Bisa Dicoba, Madu Hitam Penyembuh Luka

Bisa Dicoba, Madu Hitam Penyembuh Luka

Bisa Dicoba, Madu Hitam Penyembuh Luka

Madu Hitam mampu memperkuat imun tubuh sehingga percepat penyembuhan luka.
(ilustrasi/Pexels/valeria boltneva)

Akurasi.id – Madu hitam merupakan jenis madu yang didapat dari lebah yang menyerap sari bunga mahoni sehingga memiliki warna cokelat tua dan rasanya agak pahit. Warna dan rasa tersebut dipengaruhi oleh senyawa alkaloid dari pohon mahoni.

Madu hitam juga mengandung beberapa zat lainnya seperti saponin dan flavonoid yang baik untuk kesehatan. Salah satunya ialah menjaga sistem imun tubuh dan madu hitam penyembuh luka.

Dilansir dari tempo.co, Kamis (17/06/2021), potensi madu hitam percepat penyembuhan luka yang terinfeksi bakteri Staphylococcus Aureus ini dikemukakan oleh Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Willy Sandhika. Menurut dia, madu hitam yang memiliki rasa pahit memiliki manfaat lebih banyak dari pada madu biasanya.

Efektifitas madu hitam dalam penyembuhan luka ini dibuktikan oleh Willy bersama rekan-rekannya lewat penelitian pada 24 ekor tikus putih galur wistar yang digunakan sebagai model percobaan yang dibuat luka sayat pada kulit punggung tikus dan dibagi menjadi 4 kelompok.

Pada percobaan yang dilakukan selama 5 hari itu terbukti pemberian madu hitam yang dioleskan pada luka infeksi selama 5 hari terbukti menurunkan derajat keradangan pada area luka yang diakibatkan oleh infeksi kuman Staphylococcus.

Ternyata madu hitam juga kaya akan kandungan flavonoid dan senyawa phenol terbukti memiliki efek anti inflamasi. Meningkatnya inflamasi karena infeksi kuman nantinya dapat memperlambat proses penyembuhan luka.

Namun karena madu hitam memiliki anti inflamasi, maka pemberian madu hitam pada luka tentu saja dapat menurunkan inflamasi sehingga penyembuhan luka bisa berlangsung lebih cepat. (*)

 

Editor: Yusva Alam

Daun Sirsak Obat Kanker, Ini Manfaat lainnya untuk Kesehatan

Daun Sirsak Obat Kanker, Ini Manfaat lainnya untuk Kesehatan

Daun Sirsak Obat Kanker, Ini Manfaat lainnya untuk Kesehatan

Rupanya tak hanya buah sirsak yang yang bermanfaat, daunnya pun baik untuk kesehatan. (komunika online)

Akurasi.id – Pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan dalam dunia pengobatan tradisional sudah sangat populer bagi kalangan masyarakat, salah satunya pemanfaatan daun sirsak sebagai kesehatan tubuh.

Daun yang bernama ilmiah Annona muricata disebut sebagai tanaman ajaib yang dapat menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit mulai dari penyakit yang ringan seperti sariawan. Selain itu, untuk penyakit berbahaya, daun sirsak juga obat kanker.

Hal tersebut dikarenakan banyaknya kandungan vitamin yang terdapat dalam daun sirsak seperti kandungan vitamin C yang sangat tinggi serta kandungan asam folat atau vitamin B9 yang sangat penting untuk tubuh mulai dari sintesis nukleotid ke remetilasi homosistein serta sangat penting untuk periode pembelahan dan pertumbuhan sel.

Selain itu, daun sirsak juga kaya akan senyawa mineral seperti kalium, magnesium, tembaga, dan zat besi yang membuat daun sirsak layak dikonsumsi khususnya bagi kesehatan tubuh dan termasuk sumber nutrisi yang ideal.

Dilansir dari Tempo.co, Kamis (17/06/2021), berikut ini beberapa jenis penyakit yang dapat disembuhkan dari ekstrak daun sirsak:

  1. Sebagai obat kanker

Salah satu manfaat dari daun sirsak ialah sebagai obat penyakit kanker yang sangat berbahaya bagi tubuh. Hal tersebut dikarenakan daun sirsak mengandung senyawa acetogenin yang dipercaya dapat mengobati penyakit kanker. Sebab di dalam senyawa acetogenin terdiri dari kumpulan senyawa aktif yang memiliki aktivitas sitotoksik di dalam tubuh dengan cara menghambat pertumbuhan sel kanker. untuk cara mengkonsumsinya, daun sirsak cukup direbus dengan air. Kemudian minum setiap hari agar dapat merasakan manfaatnya.

  1. Obat kolesterol

Meskipun kolesterol sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, baik untuk membentuk sel-sel sehat, menghasilkan vitamin D, serta memproduksi hormon, namun siapa sangka ternyata kolesterol juga sangat berbahaya jika kadarnya melebihi batas atau terlalu tinggi sehingga dapat menimbulkan penyakit stroke bahkan penyakit jantung. Akan tetapi untuk mengatasinya pemanfaatan daun sirsak dapat dilakukan sebab memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi sehingga dapat mencegah dan menurunkan kadar kolesterol.

