi ringan dan sedang juga harus hati-hati. Maka dari itu, penggunaan obat flu yang mengandung dekongestan pada penderita hipertensi dan penyakit jantung harus di bawah pengawasan dokter.

  1. Alternatif 

Apabila kamu merasa terganggu dengan keluhan jantung berdebar setelah menggunakan obat flu, maka kamu bisa menghindari obat flu yang mengandung dekongestan.

Untuk membantu mengurangi nyeri atau demam saat flu, kamu bisa menggunakan parasetamol, mengutip Mayo Clinic. Parasetamol juga dapat meringankan sakit kepala dan nyeri telan yang kadang juga menyertai flu.

Menurut Harvard Health Publishing, penggunaan CTM juga dapat membantu meringankan keluhan bersin-bersin dan hidung berair. Penggunaan semprot hidung dengan kandungan saline juga dapat menjadi alternatif untuk membantu meringankan hidung tersumbat dan mengencerkan lendir.

Penggunaan humidifier juga dapat membantu meringankan hidung tersumbat karena udara menjadi lembap, dilansir Pharmacy Times.

Jadi, keluhan jantung berdebar setelah minum obat flu disebabkan oleh kandungan dekongestan. Jika tekanan darahmu normal, maka keluhan ini umumnya bukan masalah yang serius.

Apabila kamu merasa tidak nyaman dengan keluhan tersebut, kamu bisa menghindari obat flu yang mengandung dekongestan. Namun, jika ada riwayat tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, maka penggunaan obat flu sebaiknya atas saran dokter. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com

 

 

 

7 Obat-obatan yang Perlu Disimpan di Rumah

7 Obat-obatan yang Perlu Disimpan di Rumah

Akurasi.idSakit bisa datang sewaktu-waktu. Oleh karena itu, setiap rumah perlu menyediakan obat-obatan sebagai pertolongan pertama. Diharapkan, dengan obat-obatan tersebut kita bisa sembuh sendiri tanpa perlu pergi ke dokter. Karenanya kita perlu tahu apa saja obat-obatan yang perlu disimpan di rumah.

Lantas, obat apa saja yang dimaksud dan mengapa kita perlu disimpan di rumah? Berikut ini jawabannya!

  1. Parasetamol

Memiliki nama lain asetaminofen, obat ini berguna untuk mengobati demam dan nyeri dalam skala ringan hingga sedang. Jika diberikan dalam dosis standar, parasetamol hanya sedikit menurunkan suhu tubuh, masih lebih ampuh ibuprofen.

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Cochrane Database of Systematic Reviews tahun 2016, parasetamol bisa meredakan nyeri pada migrain akut, tetapi kurang manjur untuk nyeri kepala tegang episodik.

Parasetamol bisa diminum dengan atau tanpa makanan. Menurut keterangan dari National Health Service (NHS), dosis wajar untuk orang dewasa adalah 1-2 tablet 500 mg hingga 4 kali dalam 24 jam. Overdosis parasetamol bisa menyebabkan kegagalan pada organ hati.

  1. Aspirin

Aspirin atau asam asetilsalisilat (ASA) merupakan obat untuk mengurangi rasa sakit, meredakan nyeri, peradangan, atau demam. Namun, bisa juga untuk mengobati penyakit Kawasaki dan perikarditis (peradangan pada selaput pembungkus jantung atau perikardium).

Dalam keadaan darurat, aspirin bisa membantu selama serangan jantung, menurut American Heart Association. Namun, perlu diingat bahwa aspirin tidak boleh diberikan kepada anak di bawah 18 tahun, mengutip Nationwide.

Aspirin perlu diminum bersama dengan makanan. Dilansir MedicineNet, dosis untuk nyeri ringan sampai sedang adalah 350-650 mg setiap 4 jam atau 500 mg setiap 6 jam. Namun, aspirin memiliki efek samping seperti sensasi perut seperti terbakar, kram, mual, hingga telinga berdenging.

  1. Antihistamin

Berlanjut ke antihistamin, ini adalah obat untuk mengatasi demam dan alergi. Biasanya, orang memakai antihistamin generik yang bisa dibeli tanpa resep untuk meredakan bersin, hidung tersumbat, atau gatal-gatal karena serbuk sari, tungau debu, dan alergi hewan.