  1. Obat asam urat

Penyakit asam urat merupakan penyakit yang menimbulkan rasa nyeri pada salah satu bagian tubuh seperti jempol kaki atau lain sebagainya, namun penggunaan obat herbal seperti daun sirsak dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Cukup dengan mengkonsumsi air rebusan dari daun sirsak secara rutin.

  1. Obat sariawan

Kandungan daun sirsak yang kaya akan vitamin dipercaya dapat menyembuhkan penyakitnya sariawan. Cukup dengan mengkonsumsi rebusan daun sirsak setiap harinya. (*)

Editor: Yusva Alam

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

5 Kebiasaan Salah Minum Antibiotik Dapat Berbahaya Bagi Tubuh

Banyak orang masih salah kaprah saat mengonsumsi antibiotik. (Istockphoto/ Ayo888)

Akurasi.id, Bontang — Bagi sebagian orang, antibiotik adalah obat mujarab yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Banyak orang masih salah kaprah saat mengonsumsi antibiotik.

Padahal, penggunaan antibiotik harus ekstra hati-hati agar tak terjadi resistensi obat. Resistensi obat bisa menyebabkan penyakit semakin parah, bahkan sulit disembuhkan karena tak mempan dengan penggunaan antibiotik.

Maka dari itu, pemberian antibiotik tak bisa sembarangan dan harus sesuai dengan resep dokter. Minum antibiotik juga tak bisa sesuka hati.

Berikut beberapa kebiasaan salah minum antibiotik yang sebaiknya dihindari. Dilansir dari cnnindonesia.com, Rabu (16/06/2021)

  1. Tidak berkomunikasi dengan dokter

Banyak antibiotik yang bisa dengan mudah didapat di apotek tanpa resep dokter. Padahal, konsumsi antibiotik harus sesuai petunjuk dokter.

Antibiotik adalah obat yang ditujukan hanya untuk mengatasi atau mencegah infeksi penyakit akibat bakteri. Sementara penyakit bisa disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur.

Dibutuhkan perawatan medis dan diagnosis dokter untuk memastikan penyebab penyakit. Oleh sebab itu, antibiotik tak bisa diresepkan sendiri. Jika keliru, penyakit Anda mungkin tak bakal sembuh dan justru memburuk.

“Dalam penggunaan antibiotik ini perlu ada dengan resep dokter karena ini adalah wewenang seorang dokter,” kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi RSUD Dr. Soetomo, Erwin Astha Triyono dalam diskusi virtual bersama Pfizer, Kamis (10/6).

  1. Menyimpan sisa antibiotik

Biasanya antibiotik diresepkan untuk dikonsumsi selama 3-5 hari, bergantung pada keparahan dan jenis penyakit. Namun, terkadang seseorang sudah merasa sembuh dan sehat hanya dalam dua hari setelah minum antibiotik.

Alhasil, antibiotik tidak dihabiskan dan disimpan untuk ‘jaga-jaga’ kalau kembali terkena penyakit yang serupa.

Kebiasaan ini jelas salah karena antibiotik harus dihabiskan meski Anda sudah merasa lebih baik, atau bahkan sudah sembuh.

“Kalau dapat antibiotik dari dokter, maka dokter sudah ‘menghitung’ penyakit ini, dokter sudah meresepkan antibiotik dalam jumlah cukup sehingga bakterinya mati. Makanya harus diminum dalam jumlah tuntas, tidak boleh disimpan,” kata Medical Director Pfizer Indonesia, dokter Handoko Santoso.

  1. Mengobati sendiri

Handoko juga mengatakan, banyak orang Indonesia yang cenderung mengobati penyakitnya sendiri dengan antibiotik.

Terkadang, seseorang menyimpan nama merek antibiotik yang pernah diresepkan padanya ketika sakit berobat ke dokter. Kemudian, ketika sakit kembali dengan gejala serupa, ia mengonsumsi antibiotik yang sama dengan yang diresepkan.

“Jangan mengobati sendiri hanya karena gejala penyakitnya sama, terus pakai antibiotik yang sama. Kebiasaan seperti itu yang salah,” ucap Handoko.

  1. Minum antibiotik sembarang waktu

Obat antibiotik Anda mungkin diresepkan untuk diminum tiga kali sehari. Anda memang meminumnya tiga kali sehari, tapi tidak beraturan waktu. Kebiasaan keliru ini yang sering juga dijumpai di masyarakat.

Antibiotik idealnya diminum di waktu yang sama, tidak terlambat atau terlalu dini. Dokter biasanya meresepkan antibiotik diminum tiga kali sehari dengan selang waktu 6 jam.

Jika antibiotik diresepkan diminum setiap enam jam sekali, tiga kali sehari, maka atur jam minum obat Anda pada waktu yang sama setiap harinya. Misalnya minum pada pukul 9 pagi, 3 sore, dan pukul 9 malam. Ulang jadwal tersebut setiap harinya hingga antibiotik yang diresepkan habis.

Anda bisa memastikan pada dokter yang meresepkan antibiotik atau apoteker untuk memastikan selang waktu terbaik ketika minum obat.

  1. Diminum dengan susu

Ada beberapa antibiotik yang sebaiknya tidak diminum dengan susu. Kandungan dalam susu bisa jadi menghambat kerja antibiotik.

“Ada beberapa jenis antibiotik yang terhambat kerjanya kalau diminum dengan susu,” kata Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes, Imran Agus Nurali.

Imran mengatakan, beberapa makanan atau tindakan Anda bisa membantu kerja antibiotik agar maksimal. Misalnya, seperti minum antibiotik di saat perut kosong, atau di saat perut terisi. Minum langsung dengan air putih, atau dibuat bubuk dan dilarutkan.

Konsultasikan hal tersebut dengan dokter atau apoteker agar antibiotik bekerja optimal. (*)

Penulis/Editor: Yusva Alam

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Virus Corona Delta Punya Gejala Sama

Kepala LPB Eijkman Amin Soebandrio menyebut tak ada bedanya antara gejala virus corona varian delta dari India dengan varian sebelumnya. (iStockphoto/Ovidiu Dugulan)

Akurasi.id, Bontang –Virus corona varian delta dari India disebut-sebut memiliki beberapa gejala yang berbeda dengan varian lainnya. Beberapa gejala yang disebut sebagai gejala covid-19 akibat virus corona varian delta adalah gangguan pendengaran dan juga gangrene (pembekuan darah).

Bagaimana dengan Covid-19 varian delta yang sudah masuk ke Indonesia?

Kepala LPB Eijkman Amin Soebandrio mengatakan saat ini belum ada laporan mendasar terkait gejala gangguan pendengaran karena virus corona varian delta dari di Indonesia.

“Laporannya masih terbatas, jadi belum bisa diambil kesimpulan apakah terkait [gangguan pendengaran] atau tidak,” katanya.

Ia menyamakan temuan itu layaknya beberapa gejala klinis dari virus Corona yang dikabarkan menyerang syaraf pusat. Laporan tersebut juga belum dibuktikan secara ilmiah.

Amin mengungkapkan bahwa gejala virus corona varian delta dari India ini sulit dibedakan dari varian lainnya. Yang membedakan adalah gejalanya lebih berat atau lebih cepat meninggal.

“Tidak ada pembeda, yang membedakan mungkin nanti apakah [gejalanya] lebih berat atau lebih cepat meninggal,” ujar Amin dilansir dari CNNIndonesia.com, Rabu (16/6/2021).


“Tapi saat ini di Indonesia belum terlihat perbedaannya (varian delta dengan varian lainnya).”

Sebelumnya, mengutip berbagai sumber, para ilmuwan berpendapat varian delta tampaknya menyebabkan gejala yang sangat parah.

Beberapa gejala corona varian delta yang muncul berupa sakit perut, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan nyeri sendi. Namun beberapa gejala yang muncul dan terlihat di India, pasien corona varian delta mengalami masalah gangguan pendengaran, sampai gangrene. (*)

Penulis/Editor: yusva alam

Waspada, 5 Penyakit 'Silent Killer' Mengintai Anda

Waspada, 5 Penyakit ‘Silent Killer’ Mengintai Anda

Waspada, 5 Penyakit 'Silent Killer' Mengintai Anda

‘Silent killer’ didefinisikan sebagai penyakit yang tak memicu gejala atau indikasi yang terlihat kentara. (iStockphoto/MIND_AND_I)

Akurasi.id, Bontang — Pada Senin (14/6) legenda bulutangkis Markis Kido meninggal saat bermain bulutangkis di Tangerang, Banten. Kematian mendadak seseorang kerap dikaitkan dengan silent killer disease atau penyakit yang membunuh dalam senyap.

Apa itu ‘silent killer‘? Dan penyakit apa saja yang termasuk ‘silent killer‘?

Dalam Collins Dictionary, ‘silent killer‘ diartikan sebagai penyakit yang tidak memiliki gejala atau indikasi yang terlihat kentara.

Tanpa Anda ketahui, ada penyakit-penyakit yang diam-diam siap menggerogoti tubuh tanpa menimbulkan gejala berarti. Jika tidak diwaspadai, penyakit-penyakit ini bisa menimbulkan situasi serius bahkan fatal.

Berikut beberapa penyakit termasuk ke dalam ‘silent killer’. Dilansir dari cnnindonesia.com, Rabu (16/06/2021)

  1. Hipertensi

Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi jadi faktor risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A Damay menyebut, hipertensi berisiko mengakibatkan serangan jantung, aorta diseksi, dan stroke pendarahan. Semuanya menyebabkan kematian mendadak.

Berdasar data Riskesdas 2018, sekitar 34 persen orang Indonesia memiliki hipertensi. Dari sekian banyak penderita hipertensi, 32 persen tidak rutin minum obat. Padahal, obat berfungsi mengontrol tekanan darah.

“Lebih dari 50 persen penderita tidak minum obat dengan alasan mereka merasa sehat. Hal ini membuat hipertensi menjadi pembunuh senyap atau silent killer,” ujar Vito pada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (15/6)

  1. Kanker Kulit

Kanker bisa menyerang semua organ tubuh, termasuk kulit. Kanker kulit timbul saat terjadi pertumbuhan sel kulit secara tidak normal. Kebanyakan kasus kanker kulit terjadi akibat paparan sinar matahari berlebihan.