Sementara, menurut NHS, antihistamin digunakan untuk konjungtivitis (peradangan pada konjungtiva) serta meredakan reaksi akibat gigitan atau sengatan serangga. Terkadang obat ini juga dipakai untuk mencegah mabuk perjalanan dan obat jangka pendek untuk insomnia (sulit tidur).

Salah satu obat antihistamin adalah azatadine. Mengutip Mayo Clinic, dosis untuk orang dewasa adalah 1-2 mg setiap 8-12 jam dan anak-anak berusia 12 tahun ke atas 0,5-1 mg maksimal 2 kali sehari. Untuk anak-anak di bawah 12 tahun perlu petunjuk dokter.

  1. Dekongestan

Dekongestan merupakan obat untuk meredakan hidung tersumbat serta meringankan gejala pilek, flu, demam, sinusitis, radang selaput lendir, dan reaksi alergi lainnya. Cara kerjanya adalah mengurangi pembengkakan pembuluh darah di hidung dan membantu membuka saluran udara.

Dekongestan tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, cairan atau sirop, tetes, semprotan hidung (nasal spray), hingga bubuk yang dilarutkan dalam air panas. Dekongestan umumnya bisa dibeli langsung di apotek tanpa resep dokter.

Setiap dekongestan mempunyai aturan pakai dan dosis berbeda-beda yang tertulis di kemasannya. Namun, biasanya jangan melebihi 4 kali sehari. Mengutip WebMD, dosis dibuat berdasarkan usia, kondisi medis, dan respons terhadap pengobatan.

  1. Salep antibiotik

Salep antibiotik (antibiotic ointment) dipakai untuk mengobati luka luar seperti sayatan, goresan, atau luka bakar. Fungsinya untuk mencegah dan mengobati infeksi kulit ringan.

Sebenarnya, infeksi kulit ringan atau luka luar bisa sembuh tanpa pengobatan. Namun, akan sembuh lebih cepat jika salep antibiotik dioleskan ke area luka. Antibiotiknya dapat memperlambat dan menghentikan pertumbuhan bakteri.

Cara pakainya mudah. Pertama, cucilah tangan terlebih dahulu. Bersihkan dan keringkan area luka, lalu oleskan tipis pada kulit 1-3 kali sehari atau sesuai petunjuk yang tertera di kemasan. Jauhkan produk ini dari mata, mulut, dan hidung!

  1. Antasida

Antasida merupakan obat untuk menetralkan asam di perut serta meredakan gangguan pencernaan dan heartburn. Biasanya, antasida berwujud cair atau tablet kunyah dan bisa dibeli di apotek tanpa resep dokter.

Menurut buku berjudul Antacids yang ditulis oleh Salisbury BH dan Terrell JM yang diterbitkan pada tahun 2020, antasida yang beredar di pasaran umumnya mengandung garam aluminium, magnesium, natrium, dan kalsium. Beberapa mengandung magnesium karbonat dan aluminium hidroksida.

Disarankan mengonsumsi antasida segera setelah makan. Efek obatnya dapat bertahan lebih lama jika diminum bersama makanan. Tidak dianjurkan minum obat lain dalam waktu 2-4 jam setelah mengonsumsi antasida.

  1. Obat tetes mata

Mata panas karena menatap layar komputer sepanjang hari? Atau perih karena terkena debu atau asap kendaraan di jalan? Selalu sediakan obat tetes mata di rumah!

Selain untuk iritasi, obat tetes mata terkadang diresepkan untuk infeksi virus atau bakteri dan kondisi lain seperti glaukoma. Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah meneteskan cairan tetes mata supaya tidak terkontaminasi.

Dosis obat tetes mata tergantung kondisinya. Dilansir Healthline, jika mata kita mengalami kekeringan parah, kita mungkin memerlukan lebih dari empat tetes per hari. Hentikan pemakaian jika mata kita kembali normal.

Nah, itulah beberapa obat-obatan yang harus selalu tersedia di rumah sebagai pertolongan pertama. Jangan lupa disiapkan demi kesehatan kita dan keluarga! (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Sumber: Idntimes.com