Mengutip laman Mayo Clinic, ada empat tipe kanker kulit, yakni karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, melanoma, dan kanker kulit non-melanoma.

Dari beberapa tipe kanker kulit, melanoma memiliki gejala yang kerap tidak disadari. Dalam beberapa kasus, melanoma timbul berawal dari tahi lalat. Karena dianggap sebagai tahi lalat biasa, tidak ada tindak lanjut sehingga semakin lama membesar dan merusak jaringan sekitarnya.

  1. Diabetes

Setahun terakhir, diabetes mendapat sorotan berkaitan dengan Covid-19. Penyakit ini jadi salah satu penyakit komorbid yang bisa memperparah kondisi orang yang terinfeksi virus corona.

“Diabetes ini penyakit progresif dan kronis. Kesadarannya harus tetap dikumandangkan. Saat ini, penderita diabetes bukan makin sedikit, tapi makin banyak,” ujar ahli penyakit dalam, dr Sidartawan Soegondo, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, yang perlu diperhatikan, diabetes juga jadi pintu masuk untuk penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, stroke, neuropati, juga ketoasidosis diabetik yang bisa mengancam nyawa.

  1. Fatty liver disease

Fatty liver disease atau perlemakan hati berarti penumpukan lemak di organ hati. Dalam dunia medis, perlemakan hati juga dikenal sebagai hepatic steatosis.

Biasanya, orang yang mengonsumsi alkohol berlebih dalam jangka panjang berisiko mengalami perlemakan hati. Namun, tidak menutup kemungkinan perlemakan hati juga terjadi pada mereka yang tidak banyak mengonsumsi alkohol.

Dalam beberapa kasus, orang merasa aman dari perlemakan hati karena tidak banyak bersentuhan dengan alkohol. Mengutip dari WebMD, perlemakan hati pada nonkonsumen alkohol kemungkinan bisa terjadi akibat faktor genetik, yang disertai faktor-faktor lain seperti obesitas, kadar kolesterol tinggi, usia lanjut, sleep apnea, hipotiroidisme, malnutrisi dan penurunan berat badan secara drastis.

Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, perlemakan hati akan menimbulkan komplikasi antara lain penumpukan cairan pada abdomen, pembengkakan pembuluh darah esofagus yang bisa pecah, kanker hati, dan gagal hati (liver failure).

  1. Osteoporosis

Tubuh ditopang oleh susunan tulang yang terus-menerus rusak tetapi ada tulang-tulang baru yang siap menggantikan. Namun, jika seseorang mengalami osteoporosis, tulang rusak lebih cepat daripada proses perbaikannya. Tulang jadi kurang padat dan mudah keropos.

Mengutip dari Healthline, osteoporosis membuat tulang rentan retak dan patah. Tanpa penanganan serius, mobilitas pasien bisa sangat terbatas, rasa sakit, depresi yang kemudian menurunkan kualitas hidup.(*)

Penulis/Editor: Yusva Alam

Orang Bertubuh Tinggi Berisiko Kanker, Ini Faktanya

Orang Bertubuh Tinggi Berisiko Kanker, Ini Faktanya

Orang Bertubuh Tinggi Berisiko Kanker, Ini Faktanya

Orang Bertubuh Tinggi Lebih Rentan Berisiko Kanker? (Goran-Jakus/Shutterstock)

Akurasi.id, Bontang Tubuh yang tinggi tak selalu menguntungkan, termasuk dari sisi kesehatan. Menurut sebuah studi baru dari University of California Riverside, yang dilansir dari klikdokter.com, Selasa (15/06/2021), orang-orang bertubuh tinggi lebih mungkin terkena kanker.

Semua orang tahu bahwa tubuh tinggi memiliki keunggulan dibanding yang lebih pendek. Orang awam biasanya menganggap orang dengan tubuh tinggi memiliki nutrisi baik selama masa pertumbuhan. Namun, nyatanya tidak selalu begitu.

Bertubuh Tinggi Berisiko Kanker

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, peluang orang bertubuh tinggi terkena kanker ternyata cukup besar. Leonard Nunney, PhD, seorang peneliti di UC Riverside, meninjau empat studi populasi besar untuk melacak hubungan orang dengan tubuh tinggi dan risiko besar mengalami kanker. Nunney mengidentifikasi lebih dari 10.000 total kasus kanker.

Ketika melihat pengaruh tinggi badan seseorang, dia menemukan bahwa risiko kanker meningkat 10 persen untuk setiap orang yang memiliki tinggi sekitar 10 sentimeter (cm) di atas rata-rata. Rata-rata tinggi seseorang adalah 165 cm untuk wanita dan 179 cm untuk pria.

“Jika Anda membandingkan seseorang pria bertinggi 155 cm dengan pemain bola basket yang tingginya sekitar 200 cm, maka pemain basket itu memiliki risiko dua kali lebih besar terkena kanker,” kata dia kepada ABC Australia.

Dalam penelitian yang diterbitkan di Proceedings of the Royal Society B, Nunney menjelaskan bahwa salah satu alasan orang-orang bertubuh tinggi memiliki peningkatan risiko kanker adalah karena mereka memiliki lebih banyak sel di dalam tubuh. Semakin banyak pembelahan sel yang terjadi, menurut dia, semakin besar pula kemungkinan sel akan bermutasi dan mengarah ke pertumbuhan tumor.

Nunney menemukan bahwa korelasi antara tinggi badan dengan risiko kanker konsisten terjadi pada 18 dari 23 jenis kanker yang dia teliti. Dia juga menemukan bahwa risiko kanker kulit melanoma membawa hubungan kuat yang tak terduga dengan tinggi badan. Tak hanya itu, wanita yang lebih tinggi memiliki peningkatan risiko kanker tiroid.

Penelitian lain mengenai tubuh tinggi

Hubungan tinggi badan dengan risiko terkena kanker sudah pernah dilakukan penelitian lain. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2016 oleh Lancet Diabetes & Endocrinology, risiko kematian akibat kanker meningkat 4 persen untuk setiap 63 cm tinggi yang dimiliki seseorang dari tinggi rata-rata orang biasanya.

Memiliki tubuh tinggi mungkin menjadi penanda kelebihan gizi, bisa jadi karena mengonsumsi protein hewani berkalori tinggi terlalu banyak, baik sepanjang hidup atau sebelum kelahiran. Hal ini bisa mengaktifkan proses pertumbuhan yang membuat sel rentan terhadap mutasi.

Teori lain menyebutkan bahwa tinggi badan juga bisa menjadi indikator ukuran organ. “Semakin besar organ, semakin banyak sel yang berisiko mengalami transformasi ganas,” tulis Matthias Schulze dari German Institute of Human Nutrition kepada TIME.

Penelitian lain juga menemukan bahwa pria bertubuh tinggi yang dibarengi dengan obesitas memiliki risiko mengembangkan bentuk agresif kanker prostat. Sementara itu, wanita bertubuh tinggi lebih mungkin mengembangkan kanker melanoma, kanker payudaraovariumendometrium, dan usus besar.

Penelitian di atas tentu perlu pembuktian lebih lanjut. Akan tetapi, hal ini bisa menjadi rujukan bagi orang bertubuh tinggi yang lebih berisiko kanker, untuk lebih menjaga asupan makanan dan menjalani gaya hidup yang baik. Selain itu, imbangi juga dengan olahraga agar tubuh tetap terjaga metabolismenya. (*)

Penulis/editor: Yusva Alam

6 Pilihan Makanan untuk Kurangi Gejala Vertigo

6 Pilihan Makanan untuk Kurangi Gejala Vertigo

6 Pilihan Makanan untuk Kurangi Gejala Vertigo

Untuk mengurangi gejala vertigo ada 6 pilihan makanan yang bisa dicoba. (halodoc.com)

Akurasi.id, BontangVertigo adalah penyakit yang membuat pengidapnya merasa pusing seolah-olah bumi sedang berputar. Kondisi ini disebabkan oleh gangguan keseimbangan yang berpusat di daerah labirin atau rumah siput di daerah telinga. Pengidap vertigo juga akan mengalami mual dan muntah, serta tidak mampu berdiri atau sering terjatuh akibat masalah keseimbangan.

Vertigo tergolong sebagai penyakit yang parah karena seringkali datang tiba-tiba. Orang usia produktif berisiko mengidap penyakit ini jika tidak menerapkan pola hidup sehat. Untuk mengurangi gejala yang timbul akibat vertigo, inilah beberapa pilihan makanan untuk kurangi gejala vertigo.

Pilihan Makanan untuk Pengidap Vertigo

Pengidap vertigo sangat dianjurkan untuk membatasi asupan gula dan garam yang berlebihan. Selain itu, makanan yang kaya vitamin B, C, seng, potasium, dan antioksidan juga baik untuk mengurangi gejala vertigo. Nah, berikut pilihan makanan yang bisa dicoba untuk pengidap vertigo:

  1. Alpukat

Buah alpukat mengandung banyak vitamin B6. Makanan ini bisa dikonsumsi dalam bentuk jus atau dicampur dengan hidangan seperti salad, mi, atau dikonsumsi secara langsung.

  1. Bayam

Dari kelompok sayuran, makanan untuk pengidap vertigo yang baik untuk dikonsumsi salah satunya adalah bayam. Sayuran yang satu ini mengandung vitamin B6 yang mampu membantu mengobati penyakit pusing.

  1. Ikan Air Tawar

Makanan untuk pengidap vertigo selanjutnya adalah ikan air tawar. Perlu diketahui, jika pengidap vertigo dilarang mengonsumsi daging. Asupan protein bisa diperoleh dengan mengonsumsi ikan air tawar, sebab makanan ini tidak banyak mengandung garam dan dianggap bisa mengurangi gejala pusing akibat vertigo.

  1. Manggis

Buah manggis mengandung vitamin A, B6, B12, dan C yang baik untuk menunjang asupan gizi para pengidap vertigo. Manfaat makanan ini bukan hanya berasal dari buahnya, tetapi juga dari kulitnya. Sebab, kulit buah manggis mengandung zat xanthone, yakni antioksidan yang berfungsi sebagai obat analgesik, sehingga mampu mengatasi vertigo.

  1. Pisang

Pengidap vertigo juga disarankan untuk mengonsumsi pisang. Buah yang satu ini dianggap bisa menjadi makanan untuk pengidap vertigo karena mampu menambah energi dan mengembalikan sistem kekebalan tubuh.

  1. Selai Kacang

Kacang olahan seperti selai kacang memiliki kandungan vitamin B6. Makanan ini dipercaya bisa meningkatkan metabolisme, menangkal radikal bebas, dan mengurangi gejala pusing akibat vertigo. Kamu bisa mengonsumsinya secara rutin, setidaknya satu sendok per hari.

Selain mengonsumsi berbagai makanan tersebut, kamu juga perlu mencukupi kebutuhan air dengan memperbanyak konsumsi air putih untuk menghindari dehidrasi. Kondisi dehidrasi bisa membuat seseorang mengalami sakit kepala hingga vertigo.

Meski begitu, kamu tidak dianjurkan untuk mengonsumsi air mineral terlalu banyak dalam waktu cepat. Hal ini bisa memberikan beban bagi perut dan memperparah rasa mual yang dirasakan. Bagilah waktu minum air putih menjadi 2 gelas di pagi hari, 2 gelas di waktu siang, 2 gelas di sore hari, dan 2 gelasnya lagi di malam hari.

Itulah makanan untuk pengidap vertigo yang baik untuk dikonsumsi. Sebaliknya, pengidap vertigo tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang terlalu asin, terlalu manis, kacang-kacangan, biji-bijian, serta daging dan keju. (*)

Penulis/Editor: Yusva Alam

Sulit Tidur Karena Asma, Ini Cara Mengatasinya

Sulit Tidur Karena Asma, Ini Cara Mengatasinya

Sulit Tidur Karena Asma, Ini Cara Mengatasinya

Asma yang kambuh pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur. (sehatq.com)

Akurasi.id, Bontang – Asma kambuh pada malam hari dapat menyebabkan sulit tidur. Padahal untuk sembuh dibutuhkan waktu tidur dan istirahat yang cukup. Batuk asma pada malam hari atau asma nokturnal memiliki gejala, seperti sesak dada, sesak napas, batuk, dan mengi yang dapat memengaruhi kualitas hidup di siang hari.

Sulit tidur karena asma bisa jadi masalah yang serius. Ketika Anda kurang tidur, tubuh bisa kelelahan di siang hari. Pada anak-anak, kondisi ini akan menyebabkan kesulitan belajar, berkurangnya rentang perhatian atau konsenstrasi, dan perubahan suasana hati. Sedangkan pada orang dewasa hal ini menyebabkan penurunan kinerja dan risiko kecelakaan.Menurut National Sleep Foundation, orang yang menderita asma nokturnal cenderung memiliki asma yang lebih parah. Semakin parah asma, maka semakin tinggi risiko kematian.

Penyebab asma kambuh pada malam hari

Belum dapat dipastikan penyebab asma kambuh pada malam hari, namun faktor-faktor berikut diperkirakan berkontribusi besar, yaitu:

  • Posisi berbaring saat tidur
  • Peningkatan produksi lendir
  • Peningkatan drainase dari sinus atau sinusitis. Selama tidur, saluran pernapasan cenderung menyempit, bahkan menyebabkan peningkatan resistensi aliran udara. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan drainase dari sinus. Akhirnya hal ini memicu asma pada orang yang memiliki saluran pernapasan yang sensitif.
  • Penurunan kadar hormon epinefrin yang membantu rileks dan memperlebar saluran pernapasan
  • Tingginya hormon histamin, yaitu senyawa dalam sistem kekebalan tubuh yang dapat memicu reaksi alergi
  • Respons yang tertunda dari paparan alergen pada siang hari.
  • Paparan alergen seperti tungau debu di kasur pada malam hari
  • GERD. Jika Anda sering merasa mual, refluks asam lambung yang naik melalui esofagus ke laring dapat memicu kejang bronkial. Terkadang, asam lambung akan mengiritasi bagian bawah esofagus dan menyebabkan saluran pernapasan menyempit.
  • Stres psikologis yang memengaruhi kualitas tidur
  • Udara di kamar yang terlalu dingin karena suhu AC yang rendah. Suhu yang dingin dan hilangnya kelembapan udara juga jadi pemicu batuk asma di malam hari.
  • Obesitas dan kelebihan lemak

Cara mengatasi batuk asma pada malam hari

Seperti asma biasa, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan asma nokturnal. Kondisi ini adalah kondisi kronis yang harus dirawat jangka panjang. Salah satu perawatan yang terpenting adalah pengobatan steroid hirup yang dapat mengurangi peradangan dan gejala asma lainnya. Anda diharuskan menggunakan steroid hirup setiap hari jika Anda menderita asma di malam hari.Minum obat oral juga dapat membantu meringankan gejalanya. Bronkodilator kerja cepat juga dapat mengurangi batuk asma di malam hari.Cara lain untuk mengatasi asma nokturnal adalah dengan mengobati faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Berikut beberapa metode yang bisa Anda gunakan jika sulit tidur karena asma:

  1. Meminimalkan stres

Jika penyebabnya adalah stres, maka kelola stres dengan cara relaksasi, seperti yoga atau menulis jurnal. Jika Anda memiliki kondisi klinis, seperti gangguan kecemasan atau depresi, obat-obatan tertentu mungkin akan membantu.

  1. Obati GERD

Anda dapat mengurangi gejala GERD dengan menghindari makanan berlemak tinggi, mengurangi kafein, menghindari makanan pedas, dan makan di waktu yang sama setiap hari. Jika tidak membantu, hubungi dokter untuk pengobatan.

  1. Menjaga berat badan

Obesitas merupakan faktor risiko asma nokturnal dan GERD. Penting untuk Anda mengonsumsi makanan dengan nutrisi seimbang. Memulai rutinitas olahraga juga dapat dilakukan untuk mencapai berat badan optimal.

  1. Hindari alergen

Tungau debu di kasur dapat memperburuk gejala batuk asma di malam hari. Oleh karena itu, cuci selimut dan sprei secara berkala akan sangat membantu.

Penulis/Editor: Yusva Alam

Kenali CPR, Pertolongan Pertama yang Selamatkan Nyawa Eriksen

Kenali CPR, Pertolongan Pertama yang Selamatkan Nyawa Eriksen

Kenali CPR, Pertolongan Pertama yang Selamatkan Nyawa Eriksen

Ilustrasi CPR (Istockphoto/Getty Images/asiandelight)

Akurasi.id, Bontang – Kapten timnas Denmark Simon Kjaer dipuji atas kesigapannya melakukan pertolongan pertama CPR kepada kompatriotnya, Christian Eriksen, yang pingsan di tengah laga Finlandia vs Denmark di Euro 2020 (Euro 2021), Sabtu (12/6) malam waktu Indonesia.

Kjaer jadi orang pertama yang memeriksa keadaan Eriksen saat kolaps di tengah lapangan jelang babak pertama usai. Pemain AC Milan itu langsung menghampiri Eriksen untuk memberikan pertolongan pertama CPR agar tetap bisa bernapas dan sadar diri sampai bantuan medis datang.

Apa Itu CPR

Teknik CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) atau RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah tindakan pertolongan pertama yang dilakukan pada orang yang mengalami henti napas atau/dan jantung secara tiba-tiba akibat suatu hal, misalnya tenggelam atau serangan jantung.

CPR merupakan upaya pertolongan pertama untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah dalam tubuh sebelum menerima pertolongan medis.

Menurut Alodokter, aliran darah atau pernapasan yang terhenti secara tiba-toba bisa memicu kerusakan otak hingga dapat mengakibatkan seseorang meninggal dunia dalam hitungan 8-10 menit.

Dengan pemberian CPR, aliran darah yang mengandung oksigen akan tetap tersalurkan ke otak dan seluruh tubuh hingga orang tersebut mendapatkan bantuan medis lebih lanjut.

CPR bisa dilakukan setiap orang untuk menolong orang lain yang mengalami henti napas atau/dan jantung tiba-tiba. Namun, pertolongan CPR harus dengan teknik dan cara yang benar.

Melansir Redcross.org, beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mempraktikan CPR pada orang lain adalah pertama, periksa keamanan lokasi sekitar dan orang yang kolaps. Pastikan lingkungan tempat mempraktikan CPR aman.

Kedua, periksa tingkat kesadaran orang yang kolaps tersebut dengan menepuk wajah atau punggung orang tersebut dan menanyakan keadaannya dengan suara cukup lantang.

Jika ia merespons, upayakan agar korban tetap sadarkan diri sambil meminta bantuan medis. Namun, tetap periksa pernapasan, denyut nadi, dan tingkat responsnya.

Ketiga, evaluasi pernapasan. Pastikan korban masih bernapas secara normal dengan melihat apakah dadanya bergerak naik-turun.

Buka jalan napasnya dengan membuat orang tersebut berbaring terlentang di lantai, miringkan kepalanya sedikit ke belakang sampai dagu terangkat.

Selanjutnya, dekatkan telinga Anda ke mulut dan hidung korban untuk mendengar suara napas dan merasakan embusan napasnya di pipi Anda.

Keempat, periksa nadi. Pastikan jantung korban tetap berdetak dengan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya atau memeriksa denyut nadi di bagian sisi lehernya.

Sementara itu, teknik CPR sendiri dapat dilakukan semua orang yang sudah pernah berlatih. Teknik ini terbagi menjadi tiga tahapan yang dikenal dengan istilah C-A-B (compression, airways, and breathing).

Tahap Compression

Bila korban tidak sadarkan diri dan denyut jantungnya tidak terdeteksi, langkah awal CPR dapat dilakukan dengan tindakan menekan dada.

Baringkan tubuh korban di atas permukaan yang keras dan datar, lalu posisikan diri Anda berlutut di samping leher dan bahu korban.

Lalu, letakkan satu telapak tangan Anda di bagian tengah dada pasien, tepatnya di antara payudara. Posisikan telapak tangan Anda yang lain di atas tangan pertama.

Pastikan posisi siku Anda lurus dan bahu berada tepat di atas tangan Anda. Tekan dada korban setidaknya 100-120 kali per menit dengan kecepatan 1-2 tekanan per detik. Saat menekan, gunakan kekuatan tubuh bagian atas. Jangan hanya mengandalkan kekuatan lengan agar tekanan yang dihasilkan lebih kuat.

Setelah dicoba, periksa apakah terlihat tanda-tanda pasien bernapas atau menunjukkan respons. Jika belum, Anda bisa melanjutkan proses kompresi dada hingga tenaga medis datang atau mulai mencoba membuka jalur napas korban untuk memberikan napas buatan.

Tahap Airways

Tahap ini dilakukan setelah tindakan kompresi yakni membuka jalur napas korban. Posisikan korban terbaring terlentang di permukaan keras. Pastikan kepalanya mendongak sedikit ke atas sampai dagu terangkat.

Kemudian letakkan tangan Anda di dahinya. Angkat dagu pasien secara perlahan untuk membuka saluran napas.

Tahap Pemberian Napas (Breathing)

Setelah membuka jalur napas korban, Anda bisa mulai memberikan napas buatan. Pemberian napas buatan bisa dilakukan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung, terutama jika mulut terluka parah atau tidak bisa dibuka.

Jepit hidung korban, lalu tempatkan mulut Anda ke mulutnya. Berikan napas atau udara dari mulut Anda sebanyak 2 kali sambil melihat apakah bagian dadanya terangkat seperti orang bernapas atau belum.

Jika belum, coba perbaiki posisi lehernya atau periksa kembali apakah terdapat sumbatan pada jalan napasnya.

Lalu, ulangi proses kompresi dada sebanyak 30 kali yang diikuti oleh 2 kali pemberian napas buatan.

Penulis: Yusva Alam

Hati-Hati Telinga Berdenging Disertai Vertigo, Penyebab Meniere

Hati-Hati Telinga Berdenging Disertai Vertigo, Penyebab Meniere

Hati-Hati Telinga Berdenging Disertai Vertigo, Penyebab Meniere

Ilustrasi maniere. (halodoc.com)

Akurasi.id – Vertigo bisa muncul sebagai gejala penyakit tertentu, salah satunya penyakit meniere. Penyakit meniere terjadi karena ada kelainan pada telinga bagian dalam. Selain memicu pusing berputar alias vertigo, penyakit ini juga ditandai dengan gejala telinga berdenging atau tinnitus serta ada tekanan pada telinga.

Pada kondisi yang parah, penyakit ini bisa menyebabkan pengidapnya kehilangan kemampuan pendengaran atau kemampuan pendengaran yang hilang timbul. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa berujung pada kehilangan pendengaran atau tuli permanen. Meski bisa menyerang siapa saja, penyakit ini disebut rentan terjadi pada usia 20-50 tahun.

Vertigo dan Gejala Penyakit Meniere Lainnya 

Penyakit meniere adalah gangguan yang terjadi pada kesehatan telinga. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman dan ada sensasi tekanan pada telinga. Salah satu gejala dari penyakit ini adalah pusing berputar atau vertigo. Kondisi ini tidak boleh disepelekan, sebab merupakan penyakit serius yang bisa memicu komplikasi berbahaya, termasuk gangguan pendengaran.

Hingga saat ini, belum diketahui penyebab seseorang mengalami penyakit meniere. Namun, ada faktor yang dapat menyebabkan penyakit meniere seperti kelebihan cairan pada telinga dalam, gangguan sistem kekebalan tubuh, adanya infeksi virus yang menyerang bagian telinga, cedera kepala yang cukup serius, dan alergi.

Uniknya, penyakit meniere biasanya hanya menyerang satu telinga walaupun tidak menutup kemungkinan penyakit ini menyerang kedua telinga. Penyakit ini dapat menyebabkan seseorang kehilangan pendengaran jika tidak segera ditangani dengan baik. Sebaiknya kenali gejala-gejala yang diakibatkan oleh penyakit meniere.

  1. Telinga Berdenging

Telinga berdenging dikenal juga dengan istilah tinnitus. Telinga berdenging menjadi gejala penyakit meniere meskipun kamu berada di tempat yang sepi. Telinga berdenging yang disebabkan karena penyakit meniere berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Parahnya, gejala ini bisa menyebabkan gangguan pada pendengaran kamu untuk sementara. Untuk mengurangi gejala ini, sebaiknya hindari tempat keramaian untuk sementara waktu.

  1. Vertigo

Penyakit meniere juga dapat menyebabkan pengidapnya mengalami vertigo atau kondisi saat merasakan lingkungan berputar atau melayang. Vertigo yang disebabkan oleh penyakit meniere biasanya terasa dalam waktu yang cukup panjang. Batasi pengonsumsian garam untuk mengurangi volume cairan yang tersimpan dalam tubuh. Tidak hanya itu, kamu juga bisa mengurangi konsumsi alkohol, kafein, dan rokok untuk mencegah vertigo karena penyakit meniere.

  1. Hilangnya Pendengaran

Seseorang yang mengalami penyakit meniere dapat kehilangan pendengarannya untuk sementara waktu. Biasanya, pendengaran yang dirasakan oleh pengidap penyakit meniere akan hilang dan muncul sebelum akhirnya pengidap bisa kehilangan pendengaran secara permanen.

  1. Tekanan pada Telinga

Pengidap penyakit meniere dapat merasakan tekanan pada telinga. Biasanya, pengidap merasakan sensasi telinga yang terasa penuh. Hal ini bisa disebabkan karena cairan yang berlebihan dalam telinga.

Penulis: Yusva alam